MANAGED BY:
SELASA
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Selasa, 14 September 2021 10:26
Bersiap Hadapi Tekanan Militer Tiongkok, Jepang-Vietnam Kerjasama Bidang Pertahanan
Area berwarna merah yang diklaim punya China. Negara tetangganya ikut meradang, apalagi China terus menggelar kekuatan militernya di Laut China Selatan.

TOKYO – Kerjasama pertahanan Jepang-Vietnam naik level. Itu setelah dua negara menandatangani kesepakatan transfer pertahanan di Hanoi pada Sabtu (11/9). Perjanjian itu tercapai di tengah meningkatnya pengaruh militer Tiongkok di wilayah Asia, utamanya di Laut China Selatan. Sudah bukan rahasia jika Beijing mengklaim hampir seluruh area laut yang dianggap strategis tersebut.

’’Jepang dan Vietnam berencana untuk memperdalam hubungan pertahanan melalui latihan gabungan multinasional dan beberapa kegiatan lainnya,’’ ujar Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi.

Dengan adanya kesepakatan tersebut, Jepang bisa mengekspor peralatan dan teknologi terkait pertahanan ke Vietnam. Beberapa di antaranya adalah kendaraan-kendaraan militer untuk pertahanan diri. Rincian tentang hal tersebut akan dibahas dalam pembicaraan selanjutnya. Vietnam adalah negara ke-11 yang menandatangani kesepakatan semacam itu dengan Jepang. Beberapa negara lainnya seperti Inggris, Australia, Filipina dan Indonesia.

Nikkei Asia mengungkapkan bahwa Vietnam selama ini memiliki hubungan pertahanan yang kuat dengan Rusia. Ia menjadi salah satu sekutu negeri beruang merah tersebut karena merupakan bagian dari bekas blok komunis selama perang dingin dulu. Sebagian besar peralatan militer negara yang dipimpin oleh Presiden Nguyen Xuan Phuc itu adalah buatan Rusia. Termasuk kapal selam dan jet tempur.

’’Kesepakatan ini akan memperkuat basis industri pertahanan Jepang dan diharapkan berkontribusi pada keamanan negara,’’ tegas Kishi dalam sesi konferensi pers virtual.

Dua negara juga menegaskan pentingnya kebebasan navigasi dan penerbangan serta mematuhi hukum internasional. Itu adalah sindiran kepada Tiongkok. Baik Jepang maupun Vietnam sama-sama bersengketa dengan Tiongkok. Beijing mengklaim seluruh kepulauan Spratly dan Paracel di Laut China Selatan. Padahal ia masuk dalam wilayah perairan Vietnam, Filipina dan Malaysia. Tiongkok bahkan sudah melakukan pembangunan pangkalan militer di area sengketa tersebut.

Di lain pihak, Tiongkok dan Jepang juga saling klaim atas kepulauan Senkaku di Laut China Timur. Beijing menyebutnya sebagai Diayou. Tokyo kerap melayangkan protes karena penjaga pantai Beijing kerap terlihat berpatroli di wialyah perairan Laut China Timur yang dekat dengan Senkaku. Versi Jepang, Tiongkok kerap menakut-nakuti nelayan di area tersebut.

Kunjungan Kishi ke Vietnam berbarengan dengan kedatangan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Diplomat Tiongkok menegaskan bahwa kunjungan Wang Yi terkait dengan rencana untuk mendonasikan 3 juta dosis vaksin Covid-19 ke negara tersebut. Menurut Wang Yi, Tiongkok dan Vietnam harus menahan diri dari tindakan sepihak terkait Laut China Selatan yang dapat memperumit situasi dan memperbesar perbedaan pendapat.

Meningkatnya kehadiran militer Tiongkok memang cukup meresahkan negara-negara tetangganya. Hanya berselang sehari setelah penandatanganan kesepakatan, dilaporkan bahwa kapal selam yang diyakini milik Tiongkok terlihat di perairan Jepang. Tepatnya di wilayah yang dekat dengan pulau-pulau di sisi Selatan.

Kementerian Pertahanan Jepang kemarin (12/9) mengungkapkan bahwa mereka sudah mendeteksi kapal selam itu sejak Jumat (10/9). Ia berlayar ke arah barat laut di luar perairan yang dekat dengan pulau Amami Oshima, Prefektur Kagoshima. Sebuah kapal Tiongkok jenis destroyer juga terlihat di sekitarnya.

Pasukan Pertahanan Maritim Jepang menegaskan bahwa mereka mengidentifikasi kapal-kapal tersebut di zona yang berdekatan. Kishi menginstruksikan stafnya untuk mengumpulkan informasi dan tetap waspada. Kapal selam itu terus berada di bawah air menghadap ke arah barat di laut dekat Pulau Yokoate. (sha/bay)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 11:10

57 Persen Warga Rusia Tak Takut Covid-19, Kasus Positif jadi Melonjak

 Rusia melaporkan angka kasus Covid-19 mencapai rekor. Sementara angka kematian…

Sabtu, 16 Oktober 2021 11:01

Krisis Energi, Tiongkok Terancam Inflasi

BEIJING– Krisis energi di Tiongkok berdampak panjang. Terlebih ia dibarengi…

Kamis, 14 Oktober 2021 15:18

G20 Sepakat Bantu Krisis Afghanistan

ROMA – Negara-negara anggota G20 akhirnya satu suara. Mereka sepakat…

Kamis, 14 Oktober 2021 14:49

Dipaksa Serahkan Kekuasaan Jelang Kudeta

YANGON– Win Myint buka suara terkait detik-detik kudeta. Presiden Myanmar…

Rabu, 13 Oktober 2021 12:56

Tiongkok Latihan Perang di Seberang Taiwan, Kim Jong-un Fokus Militer Pertahanan Diri

Militer Tiongkok percaya diri bisa menggagalkan semua campur tangan eksternal…

Rabu, 13 Oktober 2021 11:29

AS-Taliban Gelar Dialog Perdana, Bahas Kiriman Bantuan dan Lanjutan Evakuasi

WASHINGTON DC – Pejabat Amerika Serikat dan perwakilan Taliban bertemu…

Rabu, 13 Oktober 2021 10:33

Warga Sydney Rayakan Bebas dari Kuntara

’’Ini adalah hari kebebasan.’’ Pernyataan itu dilontarkan Perdana Menteri Negara…

Selasa, 12 Oktober 2021 10:45

Singapura Tambah Akses Bebas 9 Negara, Masuk Tanpa Harus Karantina Covid-19

Grafik angka penularan Covid-19 di Singapura belum turun drastis. Namun…

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:23

Leni Robredo Pilih Maju Jalur Independen

MANILA– Leni Robredo akhirnya memberikan kepastian. Wakil presiden Filipina tersebut…

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:18

Biden-Xi Siap Dialog Empat Mata, Bertemu Virtual, Bahas Isu Dua Negara

WASHINGTON DC– Hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok bakal terjalin lebih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers