MANAGED BY:
SENIN
29 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 13 September 2021 10:17
Dampak Belajar Jarak Jauh, Kurang Interaksi Sosial, Sulit Pahami Materi
Pandemi Picu Learning Loss di Kaltim
Siswa sangat rindu bertemu dan belajar tatap muka.

Screening menunjukkan banyak siswa tak mampu memenuhi indikator standar. Learning loss karena pembelajaran jarak jauh tak hanya terjadi di pelosok, tetapi juga di perkotaan.

 

 

Hujan mengguyur Balikpapan, Kamis (9/9) lalu. Pagi itu, di sebuah sekolah dasar (SD) negeri di Balikpapan, sebuah kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) sedang dilaksanakan. Atas permintaan kepala sekolah, identitas sekolah dirahasiakan.

“Kami mulai PTM sejak Agustus lalu,” kata kepala sekolah yang namanya tidak ingin dikorankan. Kata dia, PTM ini tidak mendapat rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan. Karena memang, sejak Balikpapan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, PTM belum boleh digelar. Namun, kata dia, pihak dinas disebut telah mengetahui.

“Mau tidak mau kami harus PTM. Kondisi wilayah dan siswa tidak memungkinkan belajar daring secara maksimal,” ungkap kepala sekolah. Pengalaman tahun ajaran lalu, sekolah tidak mampu memaksa siswa belajar daring secara penuh. Mayoritas orangtua siswa tidak mampu menyediakan smartphone untuk anak mereka. Walhasil, banyak anak bergantung pada ponsel orangtua. Jika orangtua pergi bekerja, anak tak bisa sekolah daring. Bahkan untuk mengumpulkan tugas, banyak siswa terpaksa melewati deadline karena harus menunggu orangtua mereka pulang.

“Orangtua siswa kebanyakan pekerja. Ada yang petani, juga pedagang. Kebanyakan mereka tidak mampu finansial atau meluangkan waktu mendampingi anak belajar daring,” ungkapnya.

Sekolah pernah mendapat bantuan smartphone. Tapi hanya tiga unit. Selain itu, karena berada di wilayah pinggiran kota, sejumlah kawasan di wilayah ini blank spot. Tak banyak pula rumah tangga yang memiliki koneksi internet. Kondisi ini membuat pihak sekolah memaksakan diri melaksanakan PTM terbatas. Mengantisipasi banyaknya siswa yang absen ketika belajar daring.

“Saat proses pengenalan lingkungan pada siswa baru, orangtua dikumpulkan. Dari kelas 1 sampai 6. Kami umumkan buka PTM terbatas. Guru-guru pun menyanggupi karena kondisinya memang tidak memungkinkan belajar daring,” jelasnya.

Setiap guru kelas menjadi penanggung jawab. Setiap hari, Senin hingga Kamis, guru akan membuka kuota siswa yang akan mengikuti sekolah luring. Diumumkan di grup WhatsApp. Terbatas, maksimal hanya 10 siswa per kelas. Sekolah tidak memaksa orangtua agar anak mereka belajar luring. “Siswa daftar sehari sebelumnya. Pelaksanaannya sendiri sehari hanya dua jam belajar. Kami terapkan prokes (protokol kesehatan). Seperti jaga jarak dan pakai masker,” ujar pria berkacamata itu.

Dalam prosesnya, pihak sekolah merasakan perubahan. PTM terbatas membuat siswa semangat belajar. Guru pun tidak keberatan meski harus dua kali mengajar, luring, dan daring. Orangtua siswa pun tidak khawatir soal kondisi psikologis dan akademis anak mereka.

“Yang terpenting bagaimana anak-anak mengenal gurunya. Yang terjadi sebelumnya, ada anak yang panggil om pas bertemu gurunya, karena memang tidak pernah bertemu langsung,” sebutnya.

Dia hanya berharap pemerintah segera mengeluarkan rekomendasi untuk penyelenggaraan PTM. Karena dia khawatir terjadinya learning loss. Situasi di mana peserta didik kehilangan pengetahuan dan keterampilan baik umum atau khusus atau kemunduran secara akademis. Ini terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau ketidakberlangsungannya proses pendidikan.

“Wilayah (kelurahan) ini zona kuning. Semoga kembali hijau. Dan bisa segera PTM agar anak-anak bisa sekolah dan belajar seperti biasanya,” terang dia.

SUSAH MEMAHAMI PELAJARAN

Sejak diterima di Madrasah Ibtidaiyah SCM Balikpapan, Faidha Dzahabiyyah Fitri belum pernah bertemu langsung dengan teman kelasnya. Pembelajaran selama ini hanya dilakukan secara virtual via Zoom. “Sejak diterima masuk kelas 1, anak saya hampir setiap hari tanya kapan masuk sekolah,” kata orangtuanya, Dewantara, Jumat (10/9).

Pada usianya yang belum genap 7 tahun, Faidha Dzahabiyyah Fitri tak punya kesempatan masuk taman kanak-kanak karena pandemi. Kemampuannya membaca atau berhitung diajarkan orangtua. Namun karena keterbatasan, Dewantara menyebut, anaknya lebih banyak belajar secara mandiri menggunakan ponsel pintar. “Beruntungnya kami mampu. Saya kasih anak saya HP meskipun bekas,” sebutnya.

Meski begitu, dalam proses belajar sang anak disebut banyak kehilangan kesempatan menimba ilmu dari sang guru di seberang kamera. Lantaran waktu yang terbatas. Maksimal hanya dua jam sehari, dua kali seminggu. Selebihnya, anak lebih banyak mendapatkan tugas meniru video yang diberikan guru.

“Misal ada tugas ceramah singkat. Anak diminta menonton video orang ceramah dan diminta meniru dengan gaya mereka,” sebutnya.

Dewantara merasakan perbedaan kemampuan Faidha Dzahabiyyah Fitri dengan anaknya yang duduk di kelas 5 SD, Baidah Elviana Dewanita. Di luar karakteristik masing-masing anak, pembelajaran daring memberikan efek lambatnya anak dalam menyerap pelajaran yang diberikan oleh sekolah. “Meskipun tugas yang diberikan itu sudah detail, namun nalar anak tidak sampai,” katanya.

Kondisi ini pun menular ke Baidah Elviana Dewanita. Kata dia, setahun menjalani PJJ, Baidah kerap kesulitan dalam belajar. Karena interaksi antara guru dan murid sudah tidak seintensif saat PTM, anaknya sering kebingungan jika menemukan soal yang dianggap sulit dipecahkan. Sering uring-uringan karena konsentrasi belajarnya terpecah hanya gara-gara ada iklan sembulan. “Dulu dikasih tugas masih bisa tanya ke guru atau teman-temannya langsung di kelas. Sekarang enggak bisa,” ungkapnya.

Di kesempatan lain, awak media bertemu sekelompok mahasiswa yang sedang menjalani program Kampus Mengajar. Bagian dari program Kampus Merdeka dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bertujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan.

“Kami sudah mendapat izin bahkan dibantu dari Dinas Pendidikan untuk melaksanakan program ini. Setidaknya kehadiran program ini bisa meminimalisasi efek learning loss yang terjadi selama pandemi,” kata Ketua Kelompok Kampus Mengajar di Balikpapan Nadya Tasya.

Sejak Agustus, para mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia ini turut membantu murid untuk meningkatkan kemampuan belajar. Mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung tersebut menjelaskan, selama pandemi, banyak anak usia sekolah telah mengalami learning loss. Kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T), lokasi di mana mahasiswa Kampus Mengajar biasa ditempatkan.

“Baik di perkotaan maupun daerah 3T, anak-anak sudah mengalami learning loss,” kata Nadya. Dia menyebut, kondisi ini diperoleh berdasarkan hasil screening. Mahasiswa Kampus Mengajar menggunakan sebuah metode pengisian kuesioner kepada siswa. Khususnya yang masih duduk di kelas 1 dan 2 SD. Indikator menunjukkan jika banyak siswa yang tidak mampu memenuhi standar yang ada.

“Misal, untuk anak usia 7 tahun atau kelas 1 SD. Saat akan masuk ke SD, anak diharapkan mampu membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Tetapi dari screening kami menemukan mereka masih kesulitan bahkan untuk mengenal angka,” ungkap gadis asal Balikpapan ini.

Dengan izin orangtua siswa, mereka pun dalam waktu tertentu mengajak sejumlah anak secara bergantian datang ke sekolah. Di sini, mereka membantu kesulitan yang dihadapi anak selama belajar. Kondisi ini akan berlangsung hingga periode Kampus Mengajar kelompok mereka selesai di akhir tahun ini. (rdh/dwi/k8)


BACA JUGA

Minggu, 28 November 2021 12:51
Varian Baru Covid-19 Ditemukan di Afrika Selatan

GAWAT INI..!! Omicron Menular 500 Persen Lebih Cepat

JAKARTA – Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan tentang menyebarnya…

Minggu, 28 November 2021 11:46

Pendapatan Kaltim Ditarget Naik Rp 1,2 Triliun

Meski pandemi belum sepenuhnya terlewati, Pemprov Kaltim berani menaikkan target…

Minggu, 28 November 2021 11:40
Warga Menuntut, Pemkot Balikpapan Melunak

Tentukan Batas Seksi 5 Tol Balsam , Wali Kota: Enggak Boleh Sembarangan

Pemkot Balikpapan akan mempertimbangkan kembali mengenai penetapan batas wilayah Seksi…

Minggu, 28 November 2021 11:37

2022, Pemprov Rancang Belanja Rp 11,5 Triliun

SAMARINDA-Nilai rancangan APBD Murni 2022 Kaltim diperkirakan Rp 10,86 triliun…

Minggu, 28 November 2021 11:36

Tinjau Ulang Proyek Jembatan Teluk Balikpapan

RENCANA pembangunan Jembatan Tol Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU) diminta untuk…

Minggu, 28 November 2021 11:15

Sindikat Penghilangan Relaas, Pemprov Janjikan Bersih-Bersih Pegawai

SAMARINDA-Kasus dugaan penghilangan relaas atau surat panggilan dari Pengadilan Negeri…

Minggu, 28 November 2021 11:07

Mekanisme Pembayaran Dana Karbon Masih Dibahas

SAMARINDA–Usai menghadiri Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2021 atau dikenal…

Minggu, 28 November 2021 11:04
Di Balik Hilangnya Surat Panggilan Sidang yang Menguntungkan Perusahaan Tambang

Diduga Ada Pelaku Lain, Usut Oknum Penyuap di Dinas ESDM Kaltim

SAMARINDA–Diduga karena persekongkolan, izin usaha pertambangan (IUP) yang sebagian tak…

Kamis, 25 November 2021 23:37

Ada Mafia Tambang di ESDM Kaltim, Gelapkan Surat Persidangan, Tiga Pegawai Dilaporkan ke Polisi

SAMARINDA–Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim digugat perdata…

Kamis, 25 November 2021 23:20

BPKP Mulai Audit Kasus Pengondisian Muatan Feri

PRAKTIK pengondisian muatan di Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan hingga kini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers