MANAGED BY:
JUMAT
03 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Senin, 08 November 2021 13:43
LP2M Unmul Gelar Dialog Publik Kesiapan IKN Baru dalam Perspektif Lintas Budaya Nusantara

SAMARINDA - Masyarakat adat budaya dan seni memiliki kesiapan yang cukup berperan dalam pembangunan. Hanya saja, instansi terkait dan pemegang otoritas kebijakan di pemerintahan kerap berbeda apa yang diwacanakan dan implementasi di lapangan.

Salah satu contohnya yang belum dilaksanakan oleh pemerintah yaitu belum ada muatan lokal pada pendidikan berbicara budaya khas Kaltim Dayak dan Kutai seperti Seraung, alat musik Sape dan khas budaya lainnya. Hingga, tak ada dukungan pembuatan Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Gubernur untuk perlindungan seni budaya lokal.

Demikian hal ini disampaikan oleh Syafril Teha Noer selaku wartawan Senior dan Ketua Dewan Kesenian Daerah Provinsi Kalimantan Timur dalam Dialog Publik “Antara Modernitas dan Identitas: Membincang Kesiapan IKN Baru dalam Perspektif Lintas Budaya Nusantara".

Dialog publik dipandu oleh Unis Sagena, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unmul. Turut juga menjadi narasumber dialog publik ini yaitu Helena Semual Legi sebagai Ketua Dewan Adat Dayak PPU, Dr. Muhammad Arifin akademisi/koordinator Pusat Penelitian Sosial Humaniora LP2M Unmul dan Nelson Dino sebagai penulis/Peneliti Budaya, Malaysia.

Sementara itu, Rektor Unmul Prof H Masjaya mengucapkan terima kasih kepada LP2M Unmul yang menggagas acara ini. Ia berharap dialog diadakan ini tidak berhenti di prespektif budaya nusantara. Tapi terus berkembang prespektif mana saja agar menjadi rekomendasi perguruan tinggi bagi IKN baru.

"Saya sangat berbahagia hari ini para narasumber yang ditampilkan sudah punya pengalaman luar biasa. Dan pasti memberi masukan yang berarti untuk kita diskusikan sekaligus menjadi rekomendasi Perguruan tinggi yang bisa menjadi perhatian pemerintah bahwa salah satunya mengangkat masyarakat yang sejahtera bahagia dan berkeadilan," jelasnya.

Lebih lanjut, Syafril Teha Noer menjelaskan beberapa kali pejabat pemerintahan kerap berbicara pentingnya ketahanan budaya dalam kehidupan berbangsa bernegera. Tetapi lantas para budayawan dan seniman tidak melihatnya implementasinya dalam pembangunan.

"Terjemahan puja sanjung itu (pejabat) dalam perlakuan kesenian tetapi ada tidak satu kata dan tindakan. Boleh jadi teman teman budayawan dan Seniman itu menanggapi pertanyaan pertanyaan apa yang diberikan budayawan Seniman kepada IKN. Cenderung ditanggapi anda maunya apa. Peran apa yang diberikan pemerintah di IKN. Kalau sekedar untuk acara tari-tarian. Saya rasa mereka sudah cukup siap saja. Perlu seni rupa. Perlu musik. Sudah siap saja mereka," kata Syafril Teha Noer.

Sementara itu, Helena bercerita pengalaman dirinya dan rekannya untuk dilibatkan dalam juknis dan juklak Sayembara IKN. Ia berharap tiga unsur masyarakat adat yaitu masyarakat Dayak secara umum, khusus adat Dayak Paser dan Kutai dimasukan dalam sayembara IKN.

"Kita ingin eksis masyarakat tetap ada meski IKN baru di Kaltim. Kemudian, saya juga ingin sampaikan kecemasan kita nanti datangnya berjuta-juta orang ke IKN. Sehingga harus ada kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dari segi pendidikan dan pengelolaan Sumber Daya Alam," katanya.

Adapun, Dr Muhammad Arifin menjelaskan dalam pokok-pok kebudayaan terbagi dua, material dan inmaterial. Kebudayaan yang fisik atau meterial telah dikerjakan arkeologi seperti peninggalan benda bersejerah, arsitektur tradisional, situs. Sedangkan, kebudayaan tak benda yang sulit dipahami.

"Kebudayaan tak benda ini yang susah. Karena didalamnya ada ideologi lokal. Ada keyakinan. Ada praktek ritual. Ada pengetahuan lokal, menanam dan memetik sampai pengobatan. Ini yang harus dilindungi. Dan ini butuh eksplorasi yang mendalam. Inilah yang menggerakan prilaku masyarakat," katanya.

Muhammad Arifin mencontohkan ritual Erau dilaksanakan ada ideologi lokal dibelakangnya. Kemudian, bila budaya Kaltim ditonjolkan dalam IKN maka harus dikompromikan. Mana saja budaya yang ditonjolkan. (myn)

BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Kamis, 02 Desember 2021 09:59

Sikap Aliansi Akademisi. Tolak Pemberlakuan UU Cipta Kerja dan Seluruh Aturan Turunannya..!!

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 91/PUU-XVIII/2020 yang mengabulkan uji formil…

Kamis, 02 Desember 2021 09:43

Sengketa Golkar vs Wali Kota Samarinda Berlanjut ke Persidangan

MEDIASI antara DPD Golkar Kaltim dan Wali Kota Samarinda Andi…

Kamis, 02 Desember 2021 09:40

Berniat Merapikan Gigi Malah “Digauli”

SAMARINDA–Tak pernah tebersit dalam benaknya bakal jadi korban kebiadaban seorang…

Kamis, 02 Desember 2021 09:39

Uji Kompetensi PTT Disabilitas Rampung

SAMARINDA–Tahap uji kompetensi bagi pegawai tidak tetap (PTT) bidang administrasi…

Kamis, 02 Desember 2021 09:36

APBD 2022 Samarinda Rp 2,6 Triliun, Belanja Infrastruktur Fokus Tangani Banjir

Pemkot Samarinda bersama DPRD Samarinda menyepakati besar Anggaran Pendapatan dan…

Rabu, 01 Desember 2021 12:33

Jabat Ketua MKGR Kaltim, Hamas: Saya merasa Bangga Telah Dipercaya, Pastinya Kita akan Menangkan Pak Airlangga

SAMARINDA - Ketua Umum DPP MKGR, Adies Kadir melantik Hasanuddin…

Rabu, 01 Desember 2021 10:53

Sampaikan Nilai Ganti Rugi Warga Sungai Mati, Dua Orang Tak Terima Hasil Penilaian

SAMARINDA–Sebanyak 22 warga RT 38, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai…

Rabu, 01 Desember 2021 10:52

UMK Samarinda Hanya Naik Rp 25 Ribu

SAMARINDA–Dewan Pengupahan Kota (Depeko) Samarinda telah audiensi dengan wali kota…

Rabu, 01 Desember 2021 10:50

Tiga Tahun Mulus Edarkan Upal , Toko Eceran Jadi Incaran

Ancaman mendekam lama di balik jeruji besi menimpa MT, alumnus…

Rabu, 01 Desember 2021 09:36

Subuh, 4 Bangunan di Jalan Elang Terbakar

SAMARINDA - Kebakaran kembali terjadi di kota Samarinda pada Rabu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers