MANAGED BY:
SENIN
16 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

UTAMA

Selasa, 25 Januari 2022 10:12
Temuan Awal KNKT Truk “Maut” Sudah Dimodifikasi
Bangun Jalur Evakuasi Dulu, Flyover Kemudian
Kawasan Muara Rapak, Balikpapan.

Pemerintah pusat sudah memberi atensi besar terhadap kecelakaan maut di Muara Rapak, Balikpapan. Sejumlah solusi tengah dipersiapkan, agar insiden serupa tak kembali terjadi.

 

BALIKPAPAN-Jajaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendatangi simpang lima Muara Rapak, Balikpapan, Minggu (23/1). Dalam kunjungan itu, salah satu solusi jangka pendek diambil. Yakni membangun jalur evakuasi untuk kendaraan yang mengalami masalah pengereman di sisi kiri.

Dalam kunjungan itu, dipimpin Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi. Dia didampingi Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim Arih Franata Filifus Sembiring, Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Kaltim Kombes Sonny Irawan, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XVII Kaltim-Kaltara Avi Mukti Amin, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim Junaidi, dan Kepala PT Jasa Raharja Cabang Kaltimtara Eva Yuliasta.

Selain itu, Kepala Dishub Balikpapan Elvin Junaidi dan Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Balikpapan M Takwim Masuku. Hadir pula investigator dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Rombongan tiba pukul 12.35 Wita. Memantau arus lalu lintas dari depan Hotel Mahakam, seberang Plaza Rapak.

Sekitar 50 meter dari lokasi kecelakaan, rombongan berdiskusi selama satu jam. Dari hasil diskusi itu, diputuskan akan ada perubahan rekayasa lalu lintas pada turunan Muara Rapak. Untuk jangka pendek, Budi mengusulkan pembangunan jalur evakuasi atau jalur penyelamatan di sebelah kiri turunan Muara Rapak. “kadishub (Balikpapan) akan melaporkan ke Pak Wali Kota. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan,” kata dia kepada awak media.

Pria yang sebelumnya menjabat sebagai analis kebijakan madya regiden di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri itu memperkirakan pembangunan jalur evakuasi tersebut tidak memerlukan anggaran besar. Apalagi jalur evakuasi akan menggunakan lahan milik PT Pertamina (Persero). Yang berada di atas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Mother Station Rapak.

Di mana lahan kosong yang tidak dimanfaatkan itu bisa menjadi jalur pelarian kendaraan angkutan berat. Bila mengalami masalah pengereman, kendaraan bisa langsung dilarikan ke jalur menanjak itu. Dengan ketinggian sekitar 75 sentimeter.

“Jadi, pembangunan jalur evakuasi sementara. Menggunakan lahan milik Pertamina. Yang akan didiskusikan dengan wali kota. Untuk pembiayaannya, mungkin bisa dari APBD Balikpapan. Bisa juga dari kami (APN). Enggak mahal itu. Yang penting dapat approve (persetujuan) untuk penggunaan lahannya,” terang Budi.

Jalur evakuasi itu, akan didesain seperti bukit. Bila ada kendaraan yang mengalami masalah pengereman atau rem blong, maka bisa langsung mengarah ke jalur tersebut. Dan kendaraan akan naik dan berhenti pada jalan yang dibangun bergelombang itu.

“Tapi dengan catatan, di depannya (jalur evakuasi itu) jangan sampai ada yang parkir. Makanya tadi ada usulan jalur kiri dipakai kendaraan berat. Sebelah kanan mobil dan motor dari atas,” imbuhnya.

Untuk usulan jangka panjang, Budi menyepakati membangun flyover atau jalan layang pada simpang lima Muara Rapak. Menurutnya, pembangunan flyover tersebut merupakan jalan yang terbaik, untuk mengurai kemacetan dan kecelakaan lalu lintas yang beberapa kali melibatkan truk angkutan besar.

Namun, pembangunan flyover itu memerlukan waktu dan biaya yang besar. Di mana, dua opsi pembiayaan yang diusulkan. Pembangunan flyover akan dibiayai APBD Kaltim atau APBN.

“Minggu depan, saya akan rapat dengan mengundang Pak Dirjen Bina Marga (Kementerian PUPR) dan Kepala Korlantas Polri di Jakarta. Pak kepala BBPJN Kaltim, juga akan melaporkan ke Dirjen Bina Marga. Apakah kemudian bisa saya usulkan ke Pak Dirjen Bina Marga. Karena sangat mungkin, (Flyover Muara Rapak) dibiayai APBN,” janji pria berkacamata itu.

Urgensi pembangunan Flyover Muara Rapak itu karena elevasi (ketinggian atau sudut tinggi) pada turunan Muara Rapak itu sangat besar. Mencapai 10 persen. Dengan elevasi tersebut, maka jalan tersebut kurang baik untuk turunan panjang.

Budi menyamakan turunan Muara Rapak dengan turunan di Dusun Gondang, Desa Candimulyo, Kertek, Kabupaten Wonosobo dan Flyover Kretek di Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. “Mungkin dengan kejadian kemarin, pemerintah akan melakukan langkah-langkah mitigasi perbaikan. Baik jangka pendek maupun jangka panjang,” kata dia.

TRUK DIMODIFIKASI

Kunjungan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub dilanjutkan ke Mapolresta Balikpapan. Untuk melihat langsung kondisi truk kontainer yang diamankan di halaman belakang Mapolresta Balikpapan. Dari hasil investigasi sementara, KNKT menemukan bahwa truk kontainer itu sudah banyak mengalami perubahan. Dan masuk kategori over-dimension over-loading (ODOL), karena sudah mengalami modifikasi.

Temuan tersebut seperti, adanya tambahan konfigurasi sumbu roda. Dari sebelumnya didesain dengan konfigurasi 1.1 atau truk dengan dua sumbu roda. Satu sumbu roda untuk bagian depan dan satu sumbu roda untuk bagian belakang. Yang diubah menjadi konfigurasi 1.2.2 atau truk dengan tiga sumbu roda. Yakni satu sumbu roda di depan dan dua sumbu roda di bagian belakang.

Kemudian, tambahan ROH (rear overhang) atau jarak dari sumbu roda belakang dengan ujung paling belakang dari kendaraan, termasuk bumper (jarak antar) yang diperpanjang sebanyak 20 sentimeter. Dan juga lebarnya bertambah 20 sentimeter. “Jadi lebih panjang. Dan bahaya kalau lebih panjang menyangkut moving atau pergerakan,” ungkap Budi.

Temuan berikutnya, ada bumper atau tanduk depan untuk meredam dan menahan benturan. Di mana bumper truk kontainer dipasang dengan tebal. Padahal berdasarkan Pasal 41 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, diterangkan bahwa bumper depan tidak boleh menonjol ke depan lebih dari 500 milimeter melewati bagian badan kendaraan yang paling depan.

“Itu ‘kan enggak boleh sekarang. Apalagi tanduknya tebal sekali. Aman buat yang bersangkutan, tetapi enggak aman buat kendaraan lain. Dan masih banyak para pengusaha atau pengemudi yang mungkin sengaja memasang itu. Temuan ini akan saya sampaikan kepada operator,” ujar pria kelahiran Banyumas, 06 Mei 1962 itu.

Selain itu, Budi menyampaikan sudah melakukan pengecekan kendaraan tersebut ke ATPM Nissan yang memproduksi truk tersebut. Dan diketahui, bahwa truk kontainer itu adalah CBU atau completely built up. Merupakan kendaraan yang didatangkan dari luar negeri atau diimpor ke Indonesia. Dalam bentuk kendaraan secara utuh.

Di mana truk tersebut berasal dari Singapura yang sebelumnya sudah diubah dan dijual ke Indonesia. “Dulu ‘kan kita terbuka, sekarang ‘kan enggak boleh lagi. Tapi, nanti saya akan koordinasi. Karena sebagian kendaraan di Kaltim, di Balikpapan kendaraan seperti ini,” terang Budi.

Hasil pemeriksaan KNKT juga menyatakan, tidak ada permasalahan pada transmisi kendaraan. Kecelakaan dapat terjadi, diduga karena saat kecepatan tinggi dan memasuki turunan, pengemudi tidak dapat melakukan pemindahan gigi. Apalagi tekanan terlalu tinggi. Membuat pengemudi memilih transmisi netral. Dan akhirnya kendaraan meluncur tak terkendali, menabrak sejumlah kendaraan.

“Posisi mobil sementara netral. Remnya bermasalah, karena menggunakan sistem AOH (air of hydraulic). Jadi, behavior (kebiasaan) pengemudi selalu mengetes rem. Sehingga, konsumsi anginnya terlalu banyak. Ketika diperlukan di turunan Muara Rapak ini, menjadi tekor. Akhirnya, habis anginnya,” ungkap M Budi Susandi, investigator Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT.

Dari hasil temuan awal tersebut, KNKT selanjutnya akan mendalami investigasi bersama Ditlantas Polda Kaltim dan Kemenhub. Karena KNKT harus berhati-hati dalam memberikan kesimpulan atas kecelakaan maut tersebut. “Temuan awal, ada penambahan sumbu dan juga dimensinya lebih lebar dari dimensi awal. Dan kami harus mendalami lagi. Kami harus hati-hati dalam memberikan kesimpulan,” tutup Sandi.

Dirlantas Polda Kaltim Kombes Sonny Irawan mengatakan, proses penyidikan terhadap kecelakaan maut di turunan Muara Rapak masih terus dilakukan. Setelah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka, penyidik juga sudah memintai keterangan terhadap perusahaan pemilik kendaraan.

“Sesuai arahan pimpinan, semua pihak terkait akan kami mintai keterangan. Dan yakinlah, Polri akan bekerja secara profesional. Jadi, kami minta waktu untuk segera menyelesaikan proses penyidikan ini dengan cepat, benar, dan transparan,” pinta dia. (rom/k15)

 

RIKIP AGUSTANI

[email protected]


BACA JUGA

Selasa, 07 Agustus 2012 12:02

Permendagri Tetapkan Batas Balikpapan-PPU

<div> <p style="text-align: justify;"> <strong>BALIKPAPAN - </strong>Pemerintah…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers