MANAGED BY:
SELASA
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 18 September 2021 10:15
Banjir Memang Bukan Preman
Bambang Iswanto

Pernyataan menarik diungkapkan Wali Kota Samarinda Andi Harun ketika menjadi narasumber dalam sebuah talk show di Samarinda belum lama ini, “Banjir itu bukan preman, tapi alam.” Ucapan ini merupakan jawaban atas pertanyaan besar yang sering dilontarkan masyarakat, kenapa banjir di Samarinda terus berlangsung.

Andi Harun membandingkan penanganan preman dengan banjir. Menurut dia, preman bisa tertangani dalam waktu cepat. Sementara penanganan masalah banjir tidak bisa cepat disebabkan ada faktor alam yang mengiringi. Orang gampang diatur, tapi tidak dengan alam. Begitulah kira-kira inti yang disampaikan Andi Harun.

Pernyataan Andi Harun pasti diamini oleh siapa pun yang mengerti bahwa banjir berawal dari peristiwa alam hujan. Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya bukan lagi tentang dari mana datangnya hujan, tetapi mengapa hujan yang dulunya membawa berkah sekarang sering berubah menjadi bencana bagi sebagian warga Samarinda.

Hujan adalah peristiwa alam. yang bahkan menjadi nama sebuah musim di Indonesia. Yang ketika jatuh pada bumi yang terjaga dengan baik maka akan mendatangkan keberkahan. Tanah menjadi subur, tanaman tumbuh dengan baik, dan banyak lagi manfaat yang dirasakan manusia dan makhluk hidup lainnya dengan turunnya hujan. Namun sebaliknya, ketika hujan turun di bumi yang rusak, keadaan bisa berbalik dari berkah menjadi bencana banjir yang mendatangkan penderitaan.

Di balik perubahan kondisi ini ada faktor manusia yang terlibat. Bumi rusak bukan karena hujan, tetapi karena ulah tangan manusia. Samarinda sering banjir sekarang bukan karena hujan. Sebelum ada kota dan bernama Samarinda pun, hujan sudah ada di atas bumi Samarinda. Dan turun hujan saat itu belum menjadi hal yang dikhawatirkan kehadirannya seperti sekarang ini.

Ketika masih banyak bukit-bukit, pepohonan, dan rawa-rawa di Samarinda menjadi penadah air hujan, banjir tidak terjadi. Namun ketika bukit dipangkas, hutan digunduli, rawa-rawa dialihfungsikan menjadi permukiman, jadilah semuanya penyebab banjir.

Perbukitan hilang bukan karena alam, demikian pula hutan dan rawa yang tertimbun. Semua karena rekayasa dan ulah tangan-tangan jahil manusia. Eksploitasi tambang dan alih fungsi lahan tanpa memerhatikan etika lingkungan menjadi penyebab bumi rusak dan kehilangan keseimbangannya.

Perbukitan dan hutan yang menahan air hujan “ngantre” teratur ke dataran yang lebih rendah habis dibabat. Jadilah air tumpah bablas sekaligus tanpa tertahankan, dan dengan cepat menggenangi daerah-daerah yang rendah.

Tuhan menciptakan bumi untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia. Jelas sekali dalilnya pada QS Al-Baqarah Ayat 29, “Dan Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu”. Tentang ayat ini, Sayyid Quthb menjelaskan, Allah menciptakan seluruh yang ada di bumi untuk dikelola secara baik oleh manusia demi kelangsungan hidupnya. Artinya sejak awal bumi diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia.

Celakanya banyak manusia yang hanya ingat memanfaatkannya tanpa memerhatikan syarat yang diberikan Tuhan ketika mengambil manfaat dari bumi. Syaratnya itu adalah jangan sampai membuat bumi rusak. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.”

Memanfaatkan sumber alam tanpa disertai pemeliharaannya sudah diperingatkan Allah akan mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk di dalamnya banjir. Peringatan yang sangat tegas disampaikan dalam QS Ar-Rum Ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

PREMANISME BUMI

Para perusak bumi, pantas disebut sebagai preman-preman alam. Merekalah yang menyebabkan belahan bumi rusak. Tindakan ugal-ugalannya yang menyalahi aturan Allah dan hukum positif yang menyebabkan banjir.

Dalam konteks inilah para pemimpin memiliki kewenangan menghentikan aksi premanisme terhadap alam. Masyarakat memahami wali kota saat ini tidak bisa disalahkan atas banjir yang memang sudah ada sebelum jabatan dipegang. Seperti yang disampaikan di dalam beberapa berita, sudah banyak langkah yang ditempuh untuk mengatasi makin parahnya banjir terkait penanganan yang bersifat fisik.

Namun, selain pengadaan dan pembenahan infrastruktur, yang tidak kalah penting adalah penertiban dan pemberian sanksi kepada preman-preman alam harus tegas dilakukan. Sehingga kerusakan alam tidak semakin parah. Percuma rasanya jika infrastruktur coba diperbaiki tetapi perusak bumi terus menjalankan aksinya. Seperti menambal lubang yang bocor, tetapi membiarkan lubang lain dibobol.

Benar kata Andi Harun, wali kota tidak bisa sendirian, gubernur juga harus turun tangan mengatasi masalah banjir ini, termasuk membasmi preman-preman alam. Biarlah sembari menunggu hasil penanggulangan infrastruktur secara bertahap dan hasilnya baru bisa dirasakan dalam kurun yang tidak cepat, aksi perusakan alam di sekitar Samarinda, dan Kalimantan Timur pada umumnya, bisa dibasmi dengan cepat.

Masyarakat Kalimantan Timur, dan Samarinda khususnya, pasti mendukung pemimpin yang membasmi premanisme alam. Jangan biarkan mereka makin merusak Bumi Etam, di tengah upaya memperbaiki kerusakannya.

Sungguh mulia pemimpin yang bisa menghilangkan penderitaan warganya. Pemimpin seperti ini pasti akan dicintai rakyat. Mudah-mudahan Allah berikan kekuatan kepada pemimpin di Samarinda dan Kalimantan Timur dalam mengatasi banjir dan menghilangkan julukan Samarinda sebagai kota yang identik dengan banjir. Amin. (***/dwi/k8)

 

 


BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 10:13

Berucap Santun kepada yang Tua

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 15 Oktober 2021 17:50

KIP Kaltim: Citra dan Tantangan

Oleh: Imran Duse (Wakil Ketua Komisi Informasi Kaltim)   Wakil…

Jumat, 15 Oktober 2021 13:35

Merekonstruksi Perbuatan Merendahkan Kehormatan Hakim

Genaro Samuel TW Banjarnahor Kader Klinik Etik dan Advokasi Fakultas…

Rabu, 13 Oktober 2021 12:08

Sampai Mana Peran PBB

Uci Puspita Sari Mahasiswa Hukum Unmul     Perserikatan Bangsa-Bangsa…

Selasa, 12 Oktober 2021 09:59

Blue City dan Blue Economy IKN Sepakunegara

Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan   BLUE city merupakan…

Jumat, 08 Oktober 2021 10:25

Hukum Memakai BH

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Rabu, 06 Oktober 2021 13:36

Data Is The New Oil

Bronson Manik ASN di BPS Kaltim Dalam era globalisasi dan…

Senin, 04 Oktober 2021 12:11

Penguatan Sistem Logistik Pangan pada Era Covid-19

 Oleh: Bernatal Saragih Guru Besar Bidang Ilmu Pangan dan Gizi  Program…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:35

Apakah Kebersihan bagian dari Iman?

SUGENG SUSILO, S.HSTAF BIRO HUKUM SETDA. PROVINSI KALIMANTAN UTARA  …

Jumat, 01 Oktober 2021 10:33

Jalan Poros Tenggarong Seberang Longsor, Salah Siapa?

Oleh: Lili Agustiani Pemerhati Masalah Sosial   “Jalan poros putus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers