MANAGED BY:
RABU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:26
Sistem Kependudukan versus Nama Bocah yang Terdiri atas 118 Huruf
Cordo dan sang ayah Arif Akbar

Namanya Arif Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal Ilkhanat Akbar Sahara Pi-Thariq Ziyad Syaifudin Quthuz Khoshala Sura Talenta. Usulan nama dari paman si bocah konon terinspirasi tahun politik 2019 yang berakhir kondusif. Setelah sulit mendapatkan akta, si bapak mau mengganti nama sang buah hati asal diberi surat.

 

AHMAD ATHO’ILLAH, Tuban-FOLLY AKBAR, Jakarta

 

SELALU ada doa dan harapan dalam sebuah nama yang disematkan orang tua. Namun, doa dan harapan Arif Akbar untuk putranya sungguhlah panjang. Demikian panjangnya sampai akhirnya menimbulkan masalah. Hingga si buyung akan berusia 3 tahun, akta kelahiran belum bisa didapat.

Nama lengkap si buyung kelahiran Tuban, Jawa Timur, 6 Januari 2019, itu, ambil napas dulu, Arif Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal Ilkhanat Akbar Sahara. Sudah? Baru separo jalan. Lanjutannya: Pi-Thariq Ziyad Syaifudin Quthuz Khoshala Sura Talenta. Ada 118 huruf dan 19 kata di nama anak kedua pasangan Arif-Suci Nur Aisiyah tersebut. Mungkin nama terpanjang yang ada di Indonesia.

”Harapannya, anak saya berpikir jernih dan punya penalaran panjang seperti namanya yang panjang,” tutur Arif kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Tidak berlaku istilah kaboten jeneng atau keberatan nama sebagaimana kepercayaan Jawa yang konon membuat anak sering sakit-sakitan. Terbukti, Cordo –panggilan akrab bocah tersebut– tumbuh menjadi anak yang sehat.

Ditemui awak media beberapa hari lalu di rumah pamannya di Desa Karangtengah, Kecamatan Bagilan, Kabupaten Tuban, bocah mungil nan menggemaskan itu tampak riang dan bermain seperti balita pada umumnya. Selain orang tuanya, orang yang memiliki andil besar dalam pemberian nama yang sangat panjang itu adalah Mujoko Sahid, sang paman.

Mujoko menyampaikan, keponakannya itu lahir pada tahun politik 2019. Saat itu kondisi Indonesia dinilainya sangat tidak kondusif. Sesama anak bangsa saling serang dan fitnah. ”Pada 2019 itu, kami melihat banyak sekali berita hoaks yang hampir mengadu domba negeri ini. Tapi, alhamdulillah akhirnya kondusif,” jelasnya.

Momen itulah yang menginspirasinya memberikan nama sepanjang rel kereta api tersebut kepada keponakannya. Arif yang berdomisili di Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, menyetujui usulan nama itu.

Meski Arif tidak menjelaskan secara detail makna setiap kata dalam nama si buah hatinya, tetap terselip doa dan harapan dari orang tua. Selain menjadi anak yang saleh, diharapkan kelak Cordo memiliki nalar yang panjang.

Persoalannya, kolom huruf di sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) tidak cukup untuk menampung nama sepanjang itu. Sudah hampir tiga tahun ini pasangan orang tua yang viral setelah mengirimkan surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo tersebut sulit mendapat akta kelahiran untuk buah hatinya.

Arif mengakui, dispendukcapil menyarankan penggantian nama buah hatinya. ”Sarannya memang supaya diganti. Tapi, saya sebagai orang tua tidak ingin nama anak saya diganti karena tidak ada undang-undang yang melarang,” ujar Arif.

Kasus itu mendapatkan perhatian dari Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh. Dia menjelaskan bahwa tidak bisa diterbitkannya akta bukan karena penolakan. Melainkan karena adanya kendala teknis dalam pendataan SIAK. ”Dengan nama yang panjang tersebut, ada kesulitan teknis karena kolom di KK (kartu keluarga), KIA (kartu Indonesia anak), dan akta lahir tidak muat,” terangnya kemarin (7/10).

Dalam sistem database dukcapil, batas jumlah huruf dalam kolom nama sebanyak 55. Itu pun sudah termasuk spasi. Dengan jumlah tersebut, masyarakat bisa mencantumkan nama lima sampai tujuh kata. Karena itu, agar dapat masuk dalam sistem dukcapil, dia berharap orang tua menyesuaikan nama anaknya. Sebab, jika tidak, ke depan terjadi kesulitan yang sama. Bahkan bukan hanya di dukcapil. ”Nanti untuk ijazah, paspor, dan seterusnya tidak muat,” jelasnya.

Arif menegaskan, pada dasarnya dirinya siap mengganti nama anaknya. ”Asal ada surat dari dinas terkait yang menjelaskan bahwa nama anak saya tidak bisa dicetak di adminduk,” katanya.

Menurut Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Tuban Rohman Ubaid, sedari awal orang tua si anak diberi penjelasan dan edukasi soal keterbatasan kolom dalam SIAK. Persisnya sekitar Oktober 2019. Penjelasan tersebut disampaikan secara lisan ketika Arif datang ke kantor dispendukcapil untuk mengurus akta kelahiran.

”Saat itu sudah kami berikan penjelasan bahwa ada batasan kolom dalam sistem adminduk, yakni maksimal 55 huruf. Makanya, kami sarankan nama si anak bisa menyesuaikan kolom yang tersedia di SIAK,” terang Ubaid.

Setelah diberi penjelasan lisan, lanjut mantan Kabaghumas dan protokol setda tersebut, Arif kembali lagi ke kantornya untuk mendapat kepastian soal pengurusan akta kelahiran. Namun, tetap dengan nama yang sama.

Karena yang bersangkutan tetap mendesak menggunakan nama yang sama, sementara SIAK tidak bisa memprosesnya, dispendukcapil melayangkan surat ke Dirjen Dukcapil Kemendagri pada 21 Oktober 2019. ”Jadi, surat ke Dirjen sudah pernah kami layangkan,” ujar Ubaid menjelaskan kronologinya.

Dia menyampaikan, tidak ada balasan tertulis dari Dirjen. Penjelasan hanya disampaikan secara lisan. ”Karena lama tidak ada jawaban, kami konsultasikan langsung. Jawaban dari staf Dirjen hampir sama dengan apa yang kami sampaikan sebelumnya kepada si orang tua anak, yakni soal batasan kolom dalam sistem adminduk,” terang Ubaid.

Setelah lama tidak ada kabar, pekan lalu orang tua si anak kembali ke dispendukcapil untuk mendapat kepastian jawaban secara resmi dan tertulis terkait dengan aturan batasan huruf pada nama. Karena itu, pada 1 Oktober lalu, kata Ubaid, dispendukcapil kembali berkirim surat ke Dirjen Dukcapil Kemendagri. Inti isi surat masih sama dengan yang dikirim awal. Sampai sekarang, surat itu belum dijawab hingga terkirimnya surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo yang kemudian viral.

Zudan Arif Fakrulloh pun sudah berusaha menelepon langsung Arif. Itulah yang disampaikan Camat Bancar Sutaji kepada Jawa Pos Radar Tuban. Sutaji mengungkapkan, pada Rabu (6/10) sekitar pukul 07.00, sekretaris Dispendukcapil Tuban mengontak ponselnya dan memintanya mendatangi rumah Arif. Keperluannya, menemui yang bersangkutan sekaligus menyambungkan kontak langsung Dirjen kepada Arif.

Sebelum meluncur ke rumah Arif di Desa Ngujuran yang jaraknya cukup jauh dari kantor kecamatan, Sutaji mengontak kepala desa setempat. Dari kepala desa yang lebih dulu datang ke rumah Arif, yang bersangkutan diketahui tidak berada di rumah dan pergi ke Bojonegoro.

Sutaji bersama kepala desa, bhabinkamtibmas, dan babinsa sudah berusaha mendekati tokoh salah satu perguruan pencak silat tersebut. Pada Jumat (1/10), dia menemui Arif di rumahnya. ”Bukan melarang, anakmu nek ape ujian kangelan (Anakmu kalau mau ujian sulit menuliskan namanya, Red),” ujarnya menyampaikan materi guyonannya ketika itu.

Dari pendekatan tersebut, kata Sutaji, pada intinya Arif tidak berkeberatan kalau nama anaknya tidak memungkinkan untuk dibuatkan akta kelahiran. Hanya, yang dibutuhkannya sekarang adalah semacam surat keterangan yang melarang membuat nama panjang. Permintaan Arif itu langsung disampaikan ke dispendukcapil. Dispendukcapil pun berargumen bahwa institusinya tidak berwenang mengeluarkan surat keterangan karena hanya bertugas menginput data. ”Pada dasarnya, yang bersangkutan nggak minta macam-macam,” katanya.

Toh, tetap ada doa dan harapan di nama yang baru nanti. Meski mungkin cuma berisi 20–25 huruf. (*/tok/ds/c14/ttg)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 11:26
Alejandro Putra Nugroho dan Alvaro Putra Nugroho, Suporter Cilik Militan Tim Thomas-Uber Indonesia

Di Momen Kritis Teriakkan, Tiga Poin Lagi, Om Vito!

Alejandro dan Alvaro tak henti meneriakkan dukungan sampai Indonesia memastikan…

Jumat, 15 Oktober 2021 14:46

Sutjiati Narendra, dari New York ke Dua Emas PON XX

Teknik Sutjiati Narendra sudah bagus ketika pertama bergabung dengan tim…

Rabu, 13 Oktober 2021 10:26

Melihat Sebenar-benarnya Merdeka Belajar di SMK Bakti Karya

Adu argumen, saling balas kritik, dan debat dengan guru. Itulah…

Selasa, 12 Oktober 2021 10:27

Ke Gili Iyang, Sumenep, Menikmati Kadar Oksigen Tertinggi Kedua di Dunia

Tak sedikit orang, termasuk dari luar negeri, yang berkunjung ke…

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:26

Sistem Kependudukan versus Nama Bocah yang Terdiri atas 118 Huruf

Namanya Arif Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal…

Jumat, 08 Oktober 2021 09:47
Yusuf Sumako Dongkrak Kinerja Perpustakaan

Kejar Akreditasi, Perbanyak Mitra Kerja

Genap sebulan menjabat sebagai kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Paser,…

Kamis, 07 Oktober 2021 14:32

Prasetyo Nurhardjanto Menghabiskan Waktu Isoman dengan Menulis Buku

Pendakian ke Everest, menjadi relawan di Rumah Bunda Teresa, dan…

Rabu, 06 Oktober 2021 11:32
Momen Peringatan HUT Ke-76 TNI dan Ke-43 FKPPI

Demi Herd Immunity Bersama Prajurit dan Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri

Hari ini, TNI genap berusia 76 tahun. Momen itu bertepatan…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:22

Begini Upaya Komunitas Save Trowulan Menjaga Warisan Majapahit untuk Generasi Penerus

Mengadakan trip tematik menjadi salah satu cara Komunitas Save Trowulan…

Selasa, 05 Oktober 2021 11:56

Cerita Warung Berjalan Kakek Ongen pada Setiap Akhir Pekan

Tiap kali berbagi kepada anak-anak kurang mampu, Mohamad ”Ongen” Sangaji…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers