MANAGED BY:
JUMAT
03 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Rabu, 17 November 2021 11:47
Diam-Diam BBM Naik, kok Bisa?

Romdani

Wapemred Kaltim Post

 

 

LORONG-lorong kampus yang biasa jadi lokasi diskusi, belakangan terlihat sepi. Bisa jadi karena pandemi. Atau karena alasan lain.

Dulu persoalan bahan bakar minyak (BBM) jadi isu yang enak “digoreng-goreng” oleh mahasiswa. Naik lima ratus rupiah saja per liter, gejolaknya di mana-mana. Rapatnya juga ke mana-mana hingga penjuru fakultas. Bahkan, organisasi eksternal turut terlibat. Mereka menyusun teknis lapangan atau dulu kami sering menyebutnya teklap. Teklap biasa dilakukan sehari sebelum demonstrasi.

Namun, sejauh yang saya tahu, kini diskusi menganalisis bahan bakar minyak (BBM) kurang terdengar dari kalangan mahasiswa. Baik itu subsidi maupun non-subsidi. Dulu premium disubsidi. Sekarang hanya solar yang disubsidi.

Belakangan antrean kendaraan banyak mengular di SPBU. Mereka mengantre solar. Tapi diskusi terkait itu oleh mahasiswa di kampus juga kurang terlihat. Atau jangan-jangan tidak ada. Malah kini heboh kasus Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang dianggap sebagai patung istana. Kritikan itu dilancarkan saat orang nomor dua RI itu berkunjung ke Samarinda, beberapa waktu lalu. Persoalan itu membuat mahasiswa diminta klarifikasi di kepolisian.

Terlepas dari itu, antrean solar di SPBU bukan perkara baru. Hampir saban tahun persoalan tersebut tak kunjung ada solusinya. Bahkan sudah berjalan bertahun-tahun. Kuota disebut aman, faktanya pengendara kesulitan menemukan solar di pom bensin. Banyak yang menduga, solar “diminum” oleh alat berat di lokasi tambang.

Modusnya beragam. Ada pengetap yang sengaja bolak-balik SPBU untuk membeli solar. Ada pula SPBU yang secara langsung menjual solar bersubsidi ke tambang. Tentu pengusaha tergiur dengan harga yang lebih mahal dijual ke tambang ketimbang melayani konsumen di SPBU. Bahkan, ada yang lebih ekstrem dari itu. Mungkin di tulisan yang lain, akan saya bahas. He-he-he.

Intinya selama masih ada celah mengeruk keuntungan yang lebih besar, maka kesempatan itu yang akan diambil. Apalagi disparitas harga solar bersubsidi dan nonsubsidi juga terbilang jauh. Ditambah pengusaha yang memanfaatkan lemahnya pengawasan aparat atau regulator.

Belakangan premium bakal dihapus. Bila demikian, apalah bedanya dengan kenaikan harga BBM. Namun pemerintah punya gaya baru menaikkan harga BBM itu. Lebih smooth. Tanpa ribut. Tanpa protes dari publik. Caranya lebih cerdas. Jatah premium mula-mulanya dikurangi. Alasannya, bensin itu tidak ramah lingkungan. Oktannya rendah dengan angka Research Octane Number (RON) 88. Tidak standar Euro-IV.

Di dunia hanya empat negara termasuk Indonesia yang masih menggunakan BBM RON 88. Namun, pemerintah tidak membeber, siapa ketiga negara lainnya. Sementara oktan yang disarankan sesuai standar Euro-IV adalah minimal RON 90. Yakni, pertalite.

Kini bukan hanya dikurangi kuotanya, premium seperti tenggelam. Sulit ditemukan. Kalaupun SPBU itu menjual premium, biasanya stoknya cepat habis. Terbaru, program Langit Biru mulai dihapuskan. Padahal, tidak semua SPBU melayani program itu. Hanya pom bensin yang sudah ditunjuk.

Dalam program Langit Biru, pertalite dijual seharga premium. Namun, hanya bisa dinikmati oleh pengendara roda dua dan angkutan kota (angkot). Harga pertalite versi Langit Biru sekitar Rp 6.450 per liter. Sementara harga pertalite di luar kendaraan roda dua dan angkot sebesar Rp 7.850 per liter.

Bila bensin benar-benar dihapuskan secara keseluruhan, artinya masyarakat tak punya pilihan lain. Minimal mereka membeli pertalite sebagai BBM paling murah untuk kendaraan mereka. Di luar kendaraan berbahan bakar solar. Tak ada lagi premium. Tak ada program Biru Langit yang menjual pertalite seharga premium (Rp 6.450 per liter).

Dengan kata lain, warga terpaksa mengeluarkan uang lebih per liternya. Selisihnya sekitar Rp 1.400 per liter. Secara tak langsung BBM naik Rp 1.400 per liter. Bagi saya tidak kaget. Karena sudah lima tahun kendaraan saya “mengonsumsi” BBM RON 90 itu. Bahkan, empat tahun belakangan ini saya tidak pernah membeli premium.

Artinya, meski bensin itu dihapus, tidak berpengaruh ke saya. Juga, sejumlah orang yang memiliki kendaraan modern. Di mana memakai pertalite adalah kewajiban minimal. Demi mesin kendaraan mereka tetap terjaga.

Lain halnya bagi pengendara yang memang biasa sehari-harinya mengandalkan premium sebagai BBM. Salah satunya sopir angkot. Ketika premium menghilang di SPBU dan program Langit Biru dihapus, sudah pasti terasa berat. Bagi mereka, sama saja harga BBM naik. Karena tidak ada pilihan lain selain membeli pertalite harga normal. BBM termurah untuk roda dua. Imbasnya, tarif angkot di Balikpapan kini sudah naik. Sesuai rute.

Strategi pemerintah memang jitu. Teknik komunikasi yang paripurna. Tanpa ada protes. Tanpa ada kegaduhan. Tak ada demonstrasi oleh mahasiswa. Bisa jadi karena tema yang digaungkan oleh pemerintah bukan kenaikan BBM. Tapi akan menghapus premium. Tapi sama saja, diam-diam BBM naik. Dengan cara yang berbeda. (rom/k8)


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers