MANAGED BY:
SABTU
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Kamis, 02 Desember 2021 10:12
Pasar Saham Dunia Terpengaruh Varian Omicron, Moderna Khawatir, Pfizer Sudah Bersiap
WASWAS: Petugas Bandara Internasional Incheon memandu penumpang di aula kedatangan, Selasa (30/11), di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang varian Omicron Covid-19. Jung Yeon-je / AFP

Situasi saat ini diprediksi memunculkan lockdown massal. Yang akan memperburuk perekonomian sejumlah negara.

 

Pasar global terguncang Selasa (30/11). Penyebabnya adalah pernyataan yang dilontarkan oleh CEO Moderna Stephane Bancel. Dia memprediksi bahwa vaksin Covid-19 yang ada saat ini tidak akan terlalu efektif melawan varian Omicron. Kemampuan perlindungannya berbeda saat menghadapi varian Delta.

''Saya rasa tidak ada tempat di dunia ini di mana efektivitas vaksin berada pada level yang sama dengan saat menghadapi varian Delta. Saya pikir bakal terjadi penurunan kemanjuran, tidak tahu berapa banyak karena kita perlu menunggu datanya,'' ujar Bancel seperti dikutip Agence France-Presse.

Pengusaha 49 tahun itu menjelaskan bahwa dia berbicara dengan beberapa ilmuwan. Semuanya mengatakan bahwa situasi yang ada saat ini tidak akan baik-baik saja.  Kemungkinan butuh vaksin baru untuk mengalahkan Omicron. Namun, untuk membuatnya, perusahaan farmasi butuh waktu berbulan-bulan.

Hanya berselang beberapa jam, pasar saham mulai bergolak. Indeks saham Stoxx 600 Eropa turun sekitar 1,3 persen. FTSE 100 Inggris, Dax Jerman dan Cac 40 Prancis semuanya turun dengan margin yang sama. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 2,3 persen. Minyak mentah berjangka turun lebih dari satu dolar dan mata uang Australia mencapai level terendah dalam setahun.

’’Hanya butuh satu komentar dari bos farmasi Moderna untuk menggelincirkan pasar sekali lagi. Pasar benci ketidakpastian dan inilah tepatnya yang kita miliki sekarang. Tidak ada yang tahu berapa banyak masalah yang akan ditimbulkan oleh varian baru ini,’’ terang Direktur Investasi AJ Bell Russ Mould.

Melihat situasi yang ada saat ini, muncul persepsi bahwa bakal ada lockdown massal. Imbasnya adalah terpuruknya perekonomian sejumlah negara. Semua pihak saat ini masih menunggu hasil riset para peneliti terkait dengan Omicron. Baik itu kemampuan penularan, tingkat kematian, maupun ketahanannya terhadap vaksin.

Di sisi lain, CEO Pfizer Albert Bourla justru sudah bersiap. Dia menyatakan khawatir, tapi tidak panik dengan adanya Omicron.  Butuh waktu setidaknya 2-3 pekan untuk tahu apakah vaksin Covid-19 milik Pfizer bekerja terhadap Omicron. Meski begitu, perusahaannya sudah membuat vaksin baru yang dimodifikasi untuk berjaga-jaga sembari menunggu hasil riset. Vaksin baru itu bahkan sudah diproduksi.

Saat ini setidaknya sudah ada sekitar 70 negara yang membatasi akses di perbatasan, utamanya untuk negara-negara dari Afrika. Namun, belum ada yang melakukan lockdown karena Omicron. Presiden AS Joe Biden menjelaskan bahwa saat ini lockdown tidak diperlukan. ''Kita akan berperang dan mengalahkan varian baru ini,'' tegasnya.

Di lain pihak Australia memilih untuk memundurkan jadwal pembukaan perbatasannya. Seharusnya hari ini (1/12) pintu perbatasan internasional dibuka khusus untuk para pelajar dan pekerja terampil. Namun, jadwal tersebut diundur hingga 15 Desember, sembari menunggu perkembangan Omicron.

Beberapa kota besar juga membuat kebijakan masing-masing untuk mencegah gelombang penularan baru. Di London, Inggris misalnya, penduduk wajib bermasker ketika naik kendaraan umum. Jika melanggar, sanksi denda sudah menanti. Itu merupakan regulasi baru, karena sebelumnya Inggris sudah membebaskan penggunaan masker.

Direktur National Institutes of Health Dr Francis Collins juga menyarankan hal serupa. Anjuran memakai masker itu bukan hanya karena Omicron, tapi juga disebabkan varian Delta belum punah sepenuhnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa munculnya Omicron ini terkait ketidakmerataan vaksin. Negara-negara di Benua Afrika termasuk golongan yang memiliki angka vaksinasi rendah.

’’Rakyat Afrika tidak dapat disalahkan atas rendahnya tingkat vaksinasi yang tersedia di sana. Mereka tidak boleh dihukum karena mengidentifikasi serta berbagi informasi ilmu pengetahuan dan kesehatan yang penting dengan dunia,’’ tegas Sekjen PBB Antonio Guterres seperti dikutip The Guardian.

Tiongkok kemarin berjanji untuk mengirimkan satu miliar dosis vaksin ke Benua Afrika. Sementara India yang merupakan produsen vaksin terbesar dunia juga membuat janji serupa. Yaitu membantu ketersediaan vaksin dan peralatan medis. (sha/bay/jpg/dwi/k16)


BACA JUGA

Rabu, 24 Oktober 2012 08:56

Bimtek bagi Pendata NJOP

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA </strong>&ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers