MANAGED BY:
SENIN
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Selasa, 14 September 2021 11:22
Banjir Melanda Benua Etam

HAkhmad Sirodz    

Ketua Takmir Masjid Nuruz Zaman Loa Bakung

 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia: Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS Ar Ruum 41.

 

Banjir adalah genangan air di permukaan tanah. Genangan ini terjadi akibat tidak baiknya sistem drainase, sehingga tumpahan air hujan dan atau kiriman air dari daerah hulu tidak tertampung oleh sungai. 

Kerusakan yang diakibatkan bencana banjir sangatlah besar, antara lain kerusakan biofisik, kerugian, dan penderitaan saat dan setelah banjir tidak dapat dihindari. Kerugian harta benda dan hilangnya nyawa selalu menghantui ketika musim hujan tiba. 

Menurut Organisasi Meteorologi Sedunia (WMO), banjir merupakan bencana alam ketiga yang banyak mengorbankan nyawa serta kerusakan harta benda. Bahkan banjir diisyaratkan menyebabkan pemusnahan modal dan investasi serta merugikan kesehatan rakyat.

 Menurut Bhima Yudhistira, peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) kerugian yang diakibatkan bencana banjir awal tahun 2020 di Jakarta saja ditaksir melebihi Rp 10 triliun lebih. 

Sementara banjir pun masih tetap berlangsung seperti di sebagian daerah pulau Kalimantan, Jawa, Sumatra dan Sulawesi serta daerah lainnya. Bahkan di Benua Etam seperti Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara banjir telah merendam belasan kecamatan dan menghambat aktivitas sosial ekonomi dan peribadatan keagamaan masyarakat. 

Demikian juga Kota Samarinda, Balikpapan dan Bontang bila hujan cukup deras beberapa daerahnya masih terendam banjir dan pemkotnya  hanya bisa pasrah, padahal dana yang tersedot untuk penanggulangan banjir terserbut telah puluhan miliar.  Ironisnya alamlah yang selalu disalahkan.

 

Penyebab Banjir

Ir Hari Sidarta dari Departemen Kimpraswil mengatakan, banjir yang terjadi akhir-akhir ini di Indonsia disebabkan dua macam. Pertama peristiwa alam seperti hujan besar dan waktunya lama, air laut pasang, kedua ulah dari manusia itu sendiri seperti melakukan pembukaan areal pertambangan batu bara, penebangan hutan serta daerah aliran sungai (DAS) yang kondisinya kritis. 

Bila merujuk kepada ayat dan penjelasan tersebut di atas, banjir lebih banyak diakibatkan ulah tangan manusia sendiri. Antara lain, kebiasaan sembarangan membuang sampah dan membangun lahannya tanpa memikirkan kesediaan lahan untuk resapan air. 

Banyak perumahan dibangun di daerah yang asalnya rawa atau daerah tangkapan air. Selain itu, banyak lahan pertanian telah berubah menjadi kawasan permukiman, perdagangan, industri, infrastruktur pembangunan, dan sebagainya. Kondisi tersebut sangat memengaruhi dan memperlambat serta mengurangi luas lahan bagi terjadinya infiltrasi air ke dalam tanah. 

Hasil penelitian ilmiah modern yang disampaikan oleh Harun Yahya, bahwa air hujan yang diciptakan Allah dalam siklus tahunannya di atas bumi sebanyak 513 triliun ton air dan tidak berkurang dan bertambah barang seliter pun sejak diciptakan. 

Hal ini didukung ayat yang berbunyi: “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)”. QS Az Zukhruf:11. 

Sehingga jelaslah bahwa banjir yang berulang terjadi diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri dan sesungguhnya air hujan itu untuk kehidupan. 

Penanggulangan Banjir

 

Karena penyebabnya adalah manusia, seharusnya bencana banjir dapat diatasi.  Namun selama ini penanganan bencana banjir banyak bersifat reaktif dan belum komprehensif.  Akibatnya sudah dapat dipastikan tidak akan dapat memecahkan persoalan utamanya yang menyebabkan dan sekaligus memicu bencana banjir yang selama ini terjadi.  Kesan yang muncul pada akhirnya adalah pemerintah hanya sibuk setelah bencana banjir terjadi. 

Singkatnya kita selalu saja ribut setelah bencana terjadi dan belum ada upaya untuk melakukan pencegahan konkret agar kejadian serupa tidak terulang kembali. 

Sebenarnya agar tidak terjadi banjir, perhitungan sederhananya adalah air masuk (air hujan, air pasang, dan air buangan) harus lebih kecil dari air keluar (kapasitas sungai). Dan daya tampung (daya serap permukaan).  Namun perhitungan ini sepertinya tidak pernah dilakukan oleh mereka yang berkepentingan. 

Pengendalian banjir sebaiknya lebih dititikberatkan pada pencegahan banjir atau mitigasi dampaknya banjir, jadi bukan penanggulangan setelah banjir terjadi. 

Setidaknya dalam pengendalian banjir ini ada dua hal yang dilakukan yakni secara struktural meliputi membangun sarana dan prasarana pengendalian banjir seperti waduk, tanggul, perbaikan sungai, polder, pompa. Sedangkan non struktural berupa peraturan perundangan, baik dalam bentuk PP, Keppres, permen dan perda. yang cukup tegas. 

Akhirnya marilah kita yang selama ini telah menzalimi lingkungan, seperti menambang batu bara dan menebang pohon/hutan tanpa aturan. Lalu kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai dan tempat lainnya, serta mendirikan bangunan di lereng-lereng bukit, bantaran sungai. Kesemuanya itu berpotensi menimbulkan bencana banjir, mulai mau mengubah perilaku buruk tersebut agar alam tidak murka kepada kita. 

Kemudian bencana banjir yang terjadi saat ini kita jadikan sarana intropeksi dan refleksi diri agar kita dapat kembali ke jalan yang benar seperti yang difirmankan Allah dalam surat Ar Ruum 41 tersebut di atas.  Wallahua’lam bisshawab. (luc/k16)  

 

 

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 10:13

Berucap Santun kepada yang Tua

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 15 Oktober 2021 17:50

KIP Kaltim: Citra dan Tantangan

Oleh: Imran Duse (Wakil Ketua Komisi Informasi Kaltim)   Wakil…

Jumat, 15 Oktober 2021 13:35

Merekonstruksi Perbuatan Merendahkan Kehormatan Hakim

Genaro Samuel TW Banjarnahor Kader Klinik Etik dan Advokasi Fakultas…

Rabu, 13 Oktober 2021 12:08

Sampai Mana Peran PBB

Uci Puspita Sari Mahasiswa Hukum Unmul     Perserikatan Bangsa-Bangsa…

Selasa, 12 Oktober 2021 09:59

Blue City dan Blue Economy IKN Sepakunegara

Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan   BLUE city merupakan…

Jumat, 08 Oktober 2021 10:25

Hukum Memakai BH

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Rabu, 06 Oktober 2021 13:36

Data Is The New Oil

Bronson Manik ASN di BPS Kaltim Dalam era globalisasi dan…

Senin, 04 Oktober 2021 12:11

Penguatan Sistem Logistik Pangan pada Era Covid-19

 Oleh: Bernatal Saragih Guru Besar Bidang Ilmu Pangan dan Gizi  Program…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:35

Apakah Kebersihan bagian dari Iman?

SUGENG SUSILO, S.HSTAF BIRO HUKUM SETDA. PROVINSI KALIMANTAN UTARA  …

Jumat, 01 Oktober 2021 10:33

Jalan Poros Tenggarong Seberang Longsor, Salah Siapa?

Oleh: Lili Agustiani Pemerhati Masalah Sosial   “Jalan poros putus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers