MANAGED BY:
SENIN
16 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | NASIONAL

KOLOM PEMBACA

Selasa, 28 Desember 2021 10:16
Kecerdasan Jangan Hanya Dilihat Dari Angka
-

Hartoyo
Guru SMAN 3 Samarinda

 

Sebentar lagi musim terima raport dimulai. Orang tua terutama siswa biasanya harap-harap cemas ingin melihat prestasi yang dicapai selama satu semester ini. Nilai bagus tentu menjadi harapan dan akan menjadi kebanggaan.

Meskipun nilai raport dikemudian hari tidak menjamin kesuksesan anak dalam menjalani kehidupan di masyarakat, tetapi dalam sistem pendidikan kita nilai masih menjadi patokan dalam menentukan keberhasilan, misal saat kenaikan kelas, bila ada siswa yang memiliki nilai di bawah KKM dalam beberapa mata pelajaran bisa menyebabkan tinggal kelas.
Jadi wajar kalau anak dan orang tua menjadi gelisah karenanya, seandainya nilai raport tidak dijadikan sebagai penentu kenaikkan kelas maka akan berbeda reaksinya.
Demikian juga saat ingin masuk ke perguruan tinggi melalui jalur undangan (tanpa tes)/SNMPTN yang menjadi persyaratan adalah nilai raport semester 1-5. Bila tidak terjaring atau tidak ingin melalui jalur raport bisa memilih jalur lainnya yang melalui tes yaitu jalur SBMPTN dan jalur Mandiri.

Raport merupakan sebuah dokumen yang menjadi penghubung antara orang tua siswa dengan pihak sekolah (kepala sekolah,guru,wali kelas, bimbingan konseling). Dengan raport orang tua bisa mengetahui perkembangan, mengetahui kelemahan dan kelebihan yang dimiliki anaknya.

Bila ada nilai mata pelajaran yang didapat tidak sesuai harapan maka selama tidak berada di bawah KKM seharusnya tidak perlu terlalu gelisah dan orang tua tidak perlu marah pada anak. Yang perlu dilihat dan diapresiasi adalah semangat dan perjuangan anak dalam belajar, beri semangat dan motivasi agar lain kali menjadi lebih baik.

Perlu dipahami bahwa nilai raport tidak mencerminkan kecerdasan anak secara umum, mengingat kecerdasan anak memang berbeda-beda. Ada anak yang cerdas di matematika tetapi tidak cerdas di bahasa, ada yang cerdas di mata pelajaran ipa tetapi tidak lainnya, dan seterusnya. Orang tua bisa mengamati dengan teliti dan bertanya kepada anak apa yang menjadi minat dan pelajaran apa yang disukai serta apa yang menjadi cita-cita atau keinginan dikemudian hari.

Tidak harus pandai matematika bila bakat dan minatnya pada bidang musik, tidak harus pandai biologi bila tujuannya ingin jadi pengusaha, tidak harus pandai kimia bila tujuannya ingin jadi ekonom, tidak harus pandai fisika bila ingin jadi presiden, dan seterusnya.
Meskipun menjadi pandai pada semua mata pelajaran yang dimaksud itu lebih bagus, tetapi bakat dan minat seorang siswa biasanya menonjol pada bidang tertentu.

Nilai-nilai yang tertera pada rapor menggambarkan pencapaian siswa pada saat itu, bukan dan tidak akan menjamin keberhasilan di lain waktu atau pada semester berikutnya, nilai yang diperoleh bisa saja berubah, bisa naik , bisa turun atau tetap.
Pada saat pengambilan nilai kondisi siswa sangat memengaruhi, mulai dari nilai harian, nilai mid dan nilai semester, bila kurang sehat atau tiba-tiba ada masalah yang mengganggu pikiran itu akan berpengaruh pada pencapaian hasil.

Sementara guru tidak mungkin bisa mendeteksi satu persatu permasalahan yang terjadi pada siswanya. Demikian juga orang tua tidak selalu bisa mengetahui persoalan yang sedang terjadi pada anak. Oleh sebab itu sungguh kurang tepat kalau menilai kecerdasan siswa hanya dari angka-angka yang tertera.

Teori multiple intelligences yang dikemukakan oleh Howard Gardner pakar pendidikan dan psikologi menyebutkan bahwa ada delapan jenis kecerdasan anak. Delapan jenis itu adalah kecerdasan linguistic, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan bermusik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis.

Silahkan diamati termasuk manakah kecerdasan yang dimiliki oleh anak. Tentang hal ini lebih detailnya bisa searching di internet.
Biarkan anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat, minat dan potensinya masing-masing, untuk itu anak harus berusaha, mengasah dan berlatih agar potensi dalam dirinya muncul. Sementara orang tua berkewajiban menuntun, mendorong dan memfasilitasinya. (luc)


BACA JUGA

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Seleksi KOSN 2022 Bertahap

Haspul Anwar SD 003 Samarinda Utara   Kompetisi Olahraga Siswa…

Jumat, 13 Mei 2022 10:59

Penjelasan Unknown Hepatitis yang Menyerang Anak

Ferry Fadzlul Rahman Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur…

Selasa, 10 Mei 2022 10:42

Menanti Gebrakan Tim Transisi

Oleh: Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan     ALHAMDULILLAH…

Senin, 09 Mei 2022 21:49

Rektor ITK, Dari Sebuah Jarak

Oleh : Imran Duse   "Tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya, …

Jumat, 06 Mei 2022 16:57

Kesadaran Pasca-Ramadan

Oleh : Bambang Iswanto    Seiring dengan masuknya 1 Syawal,…

Jumat, 06 Mei 2022 13:29

"Manusia Gurun" dan Pendidikan Nasional Kita

Oleh : Imran Duse*   DI PENGUJUNG Ramadan lalu, tatkala…

Minggu, 01 Mei 2022 19:46

Prahara Rektor ITK

Catatan Rizal Effendi   CUITAN Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK)…

Jumat, 29 April 2022 15:45

Yang Untung dan Buntung di Idulfitri

Bambang Iswanto Ramadan tinggal beberapa hari lagi berlalu. Suasana akhir…

Jumat, 29 April 2022 10:59

Big Data Sebagai Informasi Sertamerta (?)

Oleh: Imran Duse (Wakil Ketua Komisi Informasi Kaltim)    Dalam…

Selasa, 26 April 2022 14:05

Pasca Eksploitasi SDA Menuju Eksploitasi Pariwisata

Penulis : Idham Cholid Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers