MANAGED BY:
RABU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Jumat, 17 September 2021 12:06
Lingkungan Banyak Rusak, Selalu Tergenang saat Hujan
DIRUNDUNG BENCANA: Nyaris sepekan banjir di Kelurahan Simpang Tiga, Loa Janan Ilir, belum juga surut.

SAMARINDA–Permasalahan banjir rupanya tak pernah lepas dari Kota Tepian. Setiap musim hujan, sejumlah wilayah selalu terendam.

Belum juga banjir di Kelurahan Sempaja Timur surut, wilayah lain ikut tergenang. Kelurahan Tani Aman dan Simpang Tiga sejak Rabu (11/9) air masih menggenang. Setidaknya ada 1.107 kepala keluarga (KK) dengan 3.648 jiwa di 14 rukun tetangga Kelurahan Simpang Tiga terendam. Warga yang terdampak di Kelurahan Tani Aman sebanyak 742 KK dengan 2.294 jiwa. Ketinggian banjir yang merendam wilayah pemukiman berkisar 40–80 sentimeter.

Ketua RT 18 Tani Aman Hasbullah (56) menjelaskan, banjir memang selalu terjadi di wilayahnya ketika hujan intensitas tinggi. Terlebih dengan durasi yang panjang. Sepekan sebelumnya, banjir sempat menggenang. Belum juga surut sepenuhnya, banjir kembali meninggi.

"Mulanya dari seminggu lalu. Memang sempat surut, bahkan jalanan mulai terlihat. Tetapi karena hujan turun lagi akhirnya debit airnya meninggi. Puncaknya Rabu 14 September lalu, hujan hampir seharian. Ketinggian air terus menaik. Namun, sejak pagi tadi perlahan debitnya mulai menurun," ucapnya.

Pria yang bermukim di Tani Aman sejak 1980 itu menyebut, paling tidak banjir akan surut dalam waktu dua hari. Namun, hal itu kembali lagi dengan cuaca yang ada, serta pasang surut Sungai Mahakam. "Surut jika Sungai Mahakam tidak pasang," ungkapnya.

Menurut Hasbullah, banjir yang selalu menggenang disebabkan beberapa faktor. Aktivitas pengupasan lahan di Desa Purwajaya, Kukar, yang mana lokasinya lebih tinggi dari Kelurahan Tani Aman, menjadi salah satu penyumbang banjir. Selain itu, adanya pendangkalan anak Sungai Mahakam di wilayahnya.

"Sungai itu normalnya sekitar 2 meter dalam. Memang ada pendangkalan di anak sungai, imbas sampah dan pembangunan yang menjorok ke sungai," terangnya.

Banjir yang terjadi akibat rusaknya lingkungan sebenarnya bukan hal yang tabu. Rusaknya lingkungan berbuah musibah ini juga kerap dibahas.

Menurut Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, musibah musiman ibu kota Kaltim merupakan hal yang wajar jika melihat peta wilayah yang ada. Sebab, sekitar 71 persen wilayah Samarinda masuk konsesi pertambangan. Di antaranya bahkan merupakan wilayah yang seharusnya menjadi kawasan tangkap air.

"Sekitar 50 ribuan hektare yang diserahkan ke pertambangan. Itu setara dengan luas Balikpapan. Samarinda itu sudah pada taraf darurat. Krisis wilayah resapan air. Jadi wajar jika Samarinda banjir," ungkap Dinamisator Jatam Kaltim Pradarma Rupang.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Nurrahmani tak menampik banjir yang terjadi merupakan buah dari hasil kerusakan lingkungan yang terjadi.

"Kerusakan lingkungan itu kan dampak dari kegiatan, ya macam-macam, pengupasan lahan, tambang dan lainnya. Ada benarnya juga penyampaian rekan dari Jatam itu. Meski wilayah Samarinda memang rendah, tapi diperparah kerusakan lingkungan," ucapnya.

Perempuan yang akrab disapa Yama ini juga menjelaskan adanya kegiatan tanpa izin membuat kerusakan lingkungan bertambah parah. Sebab, kegiatan tersebut tentunya tidak memperhatikan aspek lingkungan. Baik berdasarkan RTRW ataupun dampak lainnya. (*/dad/dra/k8)


BACA JUGA

Rabu, 20 Oktober 2021 11:58
Literasi Media #2 “ Kredibilitas Media Penyiaran dan Kepentingan Publik’’

Jaga Kredibilitas Media dan Tingkatkan Literasi Pemirsa

SAMARINDA – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Kalimantan Timur…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:38

Soal Rencana Pembukaan Aktivitas Ekonomi di Taman Tepian Mahakam, DLH-Dishub Tunggu Arahan Wali Kota

SAMARINDA–Dinas Lingkungan Hidup (DLH) maupun Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda belum…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:36

Siap Lanjutkan Pembongkaran Bantaran SKM

Sekitar 80 orang atau perwakilan pemilik rumah dari 99 orang…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:35

Soal Laporan Masyarakat Adanya Tambang Ilegal ke Polisi, Masih Sebatas Mempelajari

SAMARINDA–Langkah tegas korps Bhayangkara Samarinda dalam memberantas mafia tambang ilegal…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:33

Antar Ganja, Hanief Gagal Pulang

TRANSAKSI narkoba di Jalan Pramuka, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu,…

Selasa, 19 Oktober 2021 20:37

Koalisi Dosen Universitas Mulawarman, "Tolak dan Usut Tuntas Tambang Ilegal"

Koalisi Dosen Universitas Mulawarman mengirim surat terbuka yang ditujukan kepada …

Senin, 18 Oktober 2021 15:19

Pengelola SPBU Diminta Atur Antrean

ANTREAN kendaraan berat di sekitar sejumlah stasiun pengisian bahan bakar…

Senin, 18 Oktober 2021 15:18
Imbas Penjadwalan Pelaksanaan Ujian Susulan Peserta Terkonfirmasi Covid-19

Pengumuman Hasil SKD CPNS Terancam Molor

SAMARINDA – Pengumuman hasil seleksi kompetensi dasar (SKD) yang diikuti…

Senin, 18 Oktober 2021 15:17

Pertanyakan Izin Berjualan, Belum Ada Kepastian, Rusmadi: Pedagang Jangan Khawatir

Ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Taman Tepian…

Senin, 18 Oktober 2021 15:16

Imbas Aktivitas Tambang Ilegal di Muang Dalam, Bandara dan Waduk Ikut Terdampak

SAMARINDA – Pertambangan di Muang Dalam, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers