MANAGED BY:
SENIN
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Minggu, 28 November 2021 12:22
Perempuan yang Gemar Merias Diri

 

 ESTY PRATIWI LUBARMAN, lahir di Samarinda, 28 November 1999. Mahasiswa Universitas Mulawarman, Fakultas Ilmu Budaya. Pada 2019 melahirkan buku kumpulan puisi berjudul "Perempuan Dikekang Malam".

 

Karya: Esty Pratiwi Lubarman

 

Tidak ada selamat malam di sini. Semua orang memungut kesepiannya. Angin yang membelai pelan tengkukmu. Gemericik hujan itu pura-pura mencintai tanah yang sesaat menjadi lembap. Seberkas cerita lama menjejali sudut ruangan ini. Di balik jendela tua ini seberkas wajah perempuan membawa perasaannya sangat hati-hati.

Apakah warna kematian itu? Apakah dia datang dengan kain kuning atau sebuah ilusi abu-abu dengan sayap-sayapnya yang rancu.

Rinjani, perempuan yang sudah tiga tahun menginap di bangsal perawatan penyakit jiwa. Sesekali ia meronta bahkan melolong-lolong di kamarnya yang seperti bui. Disebutnya acak nama laki-laki yang entah siapa. Terkadang di suatu malam dia hanya menangis tanpa henti.

Kulitnya yang cokelat, matanya seperti bunga yang gagal ranum diganjil Februari. Segumpalan kisah membuat tubuhnya kurus dan sunyi. Tetapi rona merah di pipinya tidak pernah pudar. Kesedihan itu tidak pernah meninggalkan garis-garis di bibirnya.

"Bisa kubayangkan kecantikannya ketika dia sehat. Wah, sayang sekali," ucap petugas itu menatap lurus Rinjani yang tengah duduk di balik jendela besi.

Tiga tahun lalu ia dibawa salah seorang yang mengaku tetangganya. Diceritakan bahwa Rinjani hidup seorang diri setelah ditinggalkan seluruh anggota keluarganya. Ayah dan ibunya bercerai. Ia kemudian tinggal bersama ibunya sampai pada suatu masa ibunya menikah lagi. Tanpa sepengetahuan ibunya, Rinjani sering kali disetubuhi.

Hingga tahun setelahnya, ibunya meninggal karena suatu wabah serius yang menyerang tempat ia bermukim. Hari-hari setelahnya, tetangganya hanya mendengar suara tangisan Rinjani dan amarah ayah tirinya. Pukulan, tendangan, perkataan kasar, seperti itulah tetangga melihat hari-hari Rinjani. Hingga pada akhirnya ayah tirinya meninggalkan Rinjani dan rumah itu tanpa pernah kembali.

Rinjani merawat banyak kehilangan di tubuhnya. Hingga suatu hari tetangga-tetangga  saling berbincang dan berbisik. Rinjani sering pulang larut malam dengan pakaian yang terlalu terbuka bagi orang-orang di sana. Rias wajah yang bahkan menetupi segala hal yang berantakan di dalamnya. Bahkan ia tidak pernah lagi keluar rumah tanpa riasan wajah. Rinjani yang muda, lugu, dan ramah sedang memainkan peran lainnya.

Tahun-tahun mengering hingga tetangganya mendapati Rinjani bahkan tidak pernah keluar rumah. Orang-orang sering melihat Rinjani duduk di balik jendela rumahnya. Ia menolak berbicara kepada siapa pun. Ia hanya suka berbicara dengan dirinya sendiri, menyebutkan nama laki-laki yang entah dari mana sambil memaki.

"Ya, jelas cantik. Dulu kan dia seorang pelacur," lelucon petugas lainnya.

"Seorang pelacur itu orang yang paling berani. Bahkan dia sembunyikan ketakutan dan kesepiannya di bawah lapisan-lapisan riasan wajahnya sendiri," percakapan-percakapan dua petugas yang sesekali melihat ruangan Rinjani dan seorang perempuan di dalamnya yang dirundung kesedihan.

"Aku jadi ingat, dua hari yang lalu dia untuk pertama kalinya berbicara. Dan kamu tahu, dia meminta lipstik kepadaku. Ah sebentar aku membelikannya dan kusimpan di lemari ruang ganti. Sebentar, sebentar aku akan kembali".

Petugas itu meninggalkan obrolan dengan langkahnya yang sedikit berlari untuk mengambil lipstik keinginan Rinjani. Setelah mengambilnya dari ruang ganti, petugas itu memberanikan diri memberikan kepada Rinjani yang tengah hampa di balik jendela itu. Pandangannya kosong, ia hanya menatap sebuah sepi yang sudah sering kali hinggap di tubuhnya.

"Rinjani, aku membelikan lipstik yang kamu mau. Aku membelikan ini dengan uangku sendiri, aku yakin ini sangat cocok untukmu."

Awalnya Rinjani tidak menggubris kedatangan petugas itu. Tetapi berubah ketika petugas itu mengeluarkan benda kecil yang menjadi kesenangan Rinjani sejak lama. Apakah Rinjani merindukan dirinya dengan solekannya yang membangunkan gairahnya sebagai perempuan?

Tanpa ragu Rinjani mengambil lipstik itu, mengeluarkan tangannya yang halus dari balik jendela besi itu. Petugas itu terlihat tersenyum, Rinjani akhirnya ingin berinteraksi dengan orang di luar dirinya sendiri.

"Aku tidak gila, aku hanya ingin selalu cantik," suaranya pelan. Ia tenggelamkan wajahnya sangat hati-hati, ia tersenyum kecil. Terlihat jelas seorang anak perempuan yang lembut dan halus masih bersarang di sana.

"Tidak ada yang mengatakan kamu gila. Keadaanmu sedang tidak sehat saja Rinjani, itu kenapa kamu perlu dirawat di sini. Lagi pula semua orang di dunia ini sakit, hanya mereka tidak seberani kamu untuk mau dirawat," sebuah jawaban yang seolah menenangkan hati Rinjani.

Rinjani beranjak menuju tempat tidurnya, lipstik itu digenggamnya sangat erat. Ia seolah acuh tak acuh dengan jawaban petugas itu.

Malam menjadi sangat sepi, hujan di luar sana sebentar berhenti dan meninggalkan gigilnya. Di sini orang-orang hidup penuh kehati-hatian, tidak ingin membangun luka karena khawatir tidak akan pernah pulih seperti semula. Beberapa orang hidup di atas lukanya sendiri. Perempuan yang menanam benih dan laki-laki meninggalkan kerak di dalamnya. Mungkinkan Rinjani adalah beratus perempuan lain dengan segala wujudnya? (***/dwi/k8)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 07:40

Curah Hujan Tinggi Ancam Pengadaan Beras

<div> <div> <strong>PENAJAM </strong>- Curah hujan tinggi yang diperkirakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers