MANAGED BY:
SELASA
07 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

OLAHRAGA

Senin, 11 Oktober 2021 09:56
Maskulinitas dan Kultur Lokal di Balik Julukan Tim-Tim Liga 1, Dari Macan, Buaya, sampai Kekuatan Tiga Dewa
Maskot Persebaya

Ada semangat Dionysian atau semangat menunjukkan kegagahan di balik berbagai julukan klub Indonesia. Sebagian muncul dari inisiatif kepala daerah. Ada pula yang lahir di tengah perjalanan.

 

MOBIL melaju menuju Stadion Brantas, Batu, saat mereka mulai berbincang tentang julukan untuk Arema. Ovan Tobing mengingat, beberapa usulan terlontar dari wartawan sejumlah media yang semobil dengannya.

”Awalnya, muncul ide julukan Arema Macan Gunung,” kata mantan manajer Arema tersebut kepada Jawa Pos Radar Malang di Kota Malang Kamis (7/10).

Ketika itu, tepatnya pada 1990, Galatama memasuki musim ke-10. Sejumlah tim lain, baik Galatama maupun Perserikatan, sudah mulai punya julukan. Lalu, Ovan pun usul mengapa tidak pakai singa saja sesuai dengan logo Arema. Dan, semua seperti sepakat dengan usulan tersebut.

Namun, ada persoalan tersisa: apa yang cocok disandingkan dengan kata singa? Setelah berpikir beberapa saat, menurut Ovan, ada salah seorang wartawan yang nyeletuk, ”Edyan”. Karena bukan orang Jawa, nada edan terdengar berbeda. Ovan sreg dengan padu padan itu: Singo Edan. ”Saat itu banyak yang setuju dengan julukan Singo Edan. Meski, ada juga yang kurang setuju karena di Malang penyebutan edan adalah gendeng,” jelasnya.

Sampai sekarang, lebih dari tiga dekade berselang, Singo Edan melekat sebagai julukan Arema FC. Dan, klub juara Galatama 1992–1993 tersebut merupakan satu di antara sekian klub Liga 1 yang menjadikan binatang sebagai nickname mereka. Dengan berbagai alasan dan landasan sejarahnya.

Ada Maung Bandung untuk Persib Bandung, Macan Kemayoran (Persija Jakarta), dan Macan Putih (Persik Kediri). Ada pula Juku Eja sebagai julukan PSM Makassar, Super Elang Jawa (PS Sleman), Pesut Etam (Borneo FC), dan Laskar Sape Kerrap (Madura United).

Mahfud, penulis buku Persik sang Juara dan Persik Juara Sejati, menyatakan bahwa inspirasi di balik julukan Macan Putih sangat sederhana. Pada 1999 itu, Maschut, wali kota Kediri saat itu, terinspirasi dari gambar Macan Putih di logo kota yang dipimpinnya. Setelah itu, julukan Macan Putih mulai digaungkan. Suvenir dan merchandise-nya mulai dibuat. Tidak berhenti sampai di situ. Agar benar-benar ”sakral”, Maschut juga menginisiatori ide membangun monumen Macan Putih. ”Dari batu marmer dan dipasang di depan Stadion Brawijaya,” ungkapnya.

Bagaimana dengan Macan Kemayoran? Gerry Anugerah Putra, penulis buku Gue Persija, menjelaskan bahwa alasan Persija dijuluki demikian belum diketahui secara pasti. ”Belum banyak referensi. Tapi, orang Persija dulu bilangnya Macan Betawi itu julukan ke pemain Tan Liong Houw,” ungkapnya.

Berdasar cerita rakyat, sambungnya, Macan Kemayoran diambil dari julukan untuk pendekar bernama Murtado. Selain itu, pada abad ke-18, Macan masih banyak ditemukan di sekitar Jakarta. Tepatnya di jalur Jatinegara–Priok. Namun, macan diyakini punah di Jakarta pada 1886. Macan terakhir tersebut dikabarkan mati ditembak orang Belanda dengan sebutan: Simons Kemayoran. ”Mungkin, kalau dikaitkan, bisa jadi ke sana. Tapi, kurang tahu ada literasinya atau tidak,” kata Gerry kepada Jawa Pos.

Di luar binatang, warna kebesaran, dan tokoh, kandungan spiritualitas dan kultur menjadi pilihan julukan klub-klub di kompetisi strata teratas tanah air. Dan, sejumlah klub dikenal punya julukan lebih dari satu. Green Force dan Bajul Ijo untuk Persebaya Surabaya, misalnya. Juga, Macan Kemayoran dan Si Jampang untuk Persija serta Maung Bandung dan Pangeran Biru buat Persib Bandung.

Dhion P. Prasetya, pemerhati sejarah Persebaya, menjelaskan bahwa Green Force dan Bajul Ijo sebenarnya lahir dari media. Keduanya muncul dan langsung menjadi representasi Persebaya. ”Unda-undi munculnya. Bajul Ijo lebih dulu, lalu Green Force. Tapi, ketika final 1987, nama Green Force yang muncul di Stadion Gelora Bung Karno,” jelasnya.

Dhion mengungkapkan, dulu sempat ada semacam ”kelas pemisah” antara julukan Bajul Ijo dan Green Force. Namun, kini tidak lagi. Setiap Bonek berhak memilih julukan untuk Persebaya.

Apa pun alasan di baliknya, salah satu yang menonjol dari julukan klub-klub Indonesia adalah unsur maskulinitas. Menurut Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sekaligus penulis buku Merayakan Sepakbola, maskulinitas itu menunjukkan semangat kegagahan. Mengikuti filsafat Friedrich Nietzsche, tren tersebut bisa disebut semangat Dionysian.

”Kata yang merujuk pada nama Dionysius, dewa yang mendorong manusia kembali pada kekuatan emosi dan naluri dasariahnya untuk kehendak berkuasa (will to power),” jelasnya kepada Jawa Pos.

Manusia dalam berkompetisi, lanjut Fajar, membutuhkan dorongan psikologis. Salah satu dorongan itu adalah memberikan julukan kepada klub. Dari sanalah kelindan antara maskulinitas dan kultur lokal terjadi. Misalnya, Laskar Joko Tingkir untuk Persela dan Laskar Padjajaran untuk Persikabo. PSIS Semarang berjuluk Laskar Mahesa Jenar, merujuk pada kisah dalam buku Nagasasra dan Sabukinten karya S.H. Mintardja sebagai sosok mantan prajurit Kesultanan Demak yang berupaya mencari keris kerajaan. Tridatu dalam Serdadu Tridatu –julukan Bali United– merujuk kepada tiga kekuatan yang berasal dari Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

Juga ketika diidentifikasi dengan folklor yang diwariskan dalam budaya lisan seperti boyo (buaya), singo (singa), macan, maung, dan sebagainya. ”Meski perlu kita catat juga tidak semua bersifat maskulin. Laskar Kalinyamat yang menjadi julukan Persijap, misalnya. Namun, di dalamnya tetap ada semangat Dionysian,” kata Fajar.

Sebenarnya, lanjut Fajar, rebranding yang diperlukan adalah mengelola kembali brand klub secara lebih fresh dan muda dengan tetap paralel dengan identitas lokal. Jika diperlukan, klub berkolaborasi dengan agensi. ”Satu lagi yang sering kali terlupakan oleh klub adalah berkolaborasi dengan media komunitas yang dikelola fans mereka,” tuturnya.

Dhion juga beranggapan, pada era sepak bola modern saat ini, sebuah julukan sangat penting bagi sebuah klub. Sebab, julukan merupakan penanda identitas dan entintas. ”Seperti Persebaya, julukan harus melekat. Kebanggaan sebagai arek Suroboyo terwakili oleh julukan itu,” ujarnya. (rid/raf/gp/c14/ttg)


BACA JUGA

Senin, 06 Desember 2021 11:37

Kalah, Minions Tetap Membanggakan

NUSA DUA—Apresiasi setinggi-tinggi tetap diberikan kepada Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya…

Senin, 06 Desember 2021 11:36
Everton FC vs Arsenal FC

Tuntutan Ketajaman

Paceklik yang dihadapi sang striker Arsenal FC, Pierre-Emerick Aubameyang diharapkan…

Senin, 06 Desember 2021 11:35
(0) Persiraja vs Borneo FC (2)

Kecanduan Tiga Poin

Kemenangan kembali didapat Borneo FC pada pekan ke-15 Liga 1…

Senin, 06 Desember 2021 11:25

SERU..!! Atalanta BC Mengubah Three Horse Race Menjadi Four Horse Race

Atalanta BC masih disebut sebagai kuda hitam Serie A meski…

Senin, 06 Desember 2021 11:20

Rangnick Bikin MU Lebih Agresif

Manajer sementara Manchester United Ralf Rangnick terkesan pada begitu baik…

Senin, 06 Desember 2021 11:17

Juventus dan Lazio Menang

Juan Cuadrado mencetak gol langsung dari sepak pojok ketika Juventus…

Senin, 06 Desember 2021 11:15

Gol Penentu Fred Beri Rangnick Awal Positif di Manchester United

Gelandang Brazil Fred mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-77…

Senin, 06 Desember 2021 10:34

“Seribu Persen Dukung Rusdi”

Dukungan pengurus cabang olahraga (cabor) terhadap Rusdianysah Aras kian solid.…

Senin, 06 Desember 2021 10:33

Ali Rahman Kembali Pimpin Porserosi Kaltim, Terpacu Tingkatkan Prestasi

SAMARINDA—Ali Rahman akan melanjutkan tugasnya sebagai ketua Pengurus Provinsi (Pengprov)…

Minggu, 05 Desember 2021 17:42

Loyal kepada Solskjaer, Pemain Tahu Belakangan

Keputusan mengejutkan diambil Michael Carrick. Setelah kemenangan 3-2 atas Arsenal…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers