MANAGED BY:
JUMAT
03 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Senin, 15 November 2021 17:54
YouTube dan Kreativitas Anak-Anak Muda Desa Tapen di Bondowoso

Setidaknya Sekarang Tak Malu-Malu saat Syuting Ditonton

PROSES KREATIF: Beberapa remaja Desa Tapen, Bondowoso, menjalani syuting film pendek untuk konten video di YouTube. Foto kanan, Imam Januar menunjukkan Silver Play Button yang didapatkan dari YouTube. M. AINUL BUDI

Berawal dari kegigihan seorang eks pegawai toko pakaian, puluhan sampai ratusan juta rupiah per bulan mengalir berkat beragam konten yang diproduksi di Tapen. Kini menjadi jujukan belajar para pemula yang datang dari berbagai kota.

 

M. AINUL BUDI, Bondowoso

 

DARI desa di tepian Jalan Raya Bondowoso–Situbondo, Jawa Timur, itu, mengalir penghasilan puluhan sampai ratusan juta rupiah per pekan. Lewat cerita-cerita semacam ”Bos Muda Naik Mobil Tua Mogok dan Di-Bully Temannya”, ”Seorang Sales Dihina Habis-habisan oleh Mantan Pacar dan Pacar Barunya”, atau ”Kisah Perantau Sukses Cintanya Dikhianati”.

Cerita-cerita pendek model FTV (film televisi) yang dibungkus plot serupa. Model ”from zero to hero”, dengan pesan moral di sana-sini, dan bahasa Indonesia para pemerannya yang medok Madura-Bondowosoan. Tapi, peminatnya ternyata berjibun.

Akun Bos Muda yang merilis video-video cerita pendek itu sampai tadi malam (14/11) pukul 21.00 sudah mencatat 1,41 juta follower. Dan, Bos Muda hanyalah satu di antara sederet akun yang lahir dari anak-anak muda di Desa Tapen yang berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat kota Bondowoso.

Dengan konten yang berbeda, ada Dzikir Basmallah yang memiliki 1,2 juta subscriber dan Reyhan Entertainment dengan 662 ribu subsriber, misalnya. Atau, RB Official yang punya 713 ribu subscriber dengan konten senada seperti Bos Muda.

Tak heran kalau Tapen, seperti halnya Desa Kasegeran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, belakangan dikenal sebagai Kampung YouTuber. Dan, otak di balik semua itu adalah Imam Januar.

Imam, eks pegawai toko pakaian di Kota Bondowoso, memulainya pada Maret 2017. ”Saya baru tahu (waktu itu) bahwa YouTube juga bisa mendapatkan uang. Saya pun belajar secara otodidak, menggunakan pengalaman sendiri dari upload video dengan pola-pola sederhana,” ujar Imam.

Tapen berada cukup jauh dari pusat kota kecil di bagian timur Jawa Timur itu. Mayoritas penduduknya secara turun-temurun bertani.

Tak mengherankan kalau gerak Imam memperkenalkan kultur YouTube awalnya mendapat banyak cibiran. ”Ada yang sampai bilang ke saya gila apa Google bisa bayar orang Tapen,” katanya, lantas tersenyum, kepada Jawa Pos Radar Ijen yang menemui di kediamannya pada Kamis (21/10) siang hampir sebulan lalu.

Tapi, seperti moral cerita pada video-video Bos Muda, kegigihanlah yang akhirnya menang. Empat tahun lebih sejak Imam memulainya, kini puluhan anak muda Tapen ramai-ramai terlibat dalam produksi konten. Mereka bisa memproduksi tiga video per hari.

Jawa Pos Radar Ijen menyaksikan produksi salah satu konten pada Kamis siang menjelang satu bulan lalu itu. Ada yang sibuk menyiapkan tripod memasang smartphone sembari menggunakan headset.

Tiga orang lainnya tengah menghafal dialog. Sembari memperagakan beberapa gerakan akting. Seorang lainnya menyiapkan sepeda motor untuk digunakan sebagai properti.

Dampak produktivitas berkonten itu pun mulai dirasakan. Pendapatan dari AdSense mengalir antara puluhan sampai ratusan juta rupiah.

Jadilah, menurut Imam, ada yang mampu melunasi utang orang tua, membelikan barang kesukaan bapak dan ibu, membiayai pendidikan, hingga yang sepenuhnya bisa hidup mandiri.

”Visi dan misi saya memang ingin mengurangi pengangguran remaja di desa saya ini. Alhamdulillah, sekarang teman-teman kreatif dan berkarya sembari mendapatkan penghasilan dari YouTube,” kata pria 34 tahun itu.

Hendri Tedja Sukmana, salah seorang anak didik Imam, mengaku sangat terbantu secara perekonomian berkat aktivitasnya di YouTube. Dia pun akhirnya berani memutuskan mundur sebagai pegawai honorer di Kecamatan Prajekan, Bondowoso.

”Alhamdulillah, penghasilan saya bertambah (dari YouTube),” ujar Hendri.

Tentang kunci kenapa konten produksi anak-anak muda Tapen disukai, kata Imam, ada pada kesederhanaan. Tema yang mereka angkat juga banyak ditemui sehari-hari.

Para pemeran dalam konten-konten video dari Tapen 90 persen berasal dari kalangan muda Tapen sendiri. Sedikit lainnya dari desa tetangga.

Selain video cerita pendek, mereka memproduksi konten berisi prank atau humor. Di hampir semua film pendek dari Tapen juga bertaburan penggalan dialog komikal.

”Ada juga konten Islami atau religi yang berisi doa sehari-hari. Pokoknya video yang banyak dicari pemirsa dan bermanfaat,” imbuh Imam.

Imam menulis sebagian skenario. Sebagian lain ditulis anak-anak didiknya. Ayah satu anak itu sengaja mempertahankan aksen medok khas Bondowoso sebagai bagian dari orisinalitas.

Karena rata-rata pemeran tak punya latar belakang perlakonan atau teater, gaya mereka di depan kamera memang masih sering tampak kaku. Sesekali bahkan masih ada yang terlihat mencuri pandang ke arah kamera ketika pemeran lain sedang berdialog.

Hendri mengakuinya. ”Saya harus terus melatih akting,” katanya. Tapi, setidaknya, menurut Imam, kepercayaan para aktor dan aktris Tapen kini sudah jauh meningkat. Tidak lagi malu-malu ketika ada warga desa yang menonton proses syuting.

Apalagi, sudah tak ada cemooh seperti dulu masih sering mereka dengar tiap kali ada warga yang melintas di lokasi syuting. Sudah ada kesadaran dan pemahaman warga secara umum bahwa yang dilakukan anak-anak muda itu bukan untuk gaya-gayaan. Mereka syuting untuk bekerja.

Proses syuting pun fleksibel. Dilakukan di berbagai sudut desa yang memiliki lima dusun tersebut. Peralatan pendukung seperti komputer, kamera, mik, dan tripod juga semakin lengkap berkat hasil dari Google AdSense.

Capaian Tapen di jagat YouTube juga bisa terwakili dari pajangan di dinding tembok kediaman Imam. Total ada 12 Silver Play Button YouTube yang berjajar. Juga dua Gold Play Button di atasnya. Tapen pun kini menjadi jujukan mereka yang ingin mengikuti jejak kesuksesan. Tak sedikit yang datang jauh dari luar Bondowoso seperti Jakarta, Tangerang, Pontianak, dan Gorontalo.

”Mereka berkonsultasi dan sharing langsung ke kami,” ungkapnya. Imam dan anak-anak didiknya yang dulu diremehkan sudah bisa membuktikan bahwa mereka kini bisa menjadi ”Bos Muda”. Tapi, tak lantas mereka akan berpuas diri. ”Di atas langit masih ada langit,” kata si ”Bos Muda” dalam ”Bos Muda Dipermalukan Cewek Baru Kenal Pria Sombong” itu. (*/c19/ttg)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 13:30

Sulam Tumpar Kukar Tembus Pasar Nasional

<div> <strong>TENGGARONG </strong>- Kutai Kartanegara (Kukar) mewakili Kaltim di ajang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers