MANAGED BY:
RABU
29 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KALTIM

Senin, 09 Desember 2013 09:00
Padang Luway Miliki Dua Tipe Habitat

PROKAL.CO,

SENDAWAR - Kawasan Cagar Alam Padang Luway memiliki luas sekitar 5 ribu hektare. Potensi kawasan secara umum memiliki dua tipe habitat alami, yakni hutan hujan tropis dataran rendah dan hutan kerangas.
Hutan hujan tropis dataran rendah adalah tipe habitat yang dominan di cagar alam ini. Sebagian besar luas kawasan Padang Luway terdiri dari tipe ini. “Sedangkan hutan kerangas terdapat dalam spot-spot dengan luasan yang relatif kecil dan hidup di areal berpasir putih,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Resort Kutai Barat Sumarsono.
Ia belum lama ini meninjau Cagar Alam Padang Luway bersama Tim Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Cagar Alam Padang Luway itu berada di Kampung Sekolaq Darat, Kecamatan Sekolaq Darat. Masyarakat setempat menamakan areal semacam ini kersik.
Ada tiga areal kersik di cagar alam ini. Yakni, kersik serai, kersik mencege, dan kersik luway. Di kawasan ini pula terdapat jenis tumbuhan (flora) yang mempunyai nilai konservasi dan keindahan tinggi. Yaitu anggrek hitam (coelogyne pandurata lindl). Selain itu, jenis anggrek lainnya. “Menurut Eksplorasi Kebun Raya Bogor pada 2012 mencatat keberadaan 47 jenis anggrek di cagar alam ini seperti, anggrek kantong semar, tebu, merpati, anyaman, bulu rindu, dan lainnya,” rincinya.
Sementara, fauna atau satwa yang hidup dan dilindungi di kawasan ini seperti, owa-owa, rusa/payau, kijang, kancil/planduk, burung rangkong/enggang, dan berbagai jenis burung madu, murai batu, kacer, dan lainnya. Pemanfaatan kawasan ini sesuai dengan UU nomor 41/1999 tentang Kehutanan, UU nomor 5/1990 tentang Konservasi dan PP nomor 28/2011.
“Kawasan Cagar Alam Padang Luway hanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan peningkatan konservasi, penyerapan karbon, serta pemanfaatan plasma nutfah untuk menunjang budi daya,” tegasnya.
Didinus, Kepala Resort Cagar Alam Padang Luway mengatakan, cagar alam ini secara administrasi terletak di tiga kecamatan yakni, Kampung Sekolaq Darat, Kecamatan Sekolaq Darat, Kampung Empas, Kecamatan Melak dan Kampung Kelay, Kecamatan Damai. Dari Samarinda, ibu kota Provinsi Kaltim, cagar alam ini berjarak sekitar 350 kilometer. Dapat dijangkau melalui darat, sungai, dan udara. ”Melalui jalur darat ditempuh waktu sekitar 7-10 jam, sungai dengan menggunakan kapal motor sekitar 17 jam, dan transportasi udara sekitar 45 menit,” jelasnya.
Sejarah pengelolaan cagar alam ini, pada awalnya memiliki luas sekitar 15 hektare. Atas usul residen bagian selatan dan timur Kalimantan, 27 September 1934, nomor 3397/L/E, kawasan ini pernah dijadikan monumen alam. Kemudian ditetapkan Sultan Kutai pada 11 Oktober 1934 sebagai cagar alam.
Alasan dijadikan kawasan ini sebagai monumen alam, karena menyimpan anggrek hitam yang sangat melimpah. Kemudian, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar alam pada 1957 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian (Mentan) nomor 110/Um/1957 tanggal 14 Juni 1957 dan SK penunjukan Gubernur Kaltim Nomor 85/T.H-Kehut/1967 tanggal 15 Juni 1967 dengan luasan sekitar 1000 hektare. Selanjutnya, ditetapkan melalui SK, Mentan Nomor 792/Kpts/Um/10/1982 tanggal 29 Oktober 1982 dengan luasan menjadi sekitar 5 ribu hektare.
Ditata batas tahun 1985 dengan total panjang batas sekitar 33,400 kilometer dengan realisasi panjang tata batas sekitar 33,400 kilometer, rekonstruksi tata batas dilakukan pada 2003.
Menurut Didinus, dasar penetapan sebagai cagar alam adalah karena di kawasan ini terdapat anggrek yang langka dan terkenal yakni anggrek hitam. Dalam melindungi dan melestarikan anggrek hitam beserta habitatnya, Cagar Alam Padang Luway sebagai kawasan konservasi yang dikelola oleh BKSD Kaltim di bawah naungan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan. (hms6/kri/k9)
 
loading...

BACA JUGA

Rabu, 29 Januari 2020 14:28

Bawa Kabur Pacar, Pemuda Dipidana

TENGGARONG–Karena nekat membawa kabur pacarnya yang masih di bawah umur,…

Rabu, 29 Januari 2020 14:27

Defisit Anggaran Jadi Pelajaran

Badai defisit APBD Kukar beberapa tahun terakhir menjadi pembelajaran berharga.…

Rabu, 29 Januari 2020 14:23

Bosan Menganggur, Bukannya Cari Kerja, Bapak Dua Anak Ini Malah Pakai Sabu

SANGATTA - Polres Kutim menciduk seorang bapak dua anak yang…

Rabu, 29 Januari 2020 14:01

PERTAMA DI KALTIM...!! Kutai Timur Akan Bangun Pabrik Rokok

SANGATTA - Maraknya peredaran rokok ilegal di Kutim setiap tahunnya,…

Rabu, 29 Januari 2020 12:37

Dapat Anggaran Rp 2,1 Miliar dari DAK, Puskesmas Kuaro Direnovasi

TANA PASER - Peningkatan fasilitas kesehatan pada 2020 ini menyasar…

Selasa, 28 Januari 2020 14:42

LOH KENAPA...?? Gaji Kepala Sekolah dan Pokja ULP Dipotong

TENGGARONG–Majelis Tim Tuntutan Pembendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP-TGR) mempersiapkan…

Selasa, 28 Januari 2020 14:41

Antisipasi dan Deteksi Hal Ini, Pertamina Perbarui Sistem Produksi

TENGGARONG–Guna mengantisipasi sekaligus deteksi terjadinya aksi pencurian migas melalui jaringan…

Selasa, 28 Januari 2020 14:14

Lahan Sudah Disegel, Pemkab Berkutat Kaji Data

SANGATTA - Seperti yang santer diberitakan sebelumnya, penyegelan lahan lima…

Selasa, 28 Januari 2020 13:11

Paser Dapat Berkah sebagai Penyangga IKN, Selebritas Lirik Investasi Hiburan

TANA PASER - Dampak penetapan Penajam Paser Utara sebagai ibu…

Senin, 27 Januari 2020 14:29

Traffic Light "Mabok", Merah, Kuning, Hijau Nyala Bersamaan

SANGATTA - Traffic light di persimpangan jalan APT Pranoto Sangatta…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers