MANAGED BY:
KAMIS
19 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

NASIONAL

Jumat, 06 Mei 2022 16:40
Jumlah Suspect Kemungkinan Bertambah, Butuh 10 Hari Lagi Sampai Kasus 1,2 dan 3 Terkonfirmasi Hepatitis Akut

JAKARTA- Kemenkes menyatakan bahwa jumlah suspect kasus infeksi Hepatitis Akut Yang Tidak Diketahui Penyebabnya kemungkinan bertambah setelah peringatan peningkatan kewaspadaan disebar oleh Kemenkes ke setiap Dinas Kesehatan baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Meski demikian, Jubir Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebut bahwa tidak satupun kasus suspect di Indonesia yang dinyatakan telah konfirm sebagai Hepatitis akut kategori ini. Adapun 3 kasus kematian anak suspect yang diumumkan baru-baru ini belum bisa dinyatakan konfirmasi kasus Hepatitis akut ini.

Itu disebabkan karena proses investigasi tim Kemenkes masih terus berlanjut hingga hari ini. Termasuk hasil pemeriksaan Laboratorium untuk memastikan patogen apa saja yang terlibat dalam kematian 3 anak di RS Cipto Mangunkusumo yang diumumkan pada 1 Mei lalu.

Pemeriksaan ini kata Nadia setidaknya bakal memakan waktu antara 10 hingga 14 hari kedepan. Terutama untuk memastikan konfirmasi atau tidaknya hepatitis tipe E “Jadi baru masuk kriteria yang kita sebut pending klasifikasi,” jelas Nadia di Jakarta (5/5).

3 Pasien tersebut, tutur Nadia datang ke RS Cipto Mangunkusumo dalam kondisi berat. Semuanya dirujuk dari rumah-rumah sakit lain di sekitar Jakarta. ”Kami coba merawatnya di ICU. Namun tidak tertolong karena datang dalam kondisi stadium lanjut. Sehingga memberikan waktu sedikit bagi RS untuk memberikan tindakan-tindakan pertolongan,” papar Nadia.

Ketiga kasus anak tersebut masing-masing berusia 2 tahun, 8 tahun dan 11 tahun. Nadia menyebut anak yang berusia 2 tahun belum tervaksin. Sementara yang 8 tahun baru mendapat vaksin 1 kali dan yang 11 sudah vaksinasi lengkap. Ketiganya terkonfirmasi negatif Covid-19.

Nadia menyatakan bahwa tim dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga tengah melakukan investigasi kontak orang-orang dekat pasien 1,2 dan 3 ini untuk menentukan faktor resiko. Melihat dari data yang ada, 1 kasus diantara ketiganya kata Nadia diketahui memiliki penyakit penyerta sebelumnya.

Analisis faktor-faktor resiko lainnya sejauh ini menunjukkan tidak ditemukannya riwayat anggota keluarga lain yang menderita hepatitis atau penyakit kuning sebelumnya. Juga tidak ditemukan gejala yang menunjukkan ciri-ciri hepatitis akut ini. Baik warna kuning atau keluhan di saluran cerna.

Nadia menambahkan, selain surat kewaspadaan yang disebar ke Dinas Kesehatan seluruh Indonesia, Kemenkes juga mengumpulkan laporan kasus dengan gejala sindrom kuning ini. Dengan laporan-laporan ini, kemungkinan suspect bertambah. ”Tapi belum kasus yang konfirm. Ada pemeriksaan yang harus kita lakukan dengan pemeriksaan genome sequencing yang harus mengetahui secara pasti ia bukan hepatitis A,B,C, D atau E,” jelas Nadia.

Beberapa fasyankes juga tengah dikuatkan termasuk RS rujukan penanganan yakni RSPI Sulianti Saroso. Kemudian pemeriksaan laboratorium dan perbaikan tata laksana untuk menangani pasien yang suspect.

Dokter Spesialis Anak sekaligus Lead Scientist untuk kasus Hepatitis ini Prof. dr. Hanifah Oswari menjelaskan bahwa gangguan pencernaan menjadi pintu masuk utama dalam deteksi dini terhadap penyakit Hepatitis akut ini.

Ia menyarankan jika ditemukan gejala diare mendadak, mual, muntah, sakit perut dan kadang kadang disertai demam ringan, orang tua harus segera membawa anaknya ke fasyankes terdekat. Petugas medis di fasyankes tersebutlah yang akan memutuskan apakah dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Jadi jangan tunggu sampai ada gejala bagian tubuh menguning. Itu akan memberikan waktu lebih sedikit pada dokter dan tenaga medis untuk memberikan pertolongan,” jelasnya.

Prof Hanifah menjelaskan, dalam kondisi mata dan kulit yang berubah menguning, dalam pemeriksaan laboratorium akan menunjukkan bahwa dua enzim utama yang berkaitan erat dengan fungsi hati yakni SGPT dan SGOT akan meningkat diatas 500 (kondisi normal dibawah 75,Red).

”Bila berlanjut lagi gejalanya, pasien akan mengalami pembekuan darah dan selanjutnya akan terjadi penurunan kesadaran dan dapat berlanjut pada kematian jika pasien tidak mendapatkan transplantasi hati,” jelasnya.

Sementara untuk pencegahannya, kurang lebih sama dengan penyakit yang menginfeksi saluran cerna dan saluran nafas yakni dengan pola hidup bersih dan protokol kesehatan. Meski belum diketahui penyebabnya, Hanifah menyebut bahwa dalam infeksi Hepatitis akut ini, ada beberapa virus yang berperan. Seperti Adenovirus type 41, SARS-Cov 2 dan beberapa virus lain seperti EBV dan CMV.(tau)


BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2012 13:00

Edisi Ketiga UKW Luluskan 23 Wartawan KPG

<div> <div> <strong>BALIKPAPAN</strong> &ndash; Uji Kompetensi Wartawan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers