MANAGED BY:
SENIN
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Kamis, 02 September 2021 13:35
”Laboratorium” Teh Nusantara di Kedai Lokalti, Kalau Bingung, Coba Pesan Lik Yadi atau Mbak Winarsih
Peracik sedang menyeduh teh.

Teh adalah kekasih indera pengecap. Kedai Lokalti menyediakan berbagai jenis hasil perburuan ke puluhan daerah dengan beragam cerita di baliknya.

 

ILHAM WANCOKO, Sleman, Jawa Pos

 

DARI dalam deretan stoples itu, menguar ucapan selamat datang kepada setiap pengunjung Kedai Lokalti. Dalam bentuk semerbak wangi teh yang berkampung halaman dari berbagai sudut Nusantara.

Sleman, Jogjakarta, kebetulan baru selesai diguyur hujan sore itu. Cuaca dingin, bau tanah selepas hujan, dan aroma teh pun seperti bersepakat mendorong tenggorokan berteriak: tolong, guyur aku dengan teh hangat!

Tapi, memesan satu cangkir teh yang tak perlu pertimbangan ternyata tidak berlaku di kedai tersebut. Sebab, tempat di kawasan Jalan Damai, Sleman, itu tak ubahnya ”laboratorium” teh Nusantara: ada beragam jenis dari 40 daerah yang disajikan di sini.

Dalam kondisi begini, jurus klasik pun keluar: meminta apa yang paling spesial di menu. ”Semua spesial di sini, teh semacam apa yang disukai,” jawab si peracik, Ryan.

Baiklah kalau begitu. Jurus berikutnya: meminta teh yang paling favorit dipesan pelanggan. Lha kok rupanya ada dua: Lik Yadi dan Mbak Winarsih.

Apa-apaan ini, pesan teh kok dikasih orang. Ternyata, memang itulah nama kedua teh yang menjadi idola di kedai yang berdiri sejak 2015 itu.

Lik Yadi merupakan teh dengan rasa yang pekat kuat, bak seorang pemuda tangguh melewati pahit manisnya kehidupan. Rasanya dalam bahasa Jawa lebih ke sepet. Sepertinya nama itu tepat, hidup ini sepet, terkadang manis dan akhirnya sepet lagi, duh. Lik Yadi akhirnya menjadi pilihan.

Ryan kembali bertanya dengan metode penyajian: reguler atau biasa, baller, pres, atau poci. Memilih teh di sini rasanya seperti memilih hidangan utama. Walau, memang hanya teh yang disediakan. Tanpa kopi layaknya kedai lainnya.

Peracik lantas menjelaskan tiap metode itu. Reguler layaknya menyeduh teh tubruk. Baller dengan cara teh ditekan menggunakan saringan besi berbentuk bulat sempurna. Pengaruh rasanya akan memperlembut.

Adapun metode pres menyajikan teh dalam sebuah gelas yang terdapat penekan di tutupnya. Makin ditunggu tekanannya, makin kuat rasa tehnya.

Untuk poci, teh disajikan dalam sebuah poci gerabah. Bedanya, di sini poci gerabah disiram air panas di sisi luarnya. Tujuannya, menyamakan suhu di luar dan di dalam poci. Itu membuat kehangatan teh bertahan lama dan rasanya jelas lebih nonjok.

Setelah memilih metode pres, tak lama kemudian teh disajikan. Sebuah gelas kecil dengan alat pres yang berbentuk seperti gelas besar dengan saring yang ditekan.

Rasanya tak lagi perlu ditanya. Top markotop, kalau boleh meminjam istilah yang sering kali diucapkan sang promotor kuliner, Bondan Winarno.

Pemilik Kedai Lokalti Argadi menuturkan, teh selama ini dianggap sebagai minuman sederhana. Padahal, sebenarnya tidak.

Perbendaharaan teh begitu kaya. Tiap daerah memiliki teh domestik sendiri. ”Dengan karakter masing-masing,” ujarnya.

Argadi sedari mula begitu keranjingan dengan teh. Kecintaan itu mendorongnya untuk berburu teh ke seluruh Indonesia.

Dari Solo yang dikenal sebagai kota dengan teh terenak, Tegal yang khas akan pocinya, hingga Padang dengan teh telurnya. Juga Aceh dengan teh tariknya.

Di Solo, Argadi selama seminggu mempelajari berbagai cara meramu teh. Hanya bermodal nekat, dia mendatangi warung teh milik Pakde Blontank.

Awalnya menjadi pengunjung yang ingin menikmati teh. Tapi, setelah berkali-kali, mencoba mengenalkan diri sebagai pencinta teh yang memiliki kedai teh di Jogjakarta. ”Lalu, minta diajari membuat teh,” jelasnya.

Jurus itulah yang selalu diulang-ulang, baik ke Soto Gading yang masih di Solo, di Tegal untuk mempelajari poci, maupun ke sebuah warung khas Aceh yang begitu ramai di Padang Sidempuan, Sumatera Utara. ”Kalau yang di Sumatera Utara mempelajari teh telur dan teh tarik,” tuturnya.

Memang tidak semuanya diajarkan para pemilik warung itu. Namun, sebagai pencinta teh, Argadi setidaknya bisa meraba ke mana arah untuk meracik teh yang diinginkan. ”Kalau ditanya kiblat teh saya, jelas itu Solo,” paparnya.

Menurut dia, teh oplosan di Solo tak bisa dipandang sebelah mata. Setidaknya ada tujuh jenis teh yang dicampur. Dari teh dandang, gopek, nyapu, sintren, hingga gardoe. ”Tapi, yang paling favorit saya itu teh di Soto Gading,” urainya.

Rasa tehnya, bagi dia, benar-benar di luar nalar. Soto Gading itu juga salah satu langganan Presiden Jokowi. ”Walau paling enak menurut saya, saya tidak ingin mengkloning rasa teh itu. Saya mencari rasa yang setara tapi berbeda, meski masih dalam pencarian,” ujarnya.

Dia menuturkan, tingkat keenakan sebuah teh bisa diindikasikan dari tiga hal. Yakni, keharuman, kepekatan, dan ketahanan rasanya.

Teh yang semakin harum memicu hasrat untuk menikmati, kepekatan teh memberikan nuansa di lidah, dan ketahanan rasa yang lama memberikan perpisahan yang happy ending di lidah. Teh memang kekasih indra pengecap.

”Itulah yang saya tuju,” paparnya.

Dalam sejarahnya, teh ditemukan Kaisar China Shen Nong pada 2737 SM atau sekitar 5 ribu tahun lalu. Syahdan, ketika kaisar sedang mendidihkaan air, tiba-tiba terjatuhlah sebuah daun dan dibiarkan. Ditemukanlah teh yang kemudian menyebar ke penjuru dunia.

Di Indonesia, teh juga memiliki cerita etnografis sendiri. Misalnya, di Tegal, tingkat kepanasan teh menjadi tanda untuk seorang tamu apakah patut berlama-lama atau tidak.

Kalau teh yang disajikan sangat panas, dipahami sang empu rumah ingin tamunya berlama-lama. ”Kalau teh pocinya hangat-hangat kuku, berarti tidak ingin tamunya berlama-lama,” ujar Argadi.

Di Lokalti yang menyediakan 40 jenis teh domestik ini, oplosan juga sangat dianjurkan. Bahkan, teh utama dalam menu di Lokalti merupakan hasil eksperimen dengan oplosan berbagai teh. ”Setidaknya tiga jenis teh menjadi satu,” tuturnya.

Untuk menemukan satu menu teh, dilakukan uji coba dengan berbagai oplosan. Setelahnya dicicipi sepuluh rekan Argadi.

”Saya minta menilai mana teh yang paling enak dengan skor,” ujarnya seraya kembali mengenang awal mula Kedai Lokalti.

Membicarakan teh tentu sulit untuk tidak membandingkannya dengan kopi. Kendati kerap disajikan bersamaan, hampir pasti tidak ada satu orang yang memesan keduanya bersamaan.

Bak pasangan yang pisah ranjang dan dalam proses bercerai. ”Ya, seperti itulah kopi dan teh. Bahkan keduanya bersaing,” ujarnya, lalu tertawa.

Teh yang baik, menurut para pencinta teh, dipadukan dengan batu gula. Yang awalnya sepet atau pahit lama-kelamaan menjadi manis.

Sebagaimana hidup, berpahit-pahit dahulu, manis kemudian. Tapi, kalau hidup sudah pahit, tehnya manis saja lah. (*/c19/ttg)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 11:26
Alejandro Putra Nugroho dan Alvaro Putra Nugroho, Suporter Cilik Militan Tim Thomas-Uber Indonesia

Di Momen Kritis Teriakkan, Tiga Poin Lagi, Om Vito!

Alejandro dan Alvaro tak henti meneriakkan dukungan sampai Indonesia memastikan…

Jumat, 15 Oktober 2021 14:46

Sutjiati Narendra, dari New York ke Dua Emas PON XX

Teknik Sutjiati Narendra sudah bagus ketika pertama bergabung dengan tim…

Rabu, 13 Oktober 2021 10:26

Melihat Sebenar-benarnya Merdeka Belajar di SMK Bakti Karya

Adu argumen, saling balas kritik, dan debat dengan guru. Itulah…

Selasa, 12 Oktober 2021 10:27

Ke Gili Iyang, Sumenep, Menikmati Kadar Oksigen Tertinggi Kedua di Dunia

Tak sedikit orang, termasuk dari luar negeri, yang berkunjung ke…

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:26

Sistem Kependudukan versus Nama Bocah yang Terdiri atas 118 Huruf

Namanya Arif Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal…

Jumat, 08 Oktober 2021 09:47
Yusuf Sumako Dongkrak Kinerja Perpustakaan

Kejar Akreditasi, Perbanyak Mitra Kerja

Genap sebulan menjabat sebagai kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Paser,…

Kamis, 07 Oktober 2021 14:32

Prasetyo Nurhardjanto Menghabiskan Waktu Isoman dengan Menulis Buku

Pendakian ke Everest, menjadi relawan di Rumah Bunda Teresa, dan…

Rabu, 06 Oktober 2021 11:32
Momen Peringatan HUT Ke-76 TNI dan Ke-43 FKPPI

Demi Herd Immunity Bersama Prajurit dan Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri

Hari ini, TNI genap berusia 76 tahun. Momen itu bertepatan…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:22

Begini Upaya Komunitas Save Trowulan Menjaga Warisan Majapahit untuk Generasi Penerus

Mengadakan trip tematik menjadi salah satu cara Komunitas Save Trowulan…

Selasa, 05 Oktober 2021 11:56

Cerita Warung Berjalan Kakek Ongen pada Setiap Akhir Pekan

Tiap kali berbagi kepada anak-anak kurang mampu, Mohamad ”Ongen” Sangaji…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers