MANAGED BY:
SELASA
17 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

HIBURAN

Selasa, 25 Januari 2022 10:22
Cerita Sunda di Festival Eropa

Film Before, Now & Then (NANA) Lolos ke Berlin International Film Festival 2022

FOTO ADEGAN FOURCOLOURS FILMS UNTUK JAWA POS

Sutradara Kamila Andini menunjukkan konsistensinya dalam menciptakan film kelas festival internasional. Setelah tahun lalu dia mengharumkan nama Indonesia dengan Yuni, kali ini Dini –sapaan akrabnya– siap bersaing dengan para sineas dunia lainnya di program kompetisi utama Berlin International Film Festival (Berlinale) 2022.

Tahun ini, festival Berlinale akan berlangsung luring pada 10–20 Februari mendatang. Film Dini yang lolos seleksi untuk berkompetisi di festival tersebut adalah Before, Now & Then (NANA). Pada 19 Januari lalu, film produksi Fourcolours Films itu masuk jajaran 18 film yang bersaing untuk meraih penghargaan Golden Bear dan Silver Bear di Berlinale.

Before, Now & Then (NANA) merupakan film yang diadaptasi dari bab Telur dalam novel Jais Darga Namaku karya Ahda Imran, yang juga menjadi penulis skenario bersama Dini. Buku itu terinspirasi memoar kehidupan Jais sebelum dan saat dirinya aktif sebagai art dealer internasional. Telur sendiri berkisah tentang mendiang ibunda Jais, Raden Nana Sunani.

Hidup di Jawa Barat pada era 1960-an, Nana (Happy Salma) adalah perempuan yang melarikan diri dari orang-orang yang ingin mempersuntingnya. Sayang, dia harus kehilangan ayah dan anak. Nana lantas dinikahi seorang menak alias bangsawan Sunda yang gemar mencari simpanan. Pelik kehidupan justru membuat Nana berteman dengan Ino (Laura Basuki), salah seorang simpanan suaminya.

Film yang juga dibintangi Ibnu Jamil dan Arawinda Kirana itu menggunakan bahasa Sunda secara penuh. ’’Tapi ini Sunda lawas ya, bukan Sunda modern,’’ ujar Dini, yang punya darah Sunda dari pihak ibu. Untuk menjaga konsistensi penggunaan bahasa Sunda lawas yang digunakan di masa pasca-kemerdekaan, Dini dan timnya bahkan meminta bantuan para ahli bahasa dan penulis Sunda.

Rupanya, penggunaan bahasa Sunda lawas itu menjadi tantangan tersendiri bagi para cast. Happy, contohnya. Meski berdarah Sunda, aktris asal Sukabumi tersebut sempat kecele. ’’Saya pas tahu film ini pakai bahasa Sunda, udah PD (percaya diri) duluan dan nganggep gampang. Eh ternyata bahasa Sunda-nya beda banget sama yang saya tahu dan pakai,’’ ucap aktris yang juga menjadi produser eksekutif itu.

Akhirnya, Happy harus menambah kosakata bahasa Sunda. Selain workshop beberapa minggu dengan para ahli bahasa Sunda, aktris yang kini menetap di Bali itu juga mendengar lagu-lagu Sunda lawas khas Cianjur. ’’Mentor kami juga disiplin. Tiap kata yang kami ucapkan saat syuting dimonitoring, nggak bisa curang ganti kata,’’ papar Happy.

Sementara itu, Laura, Ibnu, dan Ara sama sekali tidak punya darah Sunda dan tidak paham bahasanya. Mereka benar-benar diajari oleh para mentor hingga hafal dan lancar. Ibnu, yang adalah orang Betawi, sempat dikritik meski pernah bermain sebagai orang Sunda di FTV. ’’Pas saya ngomong bahasa Sunda, dibilangin sama mentornya,’Kang Ibnu, itu mah Sunda FTV, bukan Sunda lawas’,’’ seloroh Ibnu.

Konsistensi penggunaan bahasa Sunda di film Before, Now & Then (NANA) sukses memberikan napas local wisdom yang kuat dalam film tersebut. Bahkan, film itu menjadi film Indonesia berbahasa Sunda pertama yang sukses tembus ke Berlinale. ’’Seneng ya, akhirnya bahasa Sunda bisa kedengeran di Berlin,’’ tambah Happy.

Selain adanya local wisdom yang kuat, Before, Now & Then (NANA) juga mendapat respons bagus dari Carlo Chatrian, artistic director Berlinale. Dia menilai film tersebut adalah proyek ambisius, namun memiliki perspektif personal seorang perempuan yang terdampak zaman dan keadaan Indonesia saat itu. Pribadi, orisinal, melodramatis, dan menggugah rasa.

Selain kisah hidup Nana, Dini juga memasukkan pengalaman pribadinya sebagai perempuan dan ibu saat meracik skenario. Meski itu adalah film period tentang hidup orang lain di masa lampau, Dini yakin Before, Now & Then (NANA) bisa tetap relevan dan intim.

’’Ada hal yang selalu muncul di setiap zaman, yaitu dialog tentang peran perempuan. Di sini, melihat Nana bisa membuat kita merasa melihat nenek, ibu, saudara, atau teman kita,’’ pungkas putri sutradara Garin Nugroho itu. (c18/len)

GRAFIS

Perjalanan Lahirnya Nana

 

2018: Ide awal muncul dari percakapan Happy Salma dan Jais Darga setelah buku Jais Darga Namaku dirilis. Happy, yang sebelumnya pernah terlibat di film Sekala Niskala karya Dini (2017), menyarankan Jais agar menggandeng Dini. Naskah pun mulai ditulis setelah Dini dan timnya membaca novel, secara khusus bab Telur.

 

Oktober 2020: Setelah proses pengembangan naskah pada 2019, Dini dan kru mulai masuk dalam tahap praproduksi.

 

Maret 2021: Syuting Before, Now & Then (Nana) berlangsung selama 13 hari di kawasan Ciwidey, Jawa Barat.

 

14 Oktober 2021: Before, Now & Then (Nana) berhasil mendapatkan CJ Entertainment Award dalam Asian Project Market yang diadakan Busan International Film Festival 2021. Sebagai hadiahnya, tim produksi mendapat bantuan pendanaan pascaproduksi.

 

19 Januari 2022: Before, Now & Then (Nana) diumumkan lolos seleksi untuk kompetisi utama Berlin International Film Festival 2022. Ini akan menjadi pemutaran perdana film tersebut.

 

20 Januari 2022: Before, Now & Then (Nana) diakuisisi oleh Wild Bunch International, sales agent yang nantinya bertanggung jawab dalam peredaran internasional. Wild Bunch sebelumnya pernah memasarkan film-film besar seperti City of God (2002), Blue is The Warmest Color (2013), dan Shoplifters (2018).


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 08:41

Sumbat Celah Kepsek Titipan

<div> <div> <strong>TENGGARONG </strong>- Diberlakukannya aturan pengangkatan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers