MANAGED BY:
SELASA
17 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

KOLOM PEMBACA

Jumat, 06 Mei 2022 16:57
Kesadaran Pasca-Ramadan

Oleh : Bambang Iswanto 

 

Seiring dengan masuknya 1 Syawal, Ramadan juga turut berlalu. Bagi sebagian orang, kepergian Ramadan merupakan sebuah kesedihan. Mereka adalah para perindu Ramadan. Kedatangan tamu agung yang sudah mereka elu-elukan jauh-jauh hari, saat tiba kedatangannya mereka lepas kerinduannya dengan daya upaya meraih kemuliaannya. Dan tidak terasa waktu perpisahan tiba-tiba datang.

Perasaan ini pasti dirasakan orang yang menikmati kemuliaan Ramadan. Ibarat orang yang masih saling merindu, kemudian bertemu, dan akhirnya harus berpisah, perpisahan tentu terasa menyedihkan. Tetapi mereka harus merelakan kepergian itu karena sunatullah perjalanan waktu.

Mereka juga menyadari bahwa setiap ada pertemuan harus ada perpisahan. Semakna dengan pepatah Arab yang artinya, “Jika engkau pernah merasakan nikmatnya bersatu maka bersiaplah merasakan pahitnya perpisahan.”

Setelah kepergian Ramadan, kaum muslim dan mukmin terbagi menjadi dua golongan yaitu ramadliyyun dan rabbaniyyun. Ramadliyyun adalah orang-orang yang hanya mencoba giat beribadah di bulan Ramadan. Setelah kepergian Ramadan tidak terlihat bekas-bekas gemblengan selama Ramadan. Yang dulunya rajin salat wajib bahkan sunah seperti Tarawih, kini mulai enggan melaksanakan yang sunah-sunahnya. Bahkan yang wajib pun kadang terabaikan.

Ketika Ramadan giat tadarus Al-Qur’an, sekarang sudah jarang terdengar lantunan ayat Al-Qur’an dari mulutnya. Al-Qur’an kembali ke tempat penyimpanan di rak atau lemari buku dan mulai berlapis debu. Yang dulu enggan berbuat dosa bahkan jujur dalam puasanya. Pasca-puasa sudah tidak merasa berat lagi berbohong atau melakukan perbuatan maksiat.

Demikian pula ibadah sosial seperti berderma yang ketika Ramadan gemar dilakukan, saat Ramadan pergi kembali menjadi orang yang sulit membantu kesulitan orang lain dengan harta dan perbuatannya, dan seterusnya.

Mereka hanya melakukannya pada saat Ramadan, seperti ”menghamba” kepada bulan Ramadan. Ramadan pergi, ibadah-ibadah ritual dan sosial juga menguap seperti perginya Ramadan.

Sedangkan kelompok ramadliyyun adalah mereka yang senantiasa menjaga konsistensi kepatuhan menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah sampai 11 bulan berikutnya setelah Ramadan. Ramadan dijadikan candradimuka penggemblengan pribadi takwa yang hasilnya akan terlihat justru setelahnya. Mereka inilah yang sudah berhasil mencapai derajat muttaqin sebagai tujuan utama puasa Ramadan.

Salah satu indikator keberhasilan mereka adalah munculnya kesadaran tentang hikmah penting yang mereka dapatkan di bulan Ramadan harus terus dijalankan secara istikamah pasca-Ramadan. Kesadaran-kesadaran yang dimaksud di antaranya, pertama, kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi seluruh gerak-gerik manusia.

Orang yang berpuasa tidak akan pernah berani melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Bisa saja ketika berwudu seseorang meneguk air tanpa ketahuan orang lain. Atau dia bisa bersembunyi untuk makan dan tidak diketahui orang lain. Belum 1 detik waktu berbuka, dia tetap menahan diri atau sudah datang waktu imsak untuk berpuasa tidak ia lebihkan meski sesaat pun. Karena orang yang berpuasa yakin bahwa meskipun ia tidak kelihatan manusia, ia pasti dilihat dan diawasi Allah. Kesadaran ini terus dibawa para rabbaniyyun setelah bulan puasa.

Bisa dibayangkan betapa makmurnya sebuah bangsa yang jika penduduknya telah terbangun kesadaran seperti ini. Tidak ada yang berani melakukan maksiat karena merasa selalu diawasi oleh Allah. Ketika harus bepergian tanpa diawasi pasangan suami atau istri, tidak akan berani berlaku maksiat karena merasa Allah yang melihat dan mengawasi.

Ketika bekerja tidak akan berani melakukan korupsi sepeser pun bukan karena takut terhadap polisi, jaksa, KPK, tetapi karena yakin bahwa Allah yakin mengawasi dan melihatnya. Tidak ada yang akan luput dari pengawasan Yang Maha Melihat dan Mengawasi, Allah.

Kedua, kesadaran bahwa ada kewajiban yang dilakukan sebelum mendapatkan hak. Puasa mewajibkan pelakunya untuk menjalani kewajiban menjaga hal-hal yang membatalkan dari fajar sampai terbenam matahari, barulah ia mendapatkan hak untuk berbuka. Ini pula yang terkandung dalam memaknai bagaimana etika hubungan hamba dengan Tuhannya. Hamba wajib menjalankan apa yang menjadi perintah dan menjauhi apa yang dilarang Allah, barulah ia berhak bermohon dan dikabulkan doanya.

Banyak hamba yang tidak sadar dan tidak tahu malu, berharap doanya dikabulkan tetapi panggilan Allah untuk menjalankan perintahnya tidak dijalankan dan terus melakukan apa yang dilarang. Tidak pandai melaksanakan kewajiban, tapi rajin menuntut hak.

Alangkah indahnya kehidupan masyarakat jika kesadaran ini diterapkan di masyarakat, anggotanya paham dan mengerti serta melaksanakan kewajibannya barulah berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya. Bukan garang menuntut hak padahal kewajiban sebagai abdi negara, sebagai atasan, sebagai pengusaha, sebagai karyawan, belum terpenuhi.

Ketiga, kesadaran bahwa kebersamaan itu indah dan penuh berkah. Ramadan sejatinya membangun kesadaran keindahan dan kekuatan berjamaah. Banyak hal yang sebenarnya berat dijalankan saat berpuasa jika dilakukan sendirian. Tetapi terasa ringan jika dilakukan secara berjamaah atau bersama-sama. Ini yang disebut dengan keberkahan dalam jamaah. Yang berat terasa ringan.

Puasa jika dilakukan secara individual lebih berat dibandingkan dilakukan secara berjamaah. Bangun sahur sendirian akan berbeda dengan sahur dan berpuasa bersama. Salat Tarawih pun demikian, dengan jumlah rakaat yang banyak akan terasa lebih ringan jika dilaksanakan secara berjamaah. Kiri dan kanan kita seperti saling menguatkan. Inilah kekuatan berjamaah.

Dalam konteks berbangsa, kesadaran ini juga harus diterapkan. Dengan kekuatan bersama dan persatuan, bangsa dan umat akan kuat. Sebaliknya sebesar apapun potensi sumber daya manusia yang dimiliki oleh bangsa dan umat, jika tidak bersatu, tak memiliki kekuatan dan mudah runtuh. Dalam titik yang kritis dapat mengakibatkan perpecahan antarumat yang bisa membinasakan sebuah bangsa.

Selamat jalan Ramadan, mudah-mudahan Allah jadikan kita insan rabbaniyyun dan muttaqin serta memiliki kesadaran hikmah Ramadan yang terus berjalan setelahnya. Amin. (dwi/k8)

 


BACA JUGA

Selasa, 17 Mei 2022 11:10

Majalah Dinding, Literasi Sederhana

Rusmini ASN SD Negeri 006 Samarinda Ulu    Kelas 1…

Selasa, 17 Mei 2022 11:09

Indonesia Menggambar: Deklarasi Hari Menggambar Nasional

Sriningsih Hutomo MEI menjadi bulan penuh warna dan guratan emosi…

Selasa, 17 Mei 2022 11:07

Menyorot Kinerja Keuangan Daerah, Serta Aplikasinya terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Ferdy Sukmadianto ASN Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kaltim     Kinerja…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Seleksi KOSN 2022 Bertahap

Haspul Anwar SD 003 Samarinda Utara   Kompetisi Olahraga Siswa…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Penjelasan Unknown Hepatitis yang Menyerang Anak

Ferry Fadzlul Rahman Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur…

Selasa, 10 Mei 2022 10:42

Menanti Gebrakan Tim Transisi

Oleh: Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan     ALHAMDULILLAH…

Senin, 09 Mei 2022 21:49

Rektor ITK, Dari Sebuah Jarak

Oleh : Imran Duse   "Tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya, …

Jumat, 06 Mei 2022 16:57

Kesadaran Pasca-Ramadan

Oleh : Bambang Iswanto    Seiring dengan masuknya 1 Syawal,…

Jumat, 06 Mei 2022 13:29

"Manusia Gurun" dan Pendidikan Nasional Kita

Oleh : Imran Duse*   DI PENGUJUNG Ramadan lalu, tatkala…

Minggu, 01 Mei 2022 19:46

Prahara Rektor ITK

Catatan Rizal Effendi   CUITAN Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK)…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers