MANAGED BY:
SABTU
18 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KALTIM

Senin, 09 Desember 2013 09:00
Padang Luway Miliki Dua Tipe Habitat
SENDAWAR - Kawasan Cagar Alam Padang Luway memiliki luas sekitar 5 ribu hektare. Potensi kawasan secara umum memiliki dua tipe habitat alami, yakni hutan hujan tropis dataran rendah dan hutan kerangas.
Hutan hujan tropis dataran rendah adalah tipe habitat yang dominan di cagar alam ini. Sebagian besar luas kawasan Padang Luway terdiri dari tipe ini. “Sedangkan hutan kerangas terdapat dalam spot-spot dengan luasan yang relatif kecil dan hidup di areal berpasir putih,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Resort Kutai Barat Sumarsono.
Ia belum lama ini meninjau Cagar Alam Padang Luway bersama Tim Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Cagar Alam Padang Luway itu berada di Kampung Sekolaq Darat, Kecamatan Sekolaq Darat. Masyarakat setempat menamakan areal semacam ini kersik.
Ada tiga areal kersik di cagar alam ini. Yakni, kersik serai, kersik mencege, dan kersik luway. Di kawasan ini pula terdapat jenis tumbuhan (flora) yang mempunyai nilai konservasi dan keindahan tinggi. Yaitu anggrek hitam (coelogyne pandurata lindl). Selain itu, jenis anggrek lainnya. “Menurut Eksplorasi Kebun Raya Bogor pada 2012 mencatat keberadaan 47 jenis anggrek di cagar alam ini seperti, anggrek kantong semar, tebu, merpati, anyaman, bulu rindu, dan lainnya,” rincinya.
Sementara, fauna atau satwa yang hidup dan dilindungi di kawasan ini seperti, owa-owa, rusa/payau, kijang, kancil/planduk, burung rangkong/enggang, dan berbagai jenis burung madu, murai batu, kacer, dan lainnya. Pemanfaatan kawasan ini sesuai dengan UU nomor 41/1999 tentang Kehutanan, UU nomor 5/1990 tentang Konservasi dan PP nomor 28/2011.
“Kawasan Cagar Alam Padang Luway hanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan peningkatan konservasi, penyerapan karbon, serta pemanfaatan plasma nutfah untuk menunjang budi daya,” tegasnya.
Didinus, Kepala Resort Cagar Alam Padang Luway mengatakan, cagar alam ini secara administrasi terletak di tiga kecamatan yakni, Kampung Sekolaq Darat, Kecamatan Sekolaq Darat, Kampung Empas, Kecamatan Melak dan Kampung Kelay, Kecamatan Damai. Dari Samarinda, ibu kota Provinsi Kaltim, cagar alam ini berjarak sekitar 350 kilometer. Dapat dijangkau melalui darat, sungai, dan udara. ”Melalui jalur darat ditempuh waktu sekitar 7-10 jam, sungai dengan menggunakan kapal motor sekitar 17 jam, dan transportasi udara sekitar 45 menit,” jelasnya.
Sejarah pengelolaan cagar alam ini, pada awalnya memiliki luas sekitar 15 hektare. Atas usul residen bagian selatan dan timur Kalimantan, 27 September 1934, nomor 3397/L/E, kawasan ini pernah dijadikan monumen alam. Kemudian ditetapkan Sultan Kutai pada 11 Oktober 1934 sebagai cagar alam.
Alasan dijadikan kawasan ini sebagai monumen alam, karena menyimpan anggrek hitam yang sangat melimpah. Kemudian, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar alam pada 1957 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian (Mentan) nomor 110/Um/1957 tanggal 14 Juni 1957 dan SK penunjukan Gubernur Kaltim Nomor 85/T.H-Kehut/1967 tanggal 15 Juni 1967 dengan luasan sekitar 1000 hektare. Selanjutnya, ditetapkan melalui SK, Mentan Nomor 792/Kpts/Um/10/1982 tanggal 29 Oktober 1982 dengan luasan menjadi sekitar 5 ribu hektare.
Ditata batas tahun 1985 dengan total panjang batas sekitar 33,400 kilometer dengan realisasi panjang tata batas sekitar 33,400 kilometer, rekonstruksi tata batas dilakukan pada 2003.
Menurut Didinus, dasar penetapan sebagai cagar alam adalah karena di kawasan ini terdapat anggrek yang langka dan terkenal yakni anggrek hitam. Dalam melindungi dan melestarikan anggrek hitam beserta habitatnya, Cagar Alam Padang Luway sebagai kawasan konservasi yang dikelola oleh BKSD Kaltim di bawah naungan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan. (hms6/kri/k9)
 

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 10:23

Vaksinasi di Paser Masih 22 Persen

TANA PASER – Sejak dimulai program vaksinasi awal tahun ini,…

Sabtu, 18 September 2021 10:22

Pengumpul Koin untuk APBD di Penajam Paser Utara Diteror

PENAJAM - Pengumpulan uang koin dari masyarakat yang dikoordinasi oleh…

Jumat, 17 September 2021 20:36

BNPT Berikan Vaksinasi Bagi Mitra Binaan dan Warga Samarinda

SAMARINDA -- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Dinas…

Jumat, 17 September 2021 19:19

Perusahaan Sawit di Tabang Terancam Dicabut HGU, Anggota DPRD Kukar Anggap Disbun Sangat Tegas

Prokal.co, enggarong - Dinas Perkebunan (Disbub) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)…

Jumat, 17 September 2021 10:43

Kata Bupati, Bandara Paser yang Sempat Mangkrak Itu Bakal Dilanjutkan Pembangunannya

TANA PASER - Angin segar berembus dari hasil kunjungan Bupati…

Jumat, 17 September 2021 10:40

Defisit Bukan Hanya PPU, Pengumpulan Koin Terus Bergerak di Masyarakat

PENAJAM - Fenomena defisit anggaran tidak hanya dialami Kabupaten Penajam…

Jumat, 17 September 2021 10:37

Wujudkan Digitalisasi Transaksi Keuangan Daerah, Bupati Tandatangani Kesepakatan Bersama BPD Kaltimtara

Dalam rangka mewujudkan digitalisasi transaksi keuangan daerah, Bupati Mahakam Ulu…

Jumat, 17 September 2021 10:35

Percepat Vaksinasi di 50 Kampung, Satgas Covid-19 Mahulu Jadwalkan Vaksin Jemput Bola

UJOH BILANG – Pemkab Mahakam Ulu (Mahulu) terus melaksanakan vaksinasi…

Jumat, 17 September 2021 10:12

Baru Difungsikan Plafon Puskesmas Berjatuhan

PENAJAM - Beberapa hari terakhir ini beredar video di tengah…

Jumat, 17 September 2021 10:08

PT Indexim Coalindo Serahkan Alat Kesehatan Kepada Satgas Covid-19 di Empat Kecamatan

SANGATTA - Dalam upaya mencegah penyebaran Covid 19 di Kutai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers