MANAGED BY:
SELASA
07 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 04 Oktober 2021 11:34
Bahayanya Long Covid-19, Didominasi Penyintas Gejala Berat dan Memiliki Komorbid
RUTIN DIRAWAT: Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. Penanganan pasien long Covid-19 menyesuaikan keluhan. Yang sesak napas akan diberikan bantuan oksigen.

PELIPUT : Muhammad Ridhuan, Nofiyatul Chalimah

 

 

Kasus Covid-19 memang sudah melandai. Namun, ada satu yang mengkhawatirkan; long Covid-19. Pasien yang sudah dinyatakan sembuh masih harus rutin perawatan.

 

PANDU harus meninggalkan pekerjaannya di Balikpapan, akhir Juli lalu. Pulang ke kampung halamannya di Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Merawat ibunya, Nur Fatimah, yang sakit. Dua hari dirinya secara bergantian dengan istri menemani sang ibu. Diduga, ibunya terinfeksi virus corona. “Gejalanya mengarah ke covid,” kata Pandu, Sabtu (2/10).

Namun, pemeriksaan antigen menunjukkan hasil non-reaktif. Tetapi, selama merawat, Pandu yang dibantu sang istri, yang seorang perawat, tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes). Menggunakan hazmat, memisahkan keperluan sang ibu dengan keluarga lain, memberi infus, hingga bantuan oksigen. Semua prosedur isolasi mandiri (isoman) dilakukan untuk membantu penyembuhan. Juga mencegah penularan.

“Tapi malam ketiga, kondisi ibu memburuk. Oksigen juga habis. Jadi kami jam 3 subuh berangkat ke rumah sakit di Balikpapan. Ibu langsung ditangani di UGD,” ungkapnya.

Pemeriksaan antigen ulang juga menunjukkan hasil negatif. Baru setelah menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR), atas rekomendasi dokter, diketahui ibunya menderita Covid-19. 

Setelah memastikan ibunya mendapat perawatan, Pandu pun pulang. Namun, sore harinya, dia merasakan demam. Bersama sang istri, dia pun melakukan pengecekan ke rumah sakit. “Di antigen, saya positif (Covid-19). Syukurnya istri negatif,” ujarnya.

Lantaran masuk gejala ringan, dia pun menjalani isoman. Seminggu kemudian, kondisinya memburuk. Demamnya semakin tinggi. Dirinya pun pergi ke rumah sakit dan langsung menjalani perawatan di ruang intensive care unit (ICU). Hasil rontgen menunjukkan kondisi flek di paru-parunya semakin meluas.

“Seminggu sebelumnya sudah rontgen. Memang sudah ada flek hitam, tapi sedikit,” tuturnya. Flek hitam itu disebutnya karena dia sempat divonis menderita bronkitis. “Saya memang batuk-batuk sebelum terinfeksi Covid-19,” imbuhnya.

Selama 10 hari di ICU, Pandu hanya bisa berbaring. Dokter menyarankan menjalani terapi plasma konvalesen (TPK). Tetapi begitu menjalani transfusi, tubuhnya mengalami reaksi pertanda plasma yang masuk tak cocok. TPK pun berhenti di tengah proses.

“Sebelumnya saya kesulitan cari pendonor plasma, oleh rumah sakit ditawarkan obat. Harganya Rp 13 juta,” ucapnya.

Setelah kondisi tubuhnya membaik, pada 17 Agustus 2021, dirinya pun keluar dari rumah sakit. Namun, karena hasil PCR-nya masih positif, Pandu tetap harus menjalani isoman. Setelah mendapat perawatan, batuknya juga sembuh. Indera perasa dan penciumannya kembali. Memulihkan nafsu makannya.

“Selama dirawat berat badan saya turun 8 kilogram. Tetapi karena lama terus berbaring di rumah sakit, tubuh saya masih lemas,” ujarnya.

Gejala long Covid-19 mulai dirasakan Pandu. Dua minggu setelah keluar dari rumah sakit dan kembali beraktivitas seperti normal, batuknya kembali. Tubuhnya mudah kelelahan. Pehobi bulu tangkis itu biasanya mampu bermain tiga set langsung. Namun kini, satu set saja tubuhnya sudah kecapekan. “Angop (capek) untuk menghabiskan satu set saja,” ujarnya.

Hal yang sama juga terjadi kepada ibunya yang berusia 51 tahun. Setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19, Nur Fatimah kembali menderita tiroid. Padahal, penyakit akibat gangguan yang disebabkan kelainan bentuk atau fungsi kelenjar tiroid itu sudah lima tahun lalu berhasil disembuhkan. Gejala yang paling dapat dilihat adalah bergetarnya tangan sang ibu setiap memegang sesuatu.

“Tidak lama setelah dirawat Covid-19, tiroid yang sebelumnya sudah dinyatakan sembuh, kambuh lagi. Jadi ibu kembali harus rutin melakukan perawatan,” katanya.

DIDOMINASI PENYINTAS GEJALA BERAT

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, istilah long Covid-19 diberikan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang terkena Covid-19 secara menetap setelah periode dua minggu sejak awal muncul gejala. Meski kondisi penderita membaik atau memburuk. Atau hasil PCR dinyatakan negatif. Tetapi penderita masih mengalami gejala Covid-19.

“Gejala Covid-19 ini kan banyak. Ada satu gejala meski ada, kadang tidak dirasakan. Karena ada gejala lain yang lebih mengganggu. Dan setelah satu gejala yang mengganggu itu ditangani, gejala lainnya mulai dirasakan,” ungkap dr Subagyo, spesialis penyakit paru dari Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB), Jumat (1/10).

Dari beberapa penelitian, Subagyo menyebut, gejala long Covid-19 juga banyak karena pasien yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Biasanya long Covid-19 terjadi karena komorbid yang dipicu infeksi dari virus corona. Risiko bisa lebih tinggi jika penyintas memiliki penyakit penyerta lebih dari satu.

“Misal penyintas sebelumnya memiliki asma saja, dengan penyintas memiliki asma dan darah tinggi, ternyata risikonya lebih tinggi yang punya asma dan darah tinggi,” jelasnya.

Menurut penelitian, usia pun memengaruhi. Umur di atas 50 tahun akan lebih memiliki risiko tinggi long Covid-19. Untuk jenis kelamin, perempuan berisiko yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Secara ras, orang Kaukasian juga lebih memiliki risiko tinggi dibandingkan ras lain. Itu sebabnya, di negara barat seperti Eropa dan Amerika Serikat, long Covid-19 menjadi perhatian serius pemerintah.

“Berat badan juga berpengaruh. Mereka yang “relatif penuh gizi” risiko long Covid-19 juga lebih tinggi,” katanya.

Subagyo menegaskan, potensi long Covid-19 terjadi di awal infeksi. Artinya, begitu seseorang dinyatakan positif, sedini mungkin harus berobat. Harus ada aksi. Lalu, pada mereka yang hanya memiliki gejala ringan atau tanpa gejala (OTG), pada saat selesai isoman, sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Kalau keluhan penyakit masih ada atau cenderung lebih berat setelah dinyatakan negatif Covid-19, sebaiknya segera konsultasi kembali ke dokter,” ucapnya.

Bagi penyintas yang pernah dirawat di rumah sakit, biasanya oleh dokter diwajibkan melakukan pengecekan rutin. Sepekan setelah keluar dari rumah sakit. Untuk kasus tertentu bahkan lebih awal. Karena gejala long Covid-19 banyak tidak disadari penyintas. Namun, baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan dokter.

“Meski hasil PCR negatif, namun tetap ada proses dalam tubuh yang tidak terdeteksi oleh PCR. Reaksi tubuh ini kadang tidak disadari atau dianggap biasa oleh pasien,” jelasnya.

Di sisi lain, dokter paru membagi pembatasan long Covid-19. Untuk pasien yang masih mengalami gejala dengan periode 4-12 minggu, disebut long Covid-19 akut. Dan lebih dari 12 minggu disebut long Covid-19 kronis. Artinya, klasifikasi long Covid-19 ini berdasarkan lamanya seorang penyintas mengalami gejala. Dan umumnya long Covid-19 kronis bersifat lebih serius. Kelainan dan keluhan yang dialami akan permanen.

“Kalaupun ditangani, hanya sedikit pengaruhnya. Sementara long Covid-19 akut akan dilakukan upaya agar keluhannya tidak sampai menjadi permanen,” ungkapnya.

Untuk gejala bisa disamakan dengan gejala Covid-19. Mulai ringan, sedang, hingga berat. Misal, meski sudah dinyatakan negatif berdasarkan hasil PCR, penyintas masih kerap merasakan pusing atau kehilangan penciuman dan perasa. Atau gejala lainnya yang muncul ketika masih terinfeksi virus corona.

“Ada yang sudah sembuh tapi belum bisa merasakan rasa makanan tertentu. Atau mencium aroma tertentu. Bisa juga kehilangan fokus saat bekerja. Badan lebih mudah capek atau dada terasa sesak. Jadi gejala umumnya banyak,” paparnya.

Penanganan pada pasien long Covid-19 akan dilakukan berdasarkan keluhan pasien. Jika susah bernapas, diberikan bantuan oksigen dari tabung. Biasanya gejalanya langsung hilang setelah itu. Itu sebabnya, Subagyo menyarankan kepada penyintas yang masih merasakan gejala Covid-19 untuk memeriksakan kondisinya ke dokter spesialis berdasarkan keluhan yang muncul.

“Misal problemnya sesak atau nyeri dada, ya ke dokter paru. Atau susah tidur atau susah konsentrasi, maka ke psikiater. Kalau tidak yakin keluhannya apa, bisa ke dokter umum. Nanti diperiksa dan dibuat rujukan ke spesialis mana,” sebutnya.

KURANGI RISIKO DENGAN VAKSIN

Perlu diketahui, munculnya long Covid-19 tidak berkaitan dengan metode pengobatan yang diberikan kepada pasien saat terinfeksi. Atau apakah pasien Covid-19 sudah divaksin atau belum. Tetapi pada seberapa cepat penanganan setelah pasien dinyatakan terinfeksi. Semakin dini pasien ditangani setelah dinyatakan positif, semakin kecil risiko long Covid-19.

“Konsepnya bukan pada metode atau terapi yang diberikan saat dirawat. Tetapi seberapa dini seseorang mendapat perawatan,” tegas Subagyo. 

Tetapi Subagyo menjelaskan, dengan adanya vaksin, mampu mengurangi risiko seseorang terkena Covid-19 dengan gejala berat. Dengan begitu, meminimalisasi risiko long Covid-19. Karena penderita dengan gejala ringan hingga sedang, lebih sedikit terkena long Covid-19. Pasien dengan gejala berat, risiko long Covid-19 lebih besar.

“Orang yang sudah divaksin memiliki kekebalan yang lebih baik terhadap serangan virus. Jadi, meski dia terkena Covid-19, risiko mengalami gejala beratnya lebih sedikit. Begitu pula risiko long covid-nya,” bebernya.

Senada, Kepala Laboratorium RSUD Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan, dr Tika Adilistya menjelaskan bahwa metode penyembuhan pasien tidak akan menghilangkan risiko long Covid-19. Baik pemberian obat atau terapi seperti transfusi plasma konvalesen. Sebab, dari banyak penderita yang didiagnosis menderita long Covid-19 telah menerima penanganan yang baik saat terkena Covid-19.

“Ini lebih ke tingkat gejala dan seberapa dini pasien mendapat penanganan setelah positif Covid-19,” ungkapnya.

Tika menyebut, kumpulan gejala yang dialami penyintas Covid-19 tidak spesifik, sehingga harus dibuktikan dengan pemeriksaan. Setelah ditegakkan diagnosis, terapi yang diberikan disesuaikan dengan gejala yang ada. Dari sejumlah kasus, penderita long Covid-19 tidak hanya mengalami kambuhnya penyakit lama, bertambah parahnya penyakit penyerta sebelum Covid-19, tetapi mengalami keluhan baru yang belum pernah muncul.

“Sebelumnya tak pernah kena asma. Tetapi setelah sembuh dari Covid-19, mengalami gejala mirip asma seperti sesak napas atau nyeri di dada. Ada juga yang akhirnya bergantung pada tabung oksigen,” ujarnya. (***/dwi/k16)

 


BACA JUGA

Senin, 06 Desember 2021 19:37

Tak Terima Digugat Cerai, Pria Ini Sebarkan Video Porno Mantan Istrinya di Twitter 

SAMARINDA - Jajaran Satuan Reserse Kriminal Polres Samarinda dan Jatanras…

Senin, 06 Desember 2021 11:44

Korban Meninggal jadi 14 Orang, Masih Ada Potensi Guguran dan Aliran Lava

JAKARTA - Jumlah korban meninggal akibat terjangan Awan Panas Guguran…

Senin, 06 Desember 2021 11:21

Pembangunan Bendungan di Kawasan Ibu Kota Negara Baru Capai 30 Persen

Pembangunan bendungan di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan…

Minggu, 05 Desember 2021 16:47

Awal Tahun, Sekolah Tatap Muka Direncanakan Serentak

SAMARINDA-Pembelajaran tatap muka (PTM) untuk SMA sederajat direncanakan dilakukan Januari…

Minggu, 05 Desember 2021 16:44

Pemindahan IKN Tak Berdampak Putusan MK

Omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja yang dinyatakan inkonstitusional seolah-olah membela…

Minggu, 05 Desember 2021 11:57

13 Warga Meninggal Akibat Letusan Gunung Semeru

Sebanyak 13 warga dilaporkan meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru…

Sabtu, 04 Desember 2021 20:38

Jembatan Mahakam IV Ditutup Mulai Besok Hingga Sepekan ke Depan

SAMARINDA - Sejak Sabtu 4 Desember 2021 beredar pengumuman terkait…

Sabtu, 04 Desember 2021 11:51
Permintaan Batu Bara yang Tinggi Diprediksi Berlangsung hingga 2022

Ekspor Kaltim Terbesar Kedua di Indonesia

Tingginya permintaan batu bara punya dampak penting bagi Kaltim. Salah…

Jumat, 03 Desember 2021 21:06

Pembelajaran Tatap Muka akan Digelar 100 Persen di Januari 2022

SAMARINDA - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kaltim…

Jumat, 03 Desember 2021 12:00
Tak Ada Dalam Data KSOP, Disinyalir Gunakan Izin Perusahaan Lain

Bongkar Muat Bara Bara di Pelabuhan Ilegal

BALIKPAPAN-Tingginya harga batu bara akhir-akhir ini membuat aktivitas bongkar muat…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers