MANAGED BY:
RABU
01 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Kamis, 28 Oktober 2021 09:01
Menjaga Kopi Arjasari dari Jerat Tengkulak, Membawanya Terbang ke Eropa

Tinggal Menunggu Sertifikat dari Belanda untuk Ekspor

Kepala BUMDes Arjasari. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

BUMDes Saraka yang dimotori Aep Saepudin mengerek harga kopi petani sampai empat kali lipat. Mau setor berapa kilogram pun, semua dinaungi.

 

SAHRUL YUNIZAR, Kabupaten Bandung

 

AEP Saepudin menuangkan kopi dari kemasan yang bertulisan Aras Coffee itu ke dalam gelas-gelas mini. ”Coba dicium,” ujarnya. Belum sempat kami bereaksi, dia sudah menyambar. ”Kuat ya,” katanya.

Kami bertandang ke rumah Aep di Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (11/10) sore dua pekan lalu. Kopi yang dituangkan Aep adalah Java Preanger, kopi dataran tinggi Priangan. Kopi itu tumbuh subur di Arjasari, di lahan-lahan pertanian di kawasan kaki Gunung Malabar. Yang ditanam tanpa pupuk kimia.

Aep merupakan motor penggerak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Saraksa. Badan usaha yang membawahkan Aras Coffee. Juga mitra merek kopi lainnya yang berbasis di Arjasari. BUMDes Saraksa adalah badan usaha di bawah Desa Arjasari. Aras Coffee yang mereka produksi sudah membidik pasar Eropa. Mereka tengah berusaha mendapat sertifikat ekspor ke Belanda.

”Kopi kami agak strong, langsung teb pas diminum,” ungkap Aep. Teb yang dimaksud Aep adalah nusuk. Dan, memang itu yang kami rasakan. Aroma kopi itu memang kuat, nusuk. Apalagi setelah air panas dituangkan ke gelas-gelas mini yang dibawa pria kelahiran 11 Mei 1967 tersebut. Wangi kopi langsung menyebar ke mana-mana. Bersama kepulan asap yang menyembul-nyembul ke luar gelas.

Tidak banyak yang diceritakan Aep sore itu. Dia hanya meminta kami menghabiskan kopi buatannya. Sambil menyantap ubi rebus olahan istrinya. Lalu, dia mengajak kami datang ke tempat pengolahan kopi milik BUMDes Saraksa. Tapi, tidak hari itu. ”Besok saya kasih lihat,” janjinya.

Benar saja, besoknya (12/10) Aep menyambut kami di pabrik kopi. Di tempat yang sama, Firman, sekretaris BUMDes Saraksa, hadir. Dia turut mengantar kami berkeliling tempat pengolahan kopi tersebut. Menunjukkan satu per satu mesin yang ada. Mulai mesin pencuci kopi, pengupas kulit kopi, pengering kopi, grader, sampai alat roasting. ”Total, ada 14 item mesin,” jelas Firman.

Seluruhnya berasal dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Bantuan itu mereka terima pada akhir 2018 dan langsung ditempatkan di tempat pengolahan kopi milik BUMDes Saraksa yang berdiri di atas lahan seluas 140 meter persegi.

Letak pabrik itu tidak jauh dari Pasar Arjasari. Bisa disambangi dengan berjalan kaki dari jalan raya yang membelah Kecamatan Arjasari. Kata Aep, pabrik itu juga belum lama berdiri. Pemerintah Desa Arjasari membangunnya setelah diyakinkan Aep. Sebelum aktif di BUMDes Saraksa, dia bertugas di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Arjasari. Kerjanya keliling desa.

Lebih dari satu dekade bertugas di BPD, Aep melihat potensi besar saat petani di Kecamatan Arjasari mulai kenal kopi pada 2015. Sebelumnya, mereka lebih banyak menanam sayuran. Dari pemerintah, mereka dapat bibit. Juga diberi izin menggarap lahan yang tersedia. Luasnya tidak tanggung-tanggung. Mencapai 250 hektare.

Hingga saat ini, lahan itu belum tergarap semua. Di samping belum terlalu lama mengenal kopi, teori-teori yang menyebut kopi terbaik berasal dari kebun di ketinggian 1.300–1.500 mdpl membuat petani kopi di Arjasari sempat minder. Sebab, lahan yang mereka garap berada di bawah 1.300 mdpl.

Namun, siapa sangka, di balik lokasi dengan ketinggian di bawah standar itu, mereka ternyata bisa menghasilkan kopi yang bercita rasa beda. Bahkan jika dibandingkan dengan sesama Java Preanger dari Pangalengan dan Ciwidey, dua kecamatan yang juga berada di Kabupaten Bandung. Selain itu, ketinggian yang lebih rendah daripada Pangalengan dan Ciwidey menguntungkan petani kopi di Arjasari. ”Kami lebih cepat panen,” ungkap Aep.

Dalam setahun, mereka bisa tiga sampai empat kali panen. Menurut dia, penyebabnya adalah suhu di Arjasari sedikit lebih panas daripada suhu di Pangalengan dan Ciwidey. ”Nanti Januari kami sudah panen, mereka (petani di Pangalengan atau Ciwidey, Red) mungkin Maret,” ujarnya.

Selain kelebihan yang sudah disebut Aep, Arjasari diberkahi area yang langsung tersorot sinar matahari. Kopi yang dibeli BUMDes Saraksa dari petani kopi Arjasari lebih sering dijemur daripada dikeringkan.

Mereka memang punya mesin pengering kopi. Namun, mesin itu sangat jarang digunakan. Selama hujan tidak turun, mereka pasti mengeringkan kopi dengan dijemur. Aep menyatakan, cara itu alami. Membuat pengeringan lebih baik. Juga menjaga cita rasa kopi tetap enak. Tentu Aep tidak asal bicara karena sudah merasakan kopi yang dikeringkan di atas mesin dan dijemur di bawah terik matahari. Meski bukan petani kopi, Aep sudah punya kemampuan membedakan kualitas kopi. Di Arjasari, mereka membaginya lewat penyebutan grade A, B, dan C.

Setelah mengantar kami berkeliling pabrik, Aep langsung menyalakan mesin grader. Kemudian, dia menumpahkan biji kopi dari karung-karung yang ditaruh di atas mesin pengering.

Menurut dia, Oktober sampai Desember merupakan saat kopi dari petani sudah habis mereka olah. Sebab, mereka biasa panen raya pada pertengahan tahun. Tepatnya pada Juni. Yang tersisa di pabrik saat kami datang tinggal kopi stok yang belum sempat diproses. Setelah dipilah dengan menggunakan mesin grading, biji-biji kopi itu langsung dijual. Ada pula yang kembali diproses. Termasuk yang di-roasting sebelum dikemas dan dipasarkan. Bahkan, tidak jarang BUMDes Saraksa menjual produk mereka setelah kopi diproses sampai menjadi bubuk dan dikemas dalam kemasan Aras Coffee.

Harganya jelas berbeda-beda. Semakin lama pengolahannya, semakin mahal. Seluruh bahan baku kopi itu dibeli dari petani kopi di Arjasari. Dengan harga yang jauh di atas harga tengkulak.

Sebelum pandemi, Aep menyebutkan bahwa BUMDes Saraksa membeli biji kopi dari petani Rp 12 ribu per kilogram. Angka itu empat kali lipat dari harga tengkulak. Sebelum BUMDes Saraksa hadir, petani kopi di Arjasari menjual biji kopi kepada pembeli dari luar Arjasari. Tidak jarang, mereka menawar dengan harga sangat rendah: Rp 3.000 per kilogram.

”Saya 12 tahun di BPD jalan ke sana-kemari, banyak tengkulak beli kopi dengan harga yang murah sekali,” sesalnya. Padahal, kata Aep, petani yang paling lelah bekerja. Sebab, mereka yang merawat sampai tanaman kopi berbuah dan hasilnya bisa dipetik. Itu pula yang membuat Aep kukuh masuk ke BUMDes. Dia ingin mengubah sistem transaksi kopi di Arjasari. Sebab, sebelumnya petani kopi di sana tidak jarang dimodali uang oleh tengkulak agar terikat. Tidak bisa menjual hasil kebunnya kepada pihak lain. Meski, ada yang berani menawar dengan harga lebih tinggi.

Sejak memiliki tempat pengolahan kopi, perlahan tapi pasti BUMDes Saraksa menggerek harga kopi di level petani. Dari Rp 3.000 per kilogram naik ke Rp 4.000, kemudian ke Rp 5.000, Rp 6.000, Rp 8.000, sampai rekor tertinggi di angka Rp 12 ribu per kilogram. Selain harga, mereka tidak pilih-pilih petani.

Aep menegaskan, petani yang datang membawa 10 kilogram sampai 20 kilogram kopi tetap diterima. BUMDes Saraksa mengerti bahwa tidak semua petani kopi di Arjasari menggarap lahan yang luas. Dengan jumlah tanaman kopi ratusan sampai ribuan. Ada petani yang menggarap sedikit lahan. Ada juga yang masih menanam kopi sebagai selingan. Karena itulah, hasil kebunnya juga tidak banyak. Namun, Aep memastikan produk mereka dibeli di BUMDes Saraksa. Tidak akan diabaikan.

Di Kecamatan Arjasari, ada 13 desa. Meski BUMDes Saraksa berada di bawah naungan Desa Arjasari, kopi yang mereka beli tidak melulu berasal dari petani desa tersebut. Petani dari desa lain pun mereka tampung. Sebab, mayoritas petani kopi justru berasal dari luar Desa Arjasari. Begitu pun lahan perkebunannya.

Desa Ancolmekar, misalnya. Perkebunan kopi di sana jauh lebih banyak daripada kebun kopi di Desa Arjasari. Misalnya, yang tampak ketika Jawa Pos berkeliling ke sejumlah desa di Kecamatan Arjasari. Bila di Desa Arjasari banyak tanaman kopi yang selang-seling dengan tanaman lain, di Desa Ancolmekar kebun kopi tampak mendominasi. Tidak heran, produk mereka lebih banyak. Namun, desa itu belum punya tempat pengolahan kopi seperti milik BUMDes Saraksa. Akibatnya, produk yang dijual dari desa itu hanya biji kopi. Untuk menyelamatkan mereka dari jeratan tengkulak, BUMDes Saraksa membuka diri. ”Jadi, saling melengkapi,” tutur Aep.

Saat panen raya setiap Juni, petani kopi Arjasari bisa menghasilkan 200 ton kopi. Aep sudah membayangkan setiap BUMDes di Bandung punya kedai kopi. Kopinya dipasok dari Arjasari. Tidak akan kurang. Kualitasnya juga tidak akan kalah dari kedai kopi yang bertebaran di pusat kota Bandung. Sebab, selama ini salah satu pemasok kopi untuk kedai-kedai itu pun berada di Arjasari. Bahkan, tidak sedikit kopi dari Arjasari dijual ke Jakarta sampai luar Jawa.

Karena itu pula, Aep memberanikan diri mengirimkan kopi Arjasari ke Belanda. Setelah dapat bantuan mesin pengolah kopi dan punya pabrik pengolahan sendiri, BUMDes Saraksa membidik pasar luar negeri. Mereka ingin kopi Arjasari diekspor.

Aep pun membuat proposal dua tahun lalu. Dia kirim ke Pemerintah Kabupaten Bandung, lalu lanjut ke PT Astra International. Produk yang mereka tawarkan jelas: kopi dari Arjasari. Proposal itu tembus. Mereka dibina lewat program Desa Sejahtera Astra dan diberi peralatan tambahan. Merek Aras Coffee pun lahir.

Aras adalah akronim dari Arjasari Astra. Dari perusahaan itu pula, kopi Arjasari berkesempatan ikut coffee cupping di Belanda. Selain Arjasari, ada 30-an kopi dari berbagai daerah di Indonesia yang dikirimkan untuk dicicip. Coffee cupping tersebut berlangsung pada Agustus lalu. Melalui event itu, kata Aep, pembeli di Belanda menyeleksi kopi yang akan mereka beli. Dari coffee cupping itu, Aep dan petani kopi Arjasari menantikan sertifikat yang bakal mereka terima November ini. ”Kalau masuk sepuluh besar, kami bisa ekspor,” kata dia yakin.

Total 5 kilogram kopi mereka kirim. Setengahnya arabica, produk andalan mereka. Sisanya robusta. Seluruhnya dikirim dalam bentuk green beans.

Kesempatan coffee cupping di luar negeri sudah lama mereka tunggu. Sebelum Covid-19 menyebar ke berbagai negara, dua tahun lalu Aep sempat optimistis pemasaran kopi Arjasari sudah sampai luar negeri pada 2020. Namun, pagebluk terjadi. Jangankan untuk ekspor, pesanan kopi dari pembeli di Bandung dan sekitarnya juga turun. ”Karena tempat ngopi tutup semua,” ujarnya.

Mereka yakin tahun depan cita-cita ekspor kopi terwujud. Dengan begitu, kopi Arjasari semakin harum. Aromanya yang langsung bikin teb itu tercium sampai ke Benua Biru. (*/c14/ttg)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 13:30

Sulam Tumpar Kukar Tembus Pasar Nasional

<div> <strong>TENGGARONG </strong>- Kutai Kartanegara (Kukar) mewakili Kaltim di ajang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers