MANAGED BY:
SABTU
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL
Jumat, 21 Januari 2022 11:23
Wisata Diprediksi Baru Pulih 2024, WHO Ingatkan Lagi Bahaya Omicron
Wisata di seluruh dunia mengalami penurunan selama pandemi.

JENEWA – Sejumlah sektor pendukung wisata mulai beroperasi pada masa pandemi. Meski begitu, Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) menegaskan bahwa kedatangan turis tahun ini belum akan ramai. Sektor pariwisata diperkirakan baru normal seperti situasi sebelum Covid-19 pada awal 2024.

’’Varian Omicron yang sangat menular, meskipun gejalanya ringan, akan mengganggu pemulihan pada awal 2022,’’ bunyi pernyataan UNWTO yang dirilis Selasa (18/1) seperti dikutip NDTV.

Lembaga yang berbasis di Madrid, Spanyol, tersebut mengungkapkan bahwa kedatangan turis internasional pada 2021 naik 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Yaitu, dari 400 juta naik menjadi 415 juta. Namun, jika dibandingkan momen sebelum pandemi, terjadi penurunan hingga 73 persen. Akhir 2019 ditutup dengan dimulainya pandemi virus korona yang mengakibatkan hampir semua negara melakukan kuntara.

Optimisme bahwa tahun ini bakal membaik memang sudah muncul. Tapi, UNWTO menegaskan bahwa sektor wisata tahun ini mungkin hanya mencapai 50?63 persen dari level sebelum pandemi.

Ada beberapa alasan yang membuat pemulihan sektor wisata lambat. Vaksin, salah satunya. Saat ini masih terjadi ketidaksetaraan ketersediaan dan pemberian vaksin Covid-19. Di negara-negara maju dan berkembang, vaksin bisa diakses dengan mudah. Tapi, itu tidak terjadi di negara-negara miskin. Angka vaksinasinya masih rendah. Misalnya saja pada negara-negara di Benua Afrika.

Varian Omicron juga membuat beberapa pembatasan kembali berlaku. Tiongkok, Filipina, Maroko, dan beberapa negara lainnya masih memberlakukan aturan ketat. Beberapa maskapai juga terpaksa membatalkan penerbangan karena awak kabin tertular dan harus dikarantina. Faktor-faktor tersebut membuat kepercayaan konsumen untuk melakukan wisata antarnegara menurun.

Terpisah, WHO kembali mengingatkan bahwa pandemi belum berakhir. Pejabat senior WHO Dr Bruce Aylward memperingatkan, penularan Omicron yang begitu tinggi memberi virus tersebut lebih banyak kesempatan untuk bereplikasi dan bermutasi. Itu memperbesar risiko adanya varian baru yang bakal muncul.

’’Kami mendengar banyak orang menyatakan bahwa Omicron adalah varian terakhir dan setelahnya (pandemi) berakhir. Itu tidak akan terjadi karena virus ini beredar pada tingkat yang sangat intens di seluruh dunia,’’ terang Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis Covid-19 WHO, menegaskan pernyataan Aylward.

Sepanjang pekan lalu, ada 19 juta penularan baru yang diyakini dipicu Omicron. Itu naik 20 persen dari pekan sebelumnya. Data riil di lapangan mungkin bisa jauh lebih banyak karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. Omicron kerap menimbulkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Hal itu membuat orang lengah.

Pernyataan Van Kerkhove tersebut mungkin menanggapi penelitian para ilmuwan di Afrika. Mereka menyatakan bahwa kelompok yang tertular Omicron akan membangun kekebalan terhadap varian Delta. Dengan adanya Omicron yang bergejala ringan dan kekebalan pada varian Delta yang ganas, mereka menyimpulkan pandemi mungkin segera berakhir.

WHO meminta tiap negara kembali menegakkan aturan jaga jarak dan pemakaian masker. Harapannya, itu bisa membuat penularan virus terkontrol dan mengurangi beban rumah sakit. Jika tidak, krisis selanjutnya akan terjadi. Pemerintah juga didorong untuk berinvestasi ke sistem pelacakan virus dan mutasinya. ’’Jangan abaikan ilmu pengetahuan,’’ tegas Van Kerkhove.

Di lain pihak, para pencinta binatang dan kelompok anti kekejaman pada hewan membuat petisi online kepada pemerintah Hongkong. Itu terkait rencana pemerintah untuk memusnahkan sekitar 2 ribu hamster asal Belanda, kelinci, dan chinchilla. Hewan-hewan tersebut ditengarai terkait dengan klaster penularan Covid-19 di Little Boss, sebuah toko hewan peliharaan di Causeway Bay. Pemusnahan itu diharapkan bisa memutuskan rantai penularan.

’’Perasaan saya campur aduk. Saya tidak bisa mengatakan pemusnahan adalah pilihan terbaik untuk hewan kecil ini,’’ ujar Ashley Lee, salah seorang penduduk yang suka memelihara hamster. Petisi online yang menolak kebijakan pemerintah itu kini sudah ditandatangani ribuan orang. (sha/c7/bay)


BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2012 08:51

Mengenal Wahyudi, Sosok Anggota DPRD Samarinda

<div style="text-align: justify;"> <strong>Bawaannya dingin, namun di balik itu…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers