MANAGED BY:
SABTU
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

KOLOM PEMBACA

Senin, 03 Januari 2022 12:04
Presidential Threshold dan Implikasinya

Oleh:

Dr Isradi Zainal

Rektor Universitas Balikpapan

 

 

PRESIDENTIAL threshold adalah ambang batas perolehan suara yang harus diperoleh partai politik dalam suatu pemilu untuk mengajukan calon presiden (Gofridus Goris Sehan).

Untuk pemilihan serentak pasangan presiden dan wakil presiden serta pemilihan legislatif (pileg), Indonesia menggunakan Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 222 yang mensyaratkan 20 persen suara DPR atau 25% perolehan suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR.

UU itu sudah dipakai pada Pemilu 2019 dengan menggunakan hasil Pileg 2014. Dan akan digunakan kembali pada 2024 dengan menggunakan hasil Pemilu 2019 sebagai presidential threshold untuk calon presiden dan wakil presiden.

Lalu bagaimana implikasinya jika presidential threshold UU 7/2017 diberlakukan? Jika dilihat dari data perolehan suara pemilu nasional DPR tahun 2019, diketahui: PDI Perjuangan 19,3%, Gerindra 12,75%, Golkar 12,31%, PKB 9,69%, NasDem 9,01%, PKS 8,21%, Demokrat 7,77%, PAN 6,88%, dan PPP 4,52%.

Berdasarkan data tersebut, PDI Perjuangan bisa berkoalisi dengan PPP yang suaranya paling sedikit sekalipun. Golkar bisa berkoalisi dengan NasDem. Gerindra bisa berkoalisi dengan PKS. Kemudian ditambah salah satu dari PAN, Demokrat atau PKB.

Dari data itu bisa dicatat bahwa jika mempertimbangkan perolehan kursi di DPR, maka tiga calon sudah maksimal. Namun, jika memerhatikan suara sah nasional pemilu anggota DPR, memungkinkan untuk terdapat empat pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Jadi, kurang tepat jika dikatakan ambang batas 20% suara DPR atau suara sah nasional pemilu anggota DPR 25% akan membuat pemilihan pasangan presiden akan head to head. Partai tentunya punya hitungan dalam mencalonkan seseorang.

Untuk konteks hambatan terhadap putra terbaik bangsa yang hendak maju di pemilihan presiden (pilpres) tanpa naungan partai politik, sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Sebab, jika yang ingin maju betul-betul putra terbaik bangsa, partai politik (parpol) akan meminangnya. Perlu lebih didalami indikator putra terbaik bangsa dalam kaitannya dengan pilpres. Bukankah Pak Joko Widodo, Ma'ruf Amin, dan Anies Baswedan bukan di bawah naungan partai?

Selanjutnya implikasi yang dikaitkan dengan potensi memundurkan kesadaran partisipasi politik rakyat, menurut penulis belum tentu benar. Sebab, ada banyak indikator yang bisa menjadi patokan dalam kaitannya dengan kurangnya kesadaran.

Khusus terkait tidak berdayanya partai kecil terhadap partai besar, itu sebenarnya belum tentu benar. Sebab, jika parpol kecil betul-betul punya tokoh atau yang betul-betul tokoh, posisi bargaining partai kecil bisa saja mengalahkan partai besar. Selain itu, partai kecil memang harus sadar bahwa jika didominasi partai besar memang harus tunduk. Bukankah suara partai melambangkan suara dukungan?

Sebenarnya saat ini secara tersirat tidak ada batasan untuk maju sebagai calon presiden (capres). Siapa saja bisa maju tinggal liat ada respons masyarakat enggak. Buktinya banyak yang mengusulkan nama tapi kurang ada respons dari partai dan masyarakat.

Ada juga yang tidak punya partai tapi dipinang oleh banyak partai. Kalau memang merasa tokoh atau menganggap diri tokoh dan banyak pendukung, buatlah partai atau masuk partai.

Partai juga tidak akan serta-merta besar tanpa dukungan rakyat. Partai itu representasi dukungan rakyat. Bukankah di negara kampiun demokrasi seperti Amerika Serikat juga menganut cara merekrut calon presiden melalui partai? Apakah Ronald Reagan, Donald Trump orang partai? Mereka yang maju sebagai independen diperkenankan, tapi dalam sejarahnya belum pernah ada yang menang. (rom/k16)


BACA JUGA

Jumat, 20 Mei 2022 10:57

Ketika Kesopanan Mampu Mendiskon Hukuman

Rika Noviliasari Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda…

Kamis, 19 Mei 2022 12:47

Kurikulum Merdeka Untuk Pemulihan Pendidikan

Mohammad TaufiqASN SD Negeri 005 Sungai Pinang   Pandemi Covid-19…

Selasa, 17 Mei 2022 11:10

Majalah Dinding, Literasi Sederhana

Rusmini ASN SD Negeri 006 Samarinda Ulu    Kelas 1…

Selasa, 17 Mei 2022 11:09

Indonesia Menggambar: Deklarasi Hari Menggambar Nasional

Sriningsih Hutomo MEI menjadi bulan penuh warna dan guratan emosi…

Selasa, 17 Mei 2022 11:07

Menyorot Kinerja Keuangan Daerah, Serta Aplikasinya terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Ferdy Sukmadianto ASN Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kaltim     Kinerja…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Seleksi KOSN 2022 Bertahap

Haspul Anwar SD 003 Samarinda Utara   Kompetisi Olahraga Siswa…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Penjelasan Unknown Hepatitis yang Menyerang Anak

Ferry Fadzlul Rahman Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur…

Selasa, 10 Mei 2022 10:42

Menanti Gebrakan Tim Transisi

Oleh: Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan     ALHAMDULILLAH…

Senin, 09 Mei 2022 21:49

Rektor ITK, Dari Sebuah Jarak

Oleh : Imran Duse   "Tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya, …

Jumat, 06 Mei 2022 16:57

Kesadaran Pasca-Ramadan

Oleh : Bambang Iswanto    Seiring dengan masuknya 1 Syawal,…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers