MANAGED BY:
SENIN
16 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

KOLOM PEMBACA

Kamis, 30 Desember 2021 11:23
Perempuan Bekerja, Mengapa Tidak?

Aprilya Miranda

PNS BPS Kota Samarinda

 

 

Pengertian tenaga kerja dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tersebut menyempurnakan pengertian tenaga kerja dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Ketenagakerjaan yang memberikan pengertian, “Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.”

Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap ketimpangan gender dalam pasar kerja seperti pilihan individu perempuan yang berhubungan dengan investasi sumber daya, yang merefleksikan peran perempuan dalam reproduksi biologis dan lemahnya akses terhadap pasar tenaga kerja dan faktor yang terkait pada norma-norma adat, kepercayaan, dan nilai yang memengaruhi hubungan sosial dalam keluarga dan kekerabatan.

Norma-norma, kepercayaan, dan nilai-nilai tersebut membentuk model maskulin dan feminin di masyarakat yang berbeda dan membagi tugas dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan, yang pada gilirannya menciptakan hambatan-hambatan atau batasan-batasan yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki dan mana yang seharusnya dilakukan perempuan.

Ketika masuk dunia kerja, berbagai faktor di atas berkontribusi terhadap ketimpangan gender dalam pasar kerja yang dapat dilihat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Relatif lebih tingginya partisipasi angkatan kerja laki-laki dibanding perempuan, misalnya, merefleksikan tanggung jawab dalam mencari nafkah yang dibebankan pada laki-laki di sebagian besar negara sesuai budayanya. Sementara itu, sebagian besar masyarakat menilai bahwa tanggung jawab utama terkait pekerjaan domestik tanpa upah merupakan domain bagi perempuan dan anak perempuan. 

Persoalan ketimpangan gender tidak berhenti pada terlibat atau tidak terlibatnya perempuan dalam pasar tenaga kerja, tetapi juga ketika perempuan telah memasuki dunia kerja. Sementara kondisi rumah tangga yang serba kekurangan telah memaksa perempuan untuk ikut terjun dalam dunia kerja, sejumlah faktor turut berpengaruh dalam membatasi keterlibatan perempuan dalam jenis pekerjaan tertentu yang mereka lakukan. 

Banyak di antara jenis pekerjaan perempuan dicirikan dengan karakteristik seperti paruh waktu, kasual, tidak tetap dan tidak menentu, musiman dan bahkan pekerjaan rumahan (home-based jobs). Dalam konsep ketenagakerjaan, perempuan yang melakukan jenis pekerjaan tersebut termasuk dalam kategori pekerja informal, mayoritas perempuan yang memilih bekerja di sektor informal disebabkan karena pekerjaan tersebut fleksibel dan tidak harus meninggalkan tugas-tugas rumah-tangga. Kondisi seperti ini yang dapat dikatakan bahwa seorang perempuan melakukan peran ganda yang merupakan perilaku atau tindakan sosial yang diharapkan dapat menciptakan stabilitas dan harmoni keluarga. 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data proyeksi penduduk 2019, jumlah penduduk Indonesia mencapai 268,1 juta jiwa. Data BPS menunjukkan, dari total tersebut, penduduk laki-laki mencapai 134,7 juta jiwa sementara perempuan 133,4 juta jiwa. Selain itu, BPS menunjukkan, rasio jenis kelamin penduduk Indonesia pada 2019 sebesar 100,9. Rasio jenis kelamin, BPS menunjukkan bahwa dari 100 penduduk perempuan, terdapat 101 penduduk laki-laki.

 Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk di Kota Samarinda pada 2010 yaitu 727.500 jiwa, angka pertumbuhan sebesar 1,26 jiwa per sepuluh tahunnya. Dimana jumlah penduduk di Kota Samarinda pada 2020 yaitu 827.994 jiwa, yang terdiri laki-laki berjumlah 422.624 dan perempuan berjumlah 405.370. 

Penduduk perempuan yang jumlahnya 133,4 juta jiwa dari total 268,1 juta jiwa penduduk Indonesia, merupakan sumber daya pembangunan yang cukup besar. Partisipasi aktif perempuan dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Kurang berperannya kaum perempuan, akan memperlambat proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri.

 

Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan, perempuan kurang dapat berperan aktif seperti pada akses pada pasar tenaga kerja. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumber daya pembangunan, sistem upah yang merugikan, tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah, sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan.

 

Ketimpangan gender dalam akses terhadap pasar tenaga kerja tecermin dari masih tertinggalnya partisipasi perempuan dibandingkan laki-laki, dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Penduduk berumur 15 tahun ke atas yang dikenal sebagai penduduk usia kerja pada tahun periode Agustus 2020 mencapai lebih dari 658.525 orang. Dari jumlah tersebut yang termasuk angkatan kerja mencapai 429.093 orang.

Sementara penduduk bukan angkatan kerja mencapai 229.432 orang atau sebanyak 34,84 persen dari total penduduk usia 15 tahun ke atas. Bila dilihat berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.

 Tingginya TPAK laki-laki menunjukkan bahwa perempuan banyak yang memilih melakukan kegiatan bersekolah, mengurus rumah tangga, atau kegiatan lainnya. Sementara itu, TPT laki-laki yang lebih besar dibandingkan perempuan menunjukkan bahwa laki-laki banyak yang sedang mencari kerja tetapi masih belum mendapatkan pekerjaan, sedang mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan, atau sudah diterima tetapi belum mulai bekerja.

Dari data tersebut, pemerintah harus berupaya menciptakan lapangan kerja baru, baik untuk laki-laki dan perempuan, serta lebih mengedukasi kaum perempuan yang saat ini bukan merupakan angkatan kerja untuk lebih produktif karena potensi SDM yang ada harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin agar perekonomian semakin membaik. (luc/k16)


BACA JUGA

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Seleksi KOSN 2022 Bertahap

Haspul Anwar SD 003 Samarinda Utara   Kompetisi Olahraga Siswa…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Penjelasan Unknown Hepatitis yang Menyerang Anak

Ferry Fadzlul Rahman Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur…

Selasa, 10 Mei 2022 10:42

Menanti Gebrakan Tim Transisi

Oleh: Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan     ALHAMDULILLAH…

Senin, 09 Mei 2022 21:49

Rektor ITK, Dari Sebuah Jarak

Oleh : Imran Duse   "Tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya, …

Jumat, 06 Mei 2022 16:57

Kesadaran Pasca-Ramadan

Oleh : Bambang Iswanto    Seiring dengan masuknya 1 Syawal,…

Jumat, 06 Mei 2022 13:29

"Manusia Gurun" dan Pendidikan Nasional Kita

Oleh : Imran Duse*   DI PENGUJUNG Ramadan lalu, tatkala…

Minggu, 01 Mei 2022 19:46

Prahara Rektor ITK

Catatan Rizal Effendi   CUITAN Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK)…

Jumat, 29 April 2022 15:45

Yang Untung dan Buntung di Idulfitri

Bambang Iswanto Ramadan tinggal beberapa hari lagi berlalu. Suasana akhir…

Jumat, 29 April 2022 10:59

Big Data Sebagai Informasi Sertamerta (?)

Oleh: Imran Duse (Wakil Ketua Komisi Informasi Kaltim)    Dalam…

Selasa, 26 April 2022 14:05

Pasca Eksploitasi SDA Menuju Eksploitasi Pariwisata

Penulis : Idham Cholid Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers