MANAGED BY:
SENIN
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

KOLOM PEMBACA

Jumat, 28 Januari 2022 14:12
Mulut Edy, Harimau Edy

Banyak orang yang tidak mengambil pelajaran dari pengalaman, ahli hikmah, dan pribahasa. Di antaranya, Edy Mulyadi yang sekarang menjadi pesohor sejagad Nusantara karena ucapannya.

Padahal sudah banyak sebelumnya orang yang tidak pandai menjaga lisannya menjadi penghuni penjara, atau paling tidak menyesal atas perkataan yang sudah telanjur keluar dari mulutnya. Lalu sibuk mengklarifikasi makna ucapan bahwa tidak ada maksud menyakiti, menghina, dan seterusnya.

Meskipun sudah mencoba mengklarifikasi ucapannya, nasi sudah telanjur menjadi bubur. Ucapannya sudah kepalang membuat sebagian masyarakat Kalimantan tersinggung. Kata-kata Edy dianggap menganalogikan Kalimantan sebagai tempat yang terkucil dan sepi. Warganya dianalogikan sebagai makhluk halus, jin, dan genderuwo, serta monyet.

Secara bahasa bisa saja klarifikasi Edy Mulyadi benar bahwa tidak ada maksud menghina masyarakat Kalimantan. Namun, Edy lupa bahwa ucapannya bisa dimaknai lain oleh orang lain yang tidak selaras dengan yang dimaksud.

Urusan tidak ada maksud atau tidak, mungkin nanti urusan ahlinya yang memperdebatkan atau pengadilan yang memutuskan. Namun yang jelas, masyarakat sudah telanjur tidak terima dengan kata-kata Edy.

Mulutmu harimaumu, inilah peribahasa yang harusnya diingat Edy sebelum berucap. Peribahasa yang sering muncul untuk mengingatkan tentang dahsyatnya kekuatan kata yang diucapkan seseorang. Kekuatan itu bisa dalam konotasi negatif, bisa juga positif.

Konotasi negatif dari kekuatan kata yang terlontar adalah bisa menyakiti, membuat orang tertekan, stres, dan sebagainya. Sedangkan konotasi positifnya adalah kata-kata mampu membuat orang menjadi kuat dan termotivasi. Efek kata-kata bisa positif dan sebaliknya negatif.

Dalam kasus yang sedang heboh sekarang, Edy Mulyadi tidak dalam posisi mengambil konotasi positif untuk membuat orang menjadi kuat atau termotivasi, sebaliknya lebih kepada konotasi negatif, mampu membuat orang tersinggung dan sakit hati. Akibat ucapan tanpa ingat pengalaman yang sudah-sudah dan tidak ingat peribahasa di atas, Edy bersiap-siap berurusan dengan pihak berwajib.

LISAN INDIKATOR IMAN

Dalam istilah agama, kehati-hatian dalam menjaga kata-kata sering dikaitkan dengan etika atau akhlak lisan. Menjaga lisan bagian ajaran penting dalam Islam. Banyak sekali ayat dan hadis yang membahasnya.

Saking pentingnya masalah lisan ini, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rasulullah menghubungkannya dengan indikator keimanan seseorang. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik. Jika tidak bisa, maka diam saja,” demikian redaksi terjemahan hadisnya.

Mafhum mukhalafah atau kesimpulan balik dari hadis menjelaskan, orang yang tidak bisa berkata baik-baik, bukanlah orang yang beriman, baik beriman kepada Allah maupun hari akhir.

Redaksi hari akhir pada hadis juga memberi isyarat yang jelas bahwa setiap kata-kata yang diucapkan di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Perkataan yang baik akan mendapat ganjaran baik yang akan memperberat timbangan amal kebaikannya. Sebaliknya perkataan yang menyakitkan, berbohong, fitnah, dan sebagainya akan mendapat ganjaran dosa.

Pada hadis tersebut juga terungkap bahwa tidak ada pilihan selain berkata baik selain diam. Yang keluar dari lisan seseorang haruslah yang baik-baik saja. Opsi lain tidak bisa berkata baik hanyalah diam. Jika tidak bisa berucap baik, maka diam saja.

Dalam hadis lain, Rasulullah juga sangat khawatir kepada orang-orang yang sangat pintar berbicara, pandai mengolah kata-kata namun dia munafik. Mungkin ini jadi perenungan bagi siapa pun untuk berhati-hati kepada orang seperti ini, dengan kata-kata dan janji-janjinya mampu membuat orang terpengaruh dan terlena, tetapi pada kenyataannya berbohong atau mengingkari janji.

Misalkan menjadi politikus yang waktu kampanye menjadi orator ulung menguntai janji-janji manis, dia harus merealisasikan janjinya karena semua akan ada pertanggungjawaban.

Selain dari Al-Qur’an dan hadis, peribahasa-peribahasa yang muncul dari ajaran tentang pentingnya menjaga lisan juga sangat banyak. Salah satu di antaranya yang paling populer adalah “salamatul insan fi hifzhil lisan,” yang maksudnya adalah keselamatan manusia terdapat dalam lisannya.

Peribahasa ini menjadi warning bagi siapa pun yang ingin selamat, tidak terperosok dalam bahaya, kesukaran, berurusan dengan orang banyak, dipanggil aparat, atau dimejahijaukan, atau terhindar dari marabahaya yang mengancam jiwa, maka menjaga lisan merupakan keniscayaan.

Sahabat sekaligus menantu Rasul, Ali bin Abi Thalib memiliki pesan khusus terkait lisan yang terhimpun dalam Kitab Nahjul Balaghah dan Ghurar al-Hikam, di antaranya “al-Lisan Mizanul Insan”. Lisan itu adalah takaran atau cerminan diri seseorang. Apa yang keluar dari mulutnya bisa dijadikan salah satu indikator akhlak seseorang.

Jika yang keluar dari mulutnya selalu kebaikan dan kejujuran maka orang itu baik. Dan sebaliknya jika yang keluar dari mulutnya adalah kebencian, isi kebun binatang, sampah-sampah, fitnah, dengki, dan seterusnya, seperti itulah jati dirinya dinilai.

Beliau juga mengilustrasikan kedahsyatan lisan dengan ucapan, “betapa banyak darah yang tumpah karena lisan, betapa banyak manusia yang binasa karena lisan, dan betapa banyak orang yang kehilangan kenikmatan karena lisan atau ucapannya.”

Semoga kita bisa mensyukuri nikmat lisan dengan cara menjaganya dan hanya mengucapkan hal-hal yang bermanfaat saja dan terhindar dari bencana akibat lisan diamanatkan kepada kita. Amin. (dwi/k8)


BACA JUGA

Senin, 23 Mei 2022 13:01

CSR dan Kepedulian Perusahaan di Kaltim

Oleh: Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan     SECARA…

Senin, 23 Mei 2022 11:44

Kebangkitan Endemi

Oleh: DR H Irwan SIP, MP Anggota Komisi V DPR…

Sabtu, 21 Mei 2022 13:33

Denyut MTQ

Bambang Iswanto   Pemerintahan Orde Baru dikenal sebagai masa suram…

Jumat, 20 Mei 2022 10:57

Ketika Kesopanan Mampu Mendiskon Hukuman

Rika Noviliasari Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda…

Kamis, 19 Mei 2022 12:47

Kurikulum Merdeka Untuk Pemulihan Pendidikan

Mohammad TaufiqASN SD Negeri 005 Sungai Pinang   Pandemi Covid-19…

Selasa, 17 Mei 2022 11:10

Majalah Dinding, Literasi Sederhana

Rusmini ASN SD Negeri 006 Samarinda Ulu    Kelas 1…

Selasa, 17 Mei 2022 11:09

Indonesia Menggambar: Deklarasi Hari Menggambar Nasional

Sriningsih Hutomo MEI menjadi bulan penuh warna dan guratan emosi…

Selasa, 17 Mei 2022 11:07

Menyorot Kinerja Keuangan Daerah, Serta Aplikasinya terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Ferdy Sukmadianto ASN Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kaltim     Kinerja…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Seleksi KOSN 2022 Bertahap

Haspul Anwar SD 003 Samarinda Utara   Kompetisi Olahraga Siswa…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Penjelasan Unknown Hepatitis yang Menyerang Anak

Ferry Fadzlul Rahman Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers