MANAGED BY:
SELASA
17 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

FEATURE

Selasa, 25 Januari 2022 12:49
”Republik” Spanduk Pecel Lele dengan Bulutengger, Lamongan, sebagai Ibu Kota (2-Habis)
Filosofi Dua Rembulan: Semoga Jualannya Tak Perlu sampai Dini Hari

Untuk menjaga keotentikan dan tradisi, Paguyuban Central Letter Lamongan mematenkan font serta sembilan gambar seafood dan unggas yang biasa ada di spanduk karya mereka. Ada tiga warna kain yang disediakan. Warna yang dipilih bergantung di daerah mana si pemesan akan berjualan.

 

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Lamongan

 

KAIN putih itu dibeber di lantai. Dengan menggunakan pensil biasa, Bagus Eka Pria Suka Dhana mulai memainkan jari. Tak perlu waktu lama, sebuah gambar ikan gurami selesai dibuat.

Memang masih jauh dari kata rampung. Namun, apa yang ditunjukkan ketua Paguyuban Central Letter Lamongan itu adalah proses awal menuju sebuah produk khas Desa Bulutengger: spanduk warung khas Lamongan yang bisa ditemukan di berbagai sudut negeri ini.

Jumlah gambar di spanduk menyesuaikan permintaan pemesan. Juga tentunya mengikuti menu yang bakal dijual. Kalau yang dijual soto ayam saja, tak mungkin kan yang digambar bebek atau lele.

Panjang spanduk juga didasarkan pada besaran luas warung. ”Biasanya, satu tempat butuh 15 meter,” kata Dhana kepada Jawa Pos yang bertandang ke rumahnya di Bulutengger, Lamongan, yang sekaligus menjadi markas paguyuban pada Selasa (18/1) pekan lalu.

Paguyuban Central Letter Lamongan sejatinya memiliki cetakan font huruf. Tujuannya, tulisan bisa sama. Namun, alat tersebut jarang dipakai. Sebab, tangan para anggota sudah ahli. Tanpa cetakan pun, hasilnya pasti sama. Begitu pula gambar aneka seafood (makanan laut) dan beragam unggas.

Setelah pelukisan rampung, selanjutnya adalah pewarnaan. Tahapan itu susah-susah gampang. Harus telaten dan cepat. Pengecatan mesti sekali selesai. Pewarnaan tak hanya dilakukan di sisi depan, tetapi juga dari bagian belakang. Jadi, gambarnya tembus. Hasilnya lebih indah. Pencahayaan warung juga bisa lebih sempurna.

Warna tulisan yang dipilih memang mencolok. Perpaduan merah, oranye, dan hijau-kuning. Itu ditujukan untuk menarik perhatian orang. Font huruf yang digunakan juga khas. Begitu juga bentuk dua rembulan di samping kanan-kiri spanduk. Dua rembulan ini merupakan salah satu ciri karya Paguyuban Central Letter Lamongan. Biasanya, dua rembulan itu ditempatkan di belakang unggas. Entah ayam atau bebek. ”Penempatannya memang selalu di samping kanan dan kiri,” ujar Dhana.

Selain untuk mengisi tempat yang kosong, gambar bulan memiliki filosofi. Sebagian besar pedagang pecel lele atau seafood asal Lamongan buka pada malam hari. Saat sore, mereka mulai bersiap. Harapannya, sinar rembulan bisa mencerminkan rezeki pedagang. Dagangan laris dan habis sebelum bulan surut. Dengan kata lain, jualannya tak perlu sampai dini hari.

Dulu bahan yang digunakan untuk pewarnaan adalah cat minyak. Sekarang mereka memakai cat khusus sablon. Ada tiga jenis warna kain letter yang disediakan paguyuban yang berdiri sejak Juni 2020 itu: kuning, hijau, dan putih. Mana yang digunakan bergantung di daerah mana si pedagang akan berjualan. ”Setiap daerah berbeda,” tegas Dhana.

Di Jakarta dan sekitarnya, kain letter-nya berwarna putih. Di Medan, Sumatera Utara, warna hijau dipilih. Begitu pula Kalimantan yang cenderung hijau. Nah, untuk kawasan Indonesia Timur, rata-rata kain letter-nya berwarna putih.

Dhana tak tahu bagaimana awalnya muncul pola demikian. Yang jelas, penyebaran produk karya Bulutengger itu terkait erat dengan tradisi warga Lamongan yang lama dikenal sebagai perantau yang tangguh. Mereka menyebar ke berbagai sudut Indonesia. Yang berdagang makanan rata-rata menampilkan ”identitas” lewat spanduk warung mereka yang khas bikinan Bulutengger.

Meski, ada juga pemesan dari luar Lamongan yang bergerak di usaha kuliner yang sama. ”Misalnya, ada orang Solo yang berdagang pecel lele atau bebek goreng di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang juga pesan ke sini,” ungkap alumnus Institut Seni Indonesia, Jogjakarta, tersebut.

Tumbuhnya Bulutengger menjadi ”ibu kota” spanduk pecel lele dan soto ayam khas Lamongan bermula pada 1989. Beny Dwi Rulianto, salah seorang anggota paguyuban, menceritakan bahwa awalnya pada tahun itu ada beberapa warga setempat yang membuka warung penyetan lele di Jakarta. Mereka kemudian meminta bantuan membuat letter atau spanduk kepada Teguh Wahono, warga Bulutengger. Ternyata hasilnya cocok. ”Melihat itu, orang mulai tertarik belajar membuat letter,” kata Beny.

Sayangnya, ketika Jawa Pos bertandang ke Bulutengger pekan lalu, Teguh diopname di rumah sakit. Yang pasti, kini peran sebagai tempat belajar bagi para pemula juga turut disandang paguyuban. Karena itu, perajin di desa yang masuk wilayah Kecamatan Sekaran tersebut terus bertambah.

Pesanan letter ke paguyuban tak cuma datang dari Aceh sampai Papua. Beny juga pernah mendapat orderan dari Malaysia. ”Orang Lamongan yang buka penyetan di Malaysia. Persisnya di perbatasan dengan Kalimatan,” ungkapnya.

Warga di kawasan Sekaran juga dikenal sebagai perantau ulet. Pada Lebaran tahun lalu, sempat ramai menjadi perbincangan di media sosial seorang perantau dari Malaysia yang pulang kampung sembari membawa Lamborghini.

Untuk menjadi keotentikan ciri khas, Paguyuban Central Letter Lamongan mematenkan hasil kreasi mereka. Dhana menyebut hak paten saat ini diurus Pemkab Lamongan. ”Masih proses dan butuh waktu lama,” ujarnya.

Selain font, ada sekitar sembilan gambar yang juga dipatenkan. Di antaranya, ikan bawal, cumi, kerang, dan aneka seafood lain serta unggas. Juga gambar dua rembulan. ”Biar nggak diplagiat. Apalagi pada era digital,” tutur Dhana yang pernah memergoki karyanya dijiplak melalui metode printing.

Pesanan cara printing (dicetak) memang bisa dilakukan. Namun, paguyuban tak menyarankannya. Sebab, hasilnya jelek. Beda kalau dibuat dengan melukis. Khas daerahnya sangat kental.

Menurut Lanang Mijar Anggoro, sekretaris Paguyuban Central Letter Lamongan, kalau sudah dipatenkan, siapa saja yang membuat bentuk yang sama, baik font maupun gambar, wajib meminta izin paguyuban.

Warna memang belum dipatenkan. Sebab, kadang masih ada permintaan dari konsumen. ”Kalau soal warna semua ngejreng, mungkin hanya perpaduannya yang beda,” jelas Lanang.

Hak paten termasuk cara paguyuban melestarikan tradisi. Juga kegigihan untuk melahirkan karya lewat lukisan tangan. Meski, risikonya juga ada. Salah satunya terkena ambeien. Bayangkan saja, bekerja sembari duduk atau jongkok dalam waktu lama.

Belum lagi kebiasaan melekan. Maklum, mereka biasa mengerjakan pesanan hingga dini hari. Apalagi kalau orderan sedang ramai.

Namun, semua yang berkarya di Bulutengger menerima dengan sadar semua risiko itu. Sebab, ada tradisi yang dipertaruhkan. Juga hoki. ”Pelanggan percaya hoki bisa didapat dari siapa yang membuat letter. Jika berjodoh, dagangan bisa laris manis,” kata Lanang. (*/c14/ttg)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 13:30

Sulam Tumpar Kukar Tembus Pasar Nasional

<div> <strong>TENGGARONG </strong>- Kutai Kartanegara (Kukar) mewakili Kaltim di ajang…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers