MANAGED BY:
SENIN
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Sabtu, 28 Agustus 2021 22:41
Budayawan Urun Solusi Regulasi Desa Adat dan Minoritas Kreatif
Kusni Sulang dan Marten Apuy dalam dialog bersama Kaltim Post.

Pembangunan sosial budaya, mental, dan karakter perlu dilakukan. Untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

 

RENCANA pemindahan ibu kota negara (IKN) baru ke Kaltim disambut gembira oleh masyarakat adat Dayak. Dengan harapan bisa ikut berperan aktif dalam pembangunan IKN baru nanti.

Sebab itu, sumber daya manusia yang mumpuni sudah harus dipersiapkan. Yang nantinya bisa berpartisipasi, baik dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi maupun sisi kearifan lokal, sehingga masyarakat Dayak tidak ketinggalan dalam pembangunan IKN baru nanti.

“Bagaimana kita melihat kampung halaman kita dengan baik. Jadi kita bisa berperan aktif,” kata Ketua Harian Persekutuan Dayak Kaltim (PDKT) Marthen Apuy pada Kaltim Post Talk Show; Belajar Menjadi Indonesia dari IKN, Jumat (27/8).

Selain itu, mantan anggota DPRD Kaltim periode 2009–2014 itu mengatakan, masyarakat adat Dayak Kaltim menginginkan IKN baru nanti sebagai wilayah yang Indonesia-sentris. Dalam artian, pembangunannya merata dalam berbagai bidang di seluruh wilayah Indonesia. Di mana, keragaman masyarakat Kaltim mampu dipelihara dengan baik. Saling menghormati adat istiadat.

Dengan demikian, Kaltim tetap kondusif karena masyarakatnya saling menghargai dalam menyikapi perbedaan budaya. “Menurut peribahasa, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Walaupun masih ada riak-riak kecil, keanekaragaman budaya di Kaltim terpelihara dengan baik,” kata dia.

Dia pun mengakui, keberadaan IKN memang membuat masyarakat adat Dayak merasa bisa terpinggirkan. Seperti halnya masyarakat Betawi yang terpinggirkan di Jakarta. Namun, dengan adanya daerah otonomi baru di Kutai Barat (Kubar), yakni Mahakam Ulu (Mahulu), membuat masyarakat adat Dayak yang di sana menjadi maju. Yang sebelum adanya daerah otonomi baru, masyarakat di Mahulu tertinggal.

“Begitu ada tantangan, sepertinya kita akan siap menghadapi itu. Dan bisa lebih mempersiapkan diri. Dengan adanya otonomi baru ini, orang Dayak akhirnya jadi pemimpin,” ucapnya.

Marthen pun menyebut, dengan adanya pusat pemerintahan baru di Kaltim, tidak menutup kemungkinan beberapa tahun yang akan datang, ada masyarakat adat Dayak yang jadi presiden. Atau wakil presiden.

“Karena sudah semakin dekat dengan pusat pemerintahan di daerah kita. Artinya kita melangkah untuk berkuasa semakin dekat,” harapnya.

Untuk mempersiapkan hal tersebut, perlu membangun sosial budaya, mental, dan karakter masyarakat adat Dayak guna bisa beradaptasi dengan kondisi yang akan datang. Seperti yang disampaikan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ada trisakti yang harus dicapai. Yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. “Nah, tiga poin ini yang perlu kita siapkan,” pungkasnya.

Sementara Kusni Sulang, budayawan asal Kalteng, menegaskan bahwa dia secara konsisten tidak setuju bila Kalteng ditetapkan menjadi calon IKN baru. Rencana itu memang sempat disampaikan pada masa Presiden Soekarno. Ketidaksetujuan itu karena masyarakat adat Dayak pasti tidak siap menerima pembangunan IKN baru itu.

“Saya tidak ingin melihat Dayak makin terpinggir. Sama sekali. Tetapi kalau Jokowi memutuskan Kalteng, walaupun itu tidak terjadi, kami enggak bisa apa-apa,” katanya.

Kusni mengaku sedikit bersyukur Kalteng tidak dipilih Presiden Joko Widodo sebagai calon IKN baru. Sebab, dia mendengar munculnya kekhawatiran apabila masyarakat adat Dayak di sekitar calon IKN baru, yakni Penajam Paser Utara (PPU), tidak siap menerima keberadaan IKN baru nanti.

Kekhawatiran masyarakat adat Dayak tidak siap menerima keberadaan IKN baru nanti, karena Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menyampaikan paling tidak ada 2 juta penduduk yang akan berdomisili di IKN baru nanti. Saat ini Dayak bukan mayoritas di Kecamatan Sepaku, PPU. Jumlahnya hanya sekitar 5 persen.

“Ini sudah ditetapkan. Bahwa PPU merupakan calon IKN. Ini sulit ditolak. Makanya, sikap saya daripada mengutuk kegelapan malam, lebih baik menyalakan lilin,” katanya.

Lalu apa lilin yang perlu dinyalakan agar masyarakat Dayak tidak selalu dalam kegelapan? Lilin itu, menurut dia, membuat payung hukum untuk desa adat. Melalui regulasi tersebut, desa adat mampu mengelola dirinya sendiri.

Ini merupakan pendekatan integral untuk pemberdayaan masyarakat adat. Baru dilakukan pembangunan. Melalui desa adat itu, diharapkan mampu membangun dirinya sendirinya. Bukan dibangun pihak lain. Seperti yang selama ini terjadi.

Hal lainnya adalah mengembangkan metode minoritas kreatif. Yang merupakan program pengembangan untuk menciptakan SDM adat kreatif. Yang jumlahnya sedikit itu.

“Saya enggak tahu, bisa diajukan sekarang atau nanti. Tapi saya melihat kalau salah-salah politik yang diterapkan, maka keterpinggiran Dayak makin terjadi. Apa bedanya dengan Betawi,” kritiknya.

Keragaman budaya yang terpelihara dengan baik di Kaltim merupakan suatu rahmat. Kusni menilai itu sangatlah baik. Sebab, masing-masing budaya memiliki keunggulan, sehingga dalam hal ini metode yang dianggapnya dan diterapkan adalah metode dua perpaduan. Unsur baik dari luar, dari manapun datangnya, baik dari Indonesia atau luar negeri, dengan unsur positif dari budaya lokal bisa dipadukan.

“Sehingga menghasilkan budaya tanggap zaman. Kebudayaan yang sanggup menjawab zaman,” pungkasnya. (kip/dwi/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 11:26
Alejandro Putra Nugroho dan Alvaro Putra Nugroho, Suporter Cilik Militan Tim Thomas-Uber Indonesia

Di Momen Kritis Teriakkan, Tiga Poin Lagi, Om Vito!

Alejandro dan Alvaro tak henti meneriakkan dukungan sampai Indonesia memastikan…

Jumat, 15 Oktober 2021 14:46

Sutjiati Narendra, dari New York ke Dua Emas PON XX

Teknik Sutjiati Narendra sudah bagus ketika pertama bergabung dengan tim…

Rabu, 13 Oktober 2021 10:26

Melihat Sebenar-benarnya Merdeka Belajar di SMK Bakti Karya

Adu argumen, saling balas kritik, dan debat dengan guru. Itulah…

Selasa, 12 Oktober 2021 10:27

Ke Gili Iyang, Sumenep, Menikmati Kadar Oksigen Tertinggi Kedua di Dunia

Tak sedikit orang, termasuk dari luar negeri, yang berkunjung ke…

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:26

Sistem Kependudukan versus Nama Bocah yang Terdiri atas 118 Huruf

Namanya Arif Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal…

Jumat, 08 Oktober 2021 09:47
Yusuf Sumako Dongkrak Kinerja Perpustakaan

Kejar Akreditasi, Perbanyak Mitra Kerja

Genap sebulan menjabat sebagai kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Paser,…

Kamis, 07 Oktober 2021 14:32

Prasetyo Nurhardjanto Menghabiskan Waktu Isoman dengan Menulis Buku

Pendakian ke Everest, menjadi relawan di Rumah Bunda Teresa, dan…

Rabu, 06 Oktober 2021 11:32
Momen Peringatan HUT Ke-76 TNI dan Ke-43 FKPPI

Demi Herd Immunity Bersama Prajurit dan Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri

Hari ini, TNI genap berusia 76 tahun. Momen itu bertepatan…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:22

Begini Upaya Komunitas Save Trowulan Menjaga Warisan Majapahit untuk Generasi Penerus

Mengadakan trip tematik menjadi salah satu cara Komunitas Save Trowulan…

Selasa, 05 Oktober 2021 11:56

Cerita Warung Berjalan Kakek Ongen pada Setiap Akhir Pekan

Tiap kali berbagi kepada anak-anak kurang mampu, Mohamad ”Ongen” Sangaji…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers