MANAGED BY:
JUMAT
03 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Selasa, 16 November 2021 10:41
Bukan Rapor, Penentuan Murid Naik Kelas Dilihat dari Usia
Andi Kayyang

 Sabakkatang secara administrasi masuk Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Namun, secara geografis, pulau itu letaknya lebih dekat dengan Kaltim.

 

ROMDANI, Mamuju

 

BILA ditarik garis lurus dari Dermaga Manggar, Balikpapan Timur, jaraknya sekitar 135,85 kilometer atau 84,41 mil. Sedangkan dari provinsi ini jarak terdekat berada di Paser. Lebih tepatnya dari Teluk Apar, Desa Selengot, Kecamatan Tanjung Harapan, Paser. Jaraknya sekitar 102,13 kilometer atau 63,46 mil. Sementara jarak pulau itu ke ibu kota di Mamuju sekitar 152,81 kilometer atau 94,95 mil.

Awak Kaltim Post berkesempatan kembali mendatangi pulau yang sempat ingin diambil alih oleh Pemprov Kaltim sebagai bagian dari wilayahnya itu pada Agustus lalu. Pulau yang menyimpan potensi kekayaan laut. Berupa terumbu karang yang bagus untuk wisata diving. Belum lagi hasil laut untuk konsumsi sehari-hari.

Upaya Kaltim merebut Kepulauan Balabalagan bukan tanpa alasan. Mengingat, kepulauan itu secara geografis letaknya lebih dekat ke Benua Etam. Ketimbang ke ibu kota di Mamuju. Bukan hanya itu, warga di sana lebih sering ke Balikpapan untuk belanja keperluan sehari-hari. Begitu juga menyekolahkan anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Hingga mereka yang berobat atau ibu yang melakukan persalinan, lebih memilih ke Kota Minyak.

Di Pulau Sabakkatang yang masuk kawasan Kepulauan Balabalagan itu hanya ada satu SD negeri. Sekolah itu juga melakukan pembelajaran setingkat SMP. Tapi sayang kurang efektif. Sekolah lebih banyak liburnya ketimbang belajar. Mengingat guru didatangkan langsung dari Mamuju. Bila sekolah berjalan dua pekan, liburnya bisa dua bulan. Begitu seterusnya.

Terlebih saat pandemi seperti sekarang, murid nyaris tak sekolah selama hampir setahun. Mau belajar daring juga tak bisa, mengingat sulitnya mengakses internet. Jaringan seluler belum tentu ada seharian mengingat base transceiver station (BTS) milik Telkomsel masih mengandalkan tenaga surya. Bila hujan seharian, sudah pasti solar cell tidak bekerja dan jaringan seluler tidak didapat.

“Kami bahkan pernah lama enggak sekolah. Sekitar tiga tahun. Gurunya enggak ada,” beber Muhammad Albaidawi, murid kelas 6 SD Pulau Sabakkatang.

Murid 12 tahun itu mengatakan, di sekolah itu ada 40-an murid dari kelas 1–6. Dia tahun depan lulus dan berencana melanjutkan SMP di Balikpapan. “Mungkin saya mau sekolah di pondok pesantren di Balikpapan. Ada keluarga saya di sana,” beber remaja yang akrab disapa Alwi itu.

Sama seperti Alwi, Muhammad Alqairah juga akan melanjutkan SMP di Kota Minyak. Selain jaraknya lebih dekat, di kota ini dia memiliki banyak keluarga. “Ada paman dan tante saya di sana (Balikpapan),” ucapnya.

Remaja yang akrab disapa Alqa itu mengaku, sebenarnya di Pulau Sabakkatang ada SMP yang menyatu dengan SD. Namun, dia menilai tidak efektif, terlebih pelajarnya juga tidak banyak. Selain itu, dia mendapat tawaran SMP di Mamuju. Dengan tetap di rumah, dia bisa belajar secara daring. “Tapi saya enggak mau. Enak sekolah di Balikpapan,” tegasnya.

Andi Kayyang, tokoh masyarakat di Pulau Sabakkatang mengakui, pembelajaran di SD di pulau itu tidak efektif. Mengingat, guru yang jarang datang untuk mengajar. “Sebelum ada Covid-19 saja guru malas datang (ke sekolah). Apalagi sekarang saat pandemi, guru makin malas datang. Apalagi tidak ada belajar daring. Jadi, murid enggak belajar,” bebernya.

Dia bahkan hampir lupa kapan terakhir kali belajar. Mirisnya karena aktivitas belajar-mengajar sekolah tidak rutin, tokoh masyarakat akhirnya bersepakat. Penentuan kenaikan kelas dilihat dari usia. Bukan dari nilai rapor sekolah para pelajar. Sudah bisa baca atau belum, juga bukan menjadi patokan. “Kepala sekolah juga tidak bisa berbuat apa-apa. Memaklumi kondisi itu,” ucapnya.

Menurut dia, sejumlah guru yang tugas di Pulau Sabakkatang itu hanya jadi batu loncatan. Mereka akan pindah ke kota ketika sudah diangkat menjadi PNS. Atau mereka yang ditugaskan ke pulau, itu adalah PNS baru yang biasanya hanya bertahan beberapa tahun. Setelah itu pindah ke kota di Mamuju.

Andi mengungkapkan, bagi anak-anak pulau yang hendak melanjutkan pendidikan SMP, umumnya mereka menyeberang ke Balikpapan. Selain lebih dekat, infrastruktur di Kota Minyak lebih memadai ketimbang Mamuju.

Guru SD Negeri Pulau Sabakkatang juga melayani pelajar SMP. Ada sekitar 20-an pelajar yang mengenyam pendidikan SMP di bangunan SD itu. Bila lulus, para pelajar juga dijanjikan mendapat ijazah SMP. “Tapi kalau mau berkembang, memang harus ke luar pulau. Cari sekolah yang lebih layak,” saran dia.

Adapun SMP lain yang terdekat dari Pulau Sabakkatang, ada di Pulau Salissingan. SMP di sana disebut lebih memadai. “Tapi kalau boleh jujur atau memilih, ya baiknya tetap ke Balikpapan kalau mau sekolah untuk SMP,” terangnya. (rom/k8)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 13:30

Sulam Tumpar Kukar Tembus Pasar Nasional

<div> <strong>TENGGARONG </strong>- Kutai Kartanegara (Kukar) mewakili Kaltim di ajang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers