MANAGED BY:
RABU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Selasa, 12 Oktober 2021 09:59
Blue City dan Blue Economy IKN Sepakunegara

Dr Isradi Zainal

Rektor Universitas Balikpapan

 

BLUE city merupakan konsep yang diajukan oleh Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI) dalam melengkapi konsep ibu kota negara (IKN) berbasis smart, green, serta forest and sustainable city.

Menurut FDTI, konsep itu dimaksudkan untuk memberi perhatian khusus kepada perairan dan kemaritiman di IKN Sepakunegara (Sepaku, Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara) untuk dioptimalkan. Hal itu sangat beralasan karena Kaltim yang menjadi lokasi IKN dilalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan memiliki banyak sungai yang bisa dimanfaatkan.

Blue city versi FDTI itu didiskusikan untuk pertama kalinya pada akhir Agustus 2019 dalam diskusi informal yang diinisiasi dekan Fakultas Teknik (FT) Universitas Balikpapan, dekan FT Universitas Indonesia, dekan FT Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, dan dekan FT Universitas Hasanuddin.

Pada umumnya, dekan FT yang tergabung dalam FDTI mendukung pemindahan IKN ke Sepakunegara. Pembahasan terkait IKN dengan konsep blue city dilanjutkan kembali pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) FDTI pada November 2019 yang menghadirkan para dekan FT seluruh Indonesia.

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh FDTI bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pada Juli 2021 kembali dibahas blue city oleh ketua umum dan sekjen FDTI. Ide itu disampaikan secara langsung sebagai bagian dari kontribusi FDTI untuk IKN baru.

Dalam paparannya, Ketua Umum FDTI yang juga Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Prof Nizam menyampaikan, perhatian terhadap maritim dan perairan perlu dilakukan untuk IKN sebagai simbolisasi negara maritim. Apalagi IKN dilalui ALKI II.

Dalam tanggapannya, Basuki menyampaikan pihaknya akan memberi perhatian kepada perairan dan kemaritiman yang diawali dengan penyediaan bendungan. Itu karena blue city juga mengandung makna sebagai simbolisasi penyediaan dan penggunaan air yang optimal untuk kota.

Selanjutnya pada sejumlah diskusi, saya yang juga sebagai sekjen FDTI terus menyampaikan ide dan dukungan terkait IKN baru. Termasuk dalam webinar dengan sejumlah rektor yang tergabung dalam Forum Rektor Indonesia maupun Forum Rektor Persatuan Insinyur Indonesia (PII) maupun dengan asosiasi lainnya.

Terkini adalah diskusi saya dengan Menteri Basuki dalam kapasitas selaku rektor Universitas Balikpapan dan ketua PII Kaltim. Hadir pula wakil ketua umum PII yang juga mantan Dirjen Cipta Karya Danis Hidayat Sumadilaga dan sejumlah pejabat Kementerian PUPR.

Diskusi itu berlangsung di Hotel Novotel Balikpapan pada Kamis (7/10) malam. Atau di sela-sela kunjungan menteri PUPR ke Kaltim. Kami membahas konsep pembangunan IKN termasuk blue city dan blue economy.

Potensi laut IKN Sepakunegara yang dilalui Selat Makassar dan potensi maritim di Kaltim memungkinkan untuk mengoptimalkan konsep blue economy. Blue economy merupakan konsep yang memfokuskan pembangunan ekonomi berkelanjutan di sektor kelautan.

Bank dunia mendefinisikan blue economy sebagai suatu konsep yang menggunakan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan tetap menjaga kualitas ekonomi serta ekosistem laut.

Untuk itu, penulis berpendapat jika IKN dibangun berbasis identitas bangsa, konsep blue city dan blue economy merupakan hal yang mesti dilakukan dalam menata IKN. Simbol sebagai bangsa maritim, benua maritim, dan poros maritim mendukung konsep tersebut.

Penerapan konsep blue city dan blue economy untuk melengkapi konsep smart, green, forest, dan sustainable city semakin mengukuhkan identitas bangsa kita yang lengkap dan kaya.

Konsep itu juga sejalan dengan harapan untuk menjadikan IKN Sepakunegara sebagai salah satu sumber baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai pembanding, Singapura dan Malaysia yang mampu mengoptimalkan posisi strategis yang dilalui ALKI I dengan menghasilkan triliunan rupiah dari optimalisasi posisi tersebut. Padahal potensi ALKI II yang lebih lebar dan dalam memungkinkan IKN menghasilkan pundi-pundi yang bisa diandalkan untuk kesejahteraan bangsa. (rom/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 10:13

Berucap Santun kepada yang Tua

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 15 Oktober 2021 17:50

KIP Kaltim: Citra dan Tantangan

Oleh: Imran Duse (Wakil Ketua Komisi Informasi Kaltim)   Wakil…

Jumat, 15 Oktober 2021 13:35

Merekonstruksi Perbuatan Merendahkan Kehormatan Hakim

Genaro Samuel TW Banjarnahor Kader Klinik Etik dan Advokasi Fakultas…

Rabu, 13 Oktober 2021 12:08

Sampai Mana Peran PBB

Uci Puspita Sari Mahasiswa Hukum Unmul     Perserikatan Bangsa-Bangsa…

Selasa, 12 Oktober 2021 09:59

Blue City dan Blue Economy IKN Sepakunegara

Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan   BLUE city merupakan…

Jumat, 08 Oktober 2021 10:25

Hukum Memakai BH

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Rabu, 06 Oktober 2021 13:36

Data Is The New Oil

Bronson Manik ASN di BPS Kaltim Dalam era globalisasi dan…

Senin, 04 Oktober 2021 12:11

Penguatan Sistem Logistik Pangan pada Era Covid-19

 Oleh: Bernatal Saragih Guru Besar Bidang Ilmu Pangan dan Gizi  Program…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:35

Apakah Kebersihan bagian dari Iman?

SUGENG SUSILO, S.HSTAF BIRO HUKUM SETDA. PROVINSI KALIMANTAN UTARA  …

Jumat, 01 Oktober 2021 10:33

Jalan Poros Tenggarong Seberang Longsor, Salah Siapa?

Oleh: Lili Agustiani Pemerhati Masalah Sosial   “Jalan poros putus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers