MANAGED BY:
SABTU
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

FEATURE

Kamis, 20 Januari 2022 09:05
Upaya Slamet Lestarikan Lereng Gunung Slamet

Tanam Jutaan Pohon, Gandeng Lembaga Pendidikan

Slamet Wahyudi

Slamet Wahyudi, warga Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang ini rela mengabdikan diri untuk menjaga kelestarian tanaman di pegunungan Wilis. Dia terus mendorong guna meningkatkan kesadaran masyarakat sekitarnya untuk juga mulai menanam pohon.

MUKHAMAD ZAINUL FIKRI, Sendang, Radar Tulungagung-

Bambu ampel menjadi tanaman pertama yang ditanam Slamet, sapaan Slamet Wahyudi, di sekitar pegunungan Wilis. Setiap hari hampir selama setahun dia menanam pohon sepulang dari bekerja. Dengan niat untuk melestarikan alam dan tidak untuk mendapat keuntungan tertentu.

Selain dari diri sendiri, tergugah niat mengajak setiap orang untuk memulai menanam pohon. Tak mudah, awalnya sering terjadi kendala pada saat awal mulai menanam. Mulai dari omongan dan diremehkan melakukan hal tersebut, sampai tanaman yang sudah ditanam banyak yang ditebang oleh pihak-pihak tertentu.

“Pernah ditanyain sama teman, buat apa menanam terus setiap hari, pernah juga kemarin menanam pohon, sekarang pohonnya dicabut sama orang,” katanya sambil tertawa.

Untuk memulai menanam ini, menurut dia, awalnya harus ada niat mengabdi kepada alam, realisasinya harus ada aksi nyata yang harus dilakukan. Di dalamnya juga terdapat analisis terkait bagaimana nanti rencana menanam yang akan dilakukan, siapa yang akan diajak menanam, tujuan menanam, serta bagaimana hasil dari menanam yang dilakukan bisa bermanfaat baik jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

“Yang paling susah adalah memikirkan manfaat jangka pendeknya, karena masyarakat sekarang lebih memilih hal yang instan daripada sebuah proses yang panjang,” katanya.

Dia mengakui, itu menjadi sebuah tantangan baginya, bagaimana mencari formula yang pas untuk dikhususkan pada masayarakat yang seperti itu, dan membuat mereka yakin bahwa menanam pohon itu mempunyai manfaat baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

Langkah yang diambilnya adalah mengumpulkan peternak di sekitar Kecamatan Sendang, lalu dilakukan sosialisasi menanam jenis pohon yang dapat digunakan untuk pakan ternaknya. Artinya, batang dan akar pohon bisa untuk konservasi. Tanaman ini membuat tanah tidak mudah longsor, tanah terdapat pori-pori udara sehingga air hujan bisa masuk diserap oleh tanah dan tidak langsung turun ke sungai. Selain itu, daun dari pohon tersebut bisa digunakan untuk pakan ternak yang bisa menambah protein ternaknya.

“Peternak dapat hijauannya, secara konservasi akar dan batangnya bisa mengurangi potensi bencana dan bisa untuk menyerap karbon,” katanya. “Titik pentingnya adalah kalau terobosan kita menaman ini, pada akhirnya berguna untuk kebutuhan ternak. Masyarakat akan menerima, bahkan akan menanamnya sendiri nanti kalau tahu bahwa tanaman yang kita tanam memberikan manfaat yang banyak,” tambahnya.

Untuk jangka panjang, dia menjelaskan, kegiatan menanam yang dilakukannya akan memberikan kebaikan dari segi ekonomi dan segi lingkungan. Dengan menanam pohon akan mengurangi emisi karbon dunia, mengurangi kemungkinan bencana tanah longsor pada area pegunungan, serta menjaga air di pegunungan agar tetap bagus sehingga dapat digunakan untuk masyarakat luas, baik di area Sendang maupun di sekitarnya.

Selain masyarakat sekitar Kecamatan Sendang, Slamet juga menggandeng di dunia pendidikan untuk diajak menanam lewat program reboisasi. Mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi diajak untuk melakukan program reboisasi. Selain sekolah juga menggandeng beberapa organisasi masyarakat yang ada untuk diajak menanam.

“Saya melakukan koordinasi kepada kepala sekolah. Anak-anak setelah pulang sekolah saya ajak untuk menanam, di situ akan ada edukasi tentang tanaman dan itu gratis. Jalur pendidikan inilah yang nantinya bisa membawa misi ke semua orang untuk mulai peduli alam” katanya.

Rasa pedulinya tak berhenti sampai di situ, dia juga bekerja sama dengan basecamp pendakian yang ada di Jurang Senggani dan di Penampihan. Untuk setiap pendaki diwajibkan membawa benih atau bibit untuk ditanam di sepanjang jalur pendakian Gunung Wilis.

“Kita berikan benih, kita beri petunjuk untuk menanamnya. Nantinya kita bisa menikmati alam yang semakin bagus tiap tahunnya karena pohon yang ditanam banyak. Sebab, kini kebanyakan tempat pendakian yang semakin lama pohonnya maka semakin hilang, jangan sampai Wilis seperti itu,” katanya.

Dia menyebut, dalam kurun waktu tahun 2017 sampai Januari tahun 2021, persemaian berbagai jenis tanaman yang ditujukannya untuk ditanam di alam, total mencapai 1.162.000 jenis pohon yang jenisnya bervariasi.

“Kalau untuk saat ini, mungkin sudah sampai 1,5 juta benih pohon dengan berbagai jenis kita lepaskan dan sudah ditanam di wilayah pegunungan Wilis, daerah-daerah Kabupaten Tulungagung, dan beberapa kabupaten lain di Jawa Timur.” Terangnya.

Dia mengatakan, untuk pihak yang meminta benih darinya cukup menghubungi saja. Jika ada benih yang tersedia, maka akan diberikan secara gratis. Karena selama ini, Slamet melakukan penyemaian yang ditujukan untuk ditanam di alam dan bukan untuk kepentingan ekonomi semata. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya selama ini menggunakan biaya pribadi dan tidak pernah meminta ke pihak mana pun. Semua dilakukan karena rasa senangnya terhadap alam dan cita-cita agar alam tetap hijau dan lestari.

Kini dengan hasil persemaian yang dilakukannya, terdapat berbagai jenis tanaman yang nantinya akan ditanam di alam.

“Saya malah senang kalau ada yang memesan benih, artinya kesadaran masyarakat untuk menanam itu sudah tinggi,” pungkasnya. (*/c1/din)


BACA JUGA

Jumat, 20 Mei 2022 14:40

Peternakan Berkandang Asri tanpa Bau di Perkampungan Padat Jakarta Selatan

Asupan vitamin, ampas tahu-tempe, serta pohon bambu, itu beberapa kiat…

Jumat, 20 Mei 2022 14:30
Ngobrol dengan Penulis Kaltim; Sukardi Wahyudi (3)

Lahirkan Ribuan Puisi, Kenalkan Budaya Bumi Etam

Misi mulia mengenalkan kebudayaan Kaltim menjadi motivasi tersendiri untuk membuahkan…


Jumat, 20 Mei 2022 10:04
Ngobrol dengan Penulis Kaltim; Roedy Haryo Widjono (2)

Didera Ketidakadilan, Seni Adalah Bentuk Perlawanan

Dari puisi, lara disampaikan. Dari tiap bait, semangat melawan penindasan…

Selasa, 17 Mei 2022 12:23
Keluarga-Keluarga yang Kehilangan Orang-Orang Terkasih dalam Kecelakaan Maut di Tol Surabaya–Mojokerto

Pelajar SMA Itu Ditinggalkan Ayah-Ibu dan Kedua Adik

MUJIANAH memang hanya mengalami luka ringan. Kemarin, istri Nur Ra’i…

Selasa, 17 Mei 2022 12:21

Bilqis Prasista, Bintang Kecil nan Terang dari Tim Uber Indonesia

Joko Suprianto dan Zelin Rosiana yang sama-sama pernah menjuarai Piala…

Minggu, 15 Mei 2022 12:48

Ragam Tantangan Menyekat Angkutan Pembawa Ternak

Ada pedagang yang ngeyel berjualan karena yakin kambingnya aman dari…

Jumat, 13 Mei 2022 13:33

Di Balik Keberhasilan Nglanggeran Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia

Tantangan terbesar Kelompok Sadar Wisata Nglanggeran adalah mengubah stigma pengangguran…

Rabu, 11 Mei 2022 11:53

Cerita Unik Arus Balik, Kapolres Jadi Tukang Tambal Ban-Tertidur di Jalan

Ada beberapa cerita menarik selama arus balik 2022, dua Kapolres…

Jumat, 06 Mei 2022 16:41

Warisan Budaya Tak Benda Bernama Galendo, Dulu Dipawaikan dan Ada di Meja Konferensi Asia-Afrika

Galendo kudapan khas Ciamis berbahan dasar kelapa. Namun, mencari galendo…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers