MANAGED BY:
RABU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 27 September 2021 10:38
Tak Mesti Jual Sayur ke Pasar Tradisional
-

BELAKANGAN mata pencaharian Supri (50) berubah. Dia yang sebelumnya merupakan pegawai perusahaan tambang, sudah lima tahun ini menjadi petani sayur. Pilihan itu dia ambil karena menjadi petani sayur menurutnya lebih tak begitu menguras tenaga dibandingkan menjadi petani padi.

Warga Palaran, Samarinda itu menanam cabai dan aneka jenis sayur bergantian. Bergantung dengan kondisi musim. Alih-alih menjadi pekerja lagi, Supri memilih menjadi petani sayur karena dia rasa usianya sudah tidak memungkinkan lagi untuk melamar pekerjaan lagi.

Di sisi lain, dia sebelumnya juga menjadi bertani sayur sebagai pekerjaan sampingan. Sebenarnya, dia sempat mencoba menggarap tanaman padi, tetapi menurutnya itu terlalu menguras tenaganya. Sehingga, dia memilih hanya menanam sayur.

“Untuk lahan, ada yang punya sendiri, ada yang garap punya saudara. Digarap, daripada lahannya menganggur. Cuma ya enggak sampai berhektare-hektare. Saya rencana mau tanam padi juga, tapi buat beras merah. Harganya lebih mahal, bisa Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram,” kata dia.

Disebutnya, tak begitu banyak masalah berarti untuk bercocok tanam. Dia pun kerap memakai pupuk organik. Hal itu juga menjadi nilai tambah sendiri ketika dia menjual ke para pelanggannya. Meski begitu, diakuinya, dia kerap kesulitan karena harga yang cenderung naik turun. Namun, sejauh ini, pekerjaan itu pun bisa menghidupi keluarganya.

“Kadang dijual melalui Facebook juga. Kalau di Facebook banyak yang pesan pasti habis. Tapi saya panen ‘kan memang enggak banyak. Cuma ya harus mau antar. Kalau jual ke pengepul, memang santai tapi harganya bisa lebih murah,” sambungnya.

Supri menjadi salah satu petani yang melirik bahwa pemasaran produk sayur tidak lagi harus ke pasar tradisional. Dia pun memasarkan mandiri secara online. Arah pertanian menuju modern, memang harus dilakukan. Sebab, zaman berkembang dan manusia juga harus menyesuaikan.

Hal itu juga dirasakan petani di Kutai Barat. Suhendro Aryanto, petani di Barong Tongkok, Kutai Barat itu mengatakan bahwa dalam 13 tahun menjadi petani, terjadi perubahan dalam pola bertani. Bertani tidak lagi dengan pola kerja manual. Tetapi, juga dengan berbagai alat sistem pertanian. Sehingga, menanam aneka sayur di lahan puluhan hektare, tidak sesusah dahulu.

“Namun, masalahnya di pemasaran. Karena produk kami juga bisa sampai Samarinda. Harga juga sering tidak stabil,” ungkapnya.

Meski begitu, nilai tukar petani (NTP) dirasa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Agustus 2020, NTP Kaltim poinnya hanya 110,31. Sementara Agustus 2021 ini, NTP 120,53 atau naik 1,14 persen dibanding NTP pada Juli 2021. 

Peningkatan NTP disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani (It) sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun. Alias, pendapatan petani lebih besar dibandingkan pengeluaran mereka.

Namun, pada NTP per subsektor Agustus 2021, masih ada petani yang defisit. Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, NTP Tanaman Pangan (NTPP) Kaltim sebesar 94,88. Artinya petani palawija dan padi masih belum sejahtera. Sebab, pengeluaran masih lebih besar dari pemasukan.

Meski begitu, petani di sektor lain sudah lebih baik, karena pendapatan lebih banyak dibandingkan pengeluaran mereka. Hal itu terlihat dari nilai tukar petani hortikultura (NTPH) sebesar 104,42. Lalu, nilai tukar petani tanaman perkebunan rakyat (NTPR) sebesar 150,84 dan nilai tukar petani peternakan (NTPT) sebesar 104,40. Terakhir, nilai tukar nelayan dan pembudi daya ikan (NTNP) sebesar 101,51.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim Siti Farisyah Yana menjelaskan bahwa sentra pertanian di Kaltim sudah ditetapkan. Dengan lahan luas di Kaltim, pihaknya berusaha meningkatkan sentra pertanian.

Dia mengatakan, sentra pertanian sudah ditetapkan dan ada beberapa yang akan memanfaatkan lahan bekas tambang. Dengan menetapkan sentra pertanian, program pertanian bisa dilaksanakan secara intensif. Selain itu, menjaga keberlangsungan pasokan pangan lokal. “Kami telah menetapkan sentra-sentra pertanian pangan, selain integrasi di kawasan perkebunan dan kehutanan, bahkan eks lahan tambang,” kata dia.

Di sisi lain, dalam sebuah dialog awal September lalu, Yana mengharapkan bahwa terbentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di tingkat kabupaten/kota. Dengan begitu, akan menjamin keberlanjutan lahan pertanian di Kaltim, sehingga tidak mudah dialihkan untuk kepentingan lain.

“Melalui Perda LP2B, lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009,” pungkasnya. (rom/k16)


BACA JUGA

Selasa, 19 Oktober 2021 21:24

Proyek Jalan Lingkar IKN Bisa Dimulai 2022

BALIKPAPAN–Perencanaan infrastruktur kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) ibu kota negara…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:21

Imbas Curah Hujan Tinggi dan Pembukaan Lahan, Akses Bandara Lumpuh

SAMARINDA-Lalu lintas di Samarinda Utara nyaris lumpuh Senin (18/10). Banjir…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:18

Fungsi Kaltim “Disunat”, Tak Bisa Banyak Berbuat

  HARGA batu bara lagi tinggi-tingginya. Kondisi itu bisa memicu terjadinya…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:12

Membebaskan Pelabuhan Feri Penajam dari Praktik Cashback Perlu Ketegasan dari Regulator

SAMARINDA–Praktik cashback di pelabuhan feri masih terjadi. Terutama kendaraan yang…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:46

Drama Pencopotan Makmur Bakal Panjang, Berlanjut ke Pengadilan, Golkar Singgung Senioritas dan Legawa

SAMARINDA–Langkah Makmur HAPK untuk mengadang upaya DPD Golkar Kaltim yang…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:44

IKN yang Tanpa Merusak Hutan

Oleh: Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan   GREEN city merupakan…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:29

Masih Ada Cashback, Operator Diminta Lapor

Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan diyakini sudah terbebas dari praktik cashback atau uang…

Senin, 18 Oktober 2021 13:55

Bandara APT Pranoto "Hilang", Banjir Tenggelamkan 32 Titik Jalan di Samarinda

SAMARINDA - Hujan yang deras terjadi sejak Senin (18/10/2021) dini…

Senin, 18 Oktober 2021 13:28

Sulitnya Pelabuhan Feri Terbebas dari Praktik Cashback, Sepi di Kariangau, Kini Masif di Penajam

Pengondisian muatan di pelabuhan feri belum sepenuhnya hilang. Nyatanya masih…

Senin, 18 Oktober 2021 13:28

Klaim Beri Contoh, ASDP Menolak Cashback

KANTOR ASDP Indonesia Ferry Balikpapan di Jalan Syarifuddin Yoes sepi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers