MANAGED BY:
MINGGU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Selasa, 24 Agustus 2021 11:26
Kampus Mengajar, 15 Ribu Pendaftar Meski Pandemi
BERKESAN: Tiga bulan mengajar di SD Islam Alam Al-Fatah, justru banyak pengalaman dan tantangan dirasakan.

Berbagai program diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Salah satunya Kampus Mengajar. Implementasi pendidikan khususnya daerah 3 T (tertinggal, terluar dan terdepan) guna tingkatkan mutu pendidikan di tengah pandemi. Dengan antusias 15 ribu mahasiswa se-Indonesia.

 

MERUPAKAN bagian dari program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM). Bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tidak ada syarat khusus bagi program studi tertentu, pun tidak ada kuota khusus setiap provinsi. Terbuka bagi seluruh mahasiswa dari perguruan tinggi di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).

Program tersebut melakukan pengajaran kepada siswa di bangku sekolah dasar (SD). Menjadi mitra guru untuk berinovasi dalam pembelajaran literasi, numerasi serta adaptasi teknologi.

Dalam surat tugas dari Kemendikbud tertanggal 20 Maret, tercatat ada 14.621 mahasiswa yang lolos seleksi dari 36 ribu mahasiswa yang mendaftar. Menjembatani kesulitan belajar di SD baik secara daring maupun luring. Dilaksanakan mulai 22 Maret hingga 25 Juni.

Salah satunya yakni Nadia Karima Maula, mahasiswi Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang (UNM). Mendapat penempatan di SD Islam Alam Al-Fatah Sambutan, Samarinda bersama enam teman lainnya yang juga mengikuti program Kampus Mengajar.

“Sewaktu daftar memang masukin alamat domisili rumah di Samarinda. Dari beberapa pilihan SD yang ada, Sambutan itu yang jaraknya paling dekat dari rumah,” ujar alumnus SMA Islam Bunga Bangsa yang berdomisili di Lempake tersebut.

Diungkapkan jika mulanya dia mendapat informasi dari keluarga dan temannya. “Mereka tahu kalau saya itu memang suka dunia pendidikan. Kenapa enggak coba daftar kan. Saya tertarik karena selain kembangkan potensi mahasiswa, juga membantu pemerataan pendidikan di SD-SD,” bebernya.

Nadia menyebut jika penempatan SD berdasarkan alamat yang terdata. “Misal kalau saya kan kebetulan lagi di Samarinda, jadi masukkan alamat domisili di Samarinda. Dapat penempatan di sini,” beber perempuan kelahiran 2000 itu.

Syaratnya yakni mahasiswa aktif minimal duduk di semester 5, diutamakan memiliki pengalaman mengajar atau berorganisasi. Dengan berbagai dokumen yakni rekomendasi dekan, pernyataan komitmen, surat izin orangtua, surat keterangan sehat dan transkrip nilai. Lalu surat keterangan pengalaman mengajar atau berorganisasi dan sertifikat prestasi yang bersifat opsional.

Proses seleksi yakni selain validasi data dan berkas. Lalu peserta yang lolos lanjut untuk tes kebhinekaan secara online. Masuk ke laman yang sudah disediakan dan menjawab soal sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Keaktifannya pada grup koordinasi, membuat Nadia didapuk sebagai Duta Kampus Mengajar Wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Dia menjadi jalur koordinator peserta Kampus Mengajar di Kaltim ke panitia.

“Jadi misal mereka ada kendala atau kesulitan, itu yang saya rangkum dan sampaikan. Jadi enggak mereka masing-masing langsung ke panitia. Ada yang kendalanya ternyata dari rumah dan SD penempatan itu aksesnya jauh, sampai tiga jam perjalanan. Bahkan ada yang mesti naik kapal dulu. Masalah akomodasi dan transporasi,” bebernya.

Nadia aktif untuk mengomunikasikan ke pihak panitia. “Nah sarannya, bisa cari sewaan atau kontrakan sekitar SD. Ada juga yang tinggal di rumah kepala desa atau kepala sekolah yang justru membolehkan tinggal di rumahnya. Benar-benar dijamu gitu jadinya,” terangnya antusias.

SEKOLAH TERBUKA MENERIMA MASUKAN

Di situasi pandemi, penerapan sistem belajar daring atau online tak sepenuhnya efektif. Terlebih bagi siswa pun guru yang memiliki keterbatasan akses atau fasilitas. Seperti yang dialami Nadia. SD tempat dia mengabdi, memberlakukan sistem shift atau bergantian belajar offline setiap harinya.

“Kelas 1,2 dan 3 Senin, Rabu, Jumat. Kemudian kelas 4 dan 5 Selasa, Kamis, Sabtu. Kebetulan saat itu kelas 6-nya sudah selesai. Intinya di sana belum bisa menerapkan pembelajaran daring, karena keterbatasan fasilitas,” ungkap Nadia.

Pengalaman mengajar bukan kali pertama dirasakannya. Tahun lalu, dia pernah mengajar dengan sistem daring. Dengan fasilitas mumpuni, serta yang dia didik adalah siswa kelas 6.

“Tapi jadi tantangan tersendiri ketika kami mengajar di daerah 3T. Apalagi saya pegang kelas satu. Seru banget jadinya. Sulit di materi sih enggak, lebih ke bagaimana memahami karakter anak-anak yang baru kelas 1 itu,” sambungnya lalu terkekeh.

Mestinya, sisa SKS yang akan dia ambil pada semester akhir adalah KKN (kuliah kerja nyata), KPL (kajian dan praktik lapangan) serta skripsi. Namun kini, dia hanya tinggal menyelesaikan skripsi.

Sebab, salah satu benefit dari Kampus Mengajar adalah konversi 12 SKS. “Tergantung kebijakan jurusan dan kampus masing-masing. Alhamdulillah di tempat saya bisa dikonversi. Jadi saya enggak KKN dan KPL lagi,” sebutnya.

Dari kebersamaan yang dia bangun bersama siswa dan guru di SD penempatan, Nadia mengatakan jika pihak sekolah sangat terbuka terhadap segala masukan. Khususnya terkait peningkatan sistem belajar.

“Dari semua program yang kami jalankan, mereka (pihak sekolah) mendukung. Kelihatan sekali mereka itu mengerahkan tenaga untuk memberi kita ruang. Jadi di sana ada sekitar tujuh peserta Kampus Mengajar termasuk saya,” pungkasnya.

Antusias tinggi dari peserta Kampus Mengajar Angkatan 1, kembali dibuka pendaftaran Kampus Mengajar Angkatan 2. Kini sudah memasuki tahap penugasan yakni sejak Agustus hingga Desember 2021.

Terdapat perbedaan konversi SKS yang ditawarkan, jika sebelumnya hanya 12 SKS, kini menjadi 20 SKS. Selain itu, sasaran sekolah penempatan tak hanya SD, melainkan SMP. Dengan merekrut hingga 17 ribu mahasiswa yang diterjunkan ke 3.400 SD dan 3 ribu mahasiswa diterjunkan ke 375 SMP. (rdm)


BACA JUGA

Rabu, 20 Oktober 2021 01:05

Begini Tren Fesyen Muslim Kekinian

Pasar penjualan produk fesyen muslim di tanah air semakin maju.…

Rabu, 20 Oktober 2021 01:01

Fungsi Vitamin D dan Kalsium Guna Cegah Pengeroposan Tulang

Menjaga tulang sehat harus dimulai sejak dini. Sebab pengeroposan tulang…

Rabu, 20 Oktober 2021 00:57

Kerapu Kertang dan Kerapu Macan Dikawinkan, Begini Nih Hasilnya....

Kerapu identik dengan spesies ikan air laut. Namun, kini beberapa…

Sabtu, 16 Oktober 2021 11:12

Terinspirasi dari Lautan, Simak Tren 4 Warna Rambut Tahun Depan

Beberapa bulan lagi, tahun baru akan datang. Menjelang semangat yang…

Jumat, 15 Oktober 2021 14:39

Waspada Gangguan Kelainan Kornea, Bisa Picu Kebutaan

Gangguan penglihatan akibat kelainan kornea bisa memicu kebutaan. Kebutuhan donor…

Jumat, 15 Oktober 2021 14:37

Catat..!! Tinggi Badan Anak Tak Selalu Ditentukan Genetik Ortu

Masa pertumbuhan anak terjadi secara sangat cepat jika didukung dengan…

Jumat, 15 Oktober 2021 14:36

Ini 5 Tips Jitu Ubah Kamar Tidur Sempit Agar Lebih Nyaman

Punya kamar tidur yang berukuran kecil seringkali memengaruhi kenyamanan saat…

Senin, 04 Oktober 2021 11:21

Biarkan Anak Memecahkan Masalah

ADA sebagian orang tua yang memberikan perlindungan berlebih kepada buah hati.…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:12

Pantun tentang Petani

BERTEPATAN dengan momen panen raya, Ledia Hanifa secara khusus membuat…

Senin, 27 September 2021 10:19

Dipicu Terlalu Lama di Depan Gadget, Waspadai Sindrom Mata Kering

Sejak virus korona menyeruak dan menjadi sebuah pandemi, banyak kebiasaan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers