MANAGED BY:
SABTU
25 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Senin, 02 Agustus 2021 21:03
Kolaborasi Guru-Orang Tua di Masa Pandemi

Oleh: Imran Duse

 

Pagi tadi, sebuah pertanyaan tak terduga itu dilontarkan anak saya yang masih kelas 2 SMP: “Kapan aku sekolah, pa?” 

Jujur, saya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menjawabya. Bisa saja saya katakan, “Tunggu pengumuman  sekolah, nak”. Atau, “Nanti bila keadaan sudah membaik, nak.”

Tapi tidak. Saya kira, bukan jawaban itu yang Aurora, anak saya itu,  harapkan. Mungkin saja ia sedang ingin menyampaikan kegundahannya atas model pembelajaran daring selama ini. Sejak ia masuk SMP itu, belum pernah ia belajar di kelas layaknya kondisi normal. 

Karena itu, betapa gembiranya ia usai kenaikan kelas yang lalu. Bukan karena ia naik kelas dua. Tetapi karena guru kelasnya berinisiatif mempertemukan mereka dalam acara “makan-makan” di sebuah restaurant siap saji. Sungguh saya terharu melihatnya. Sehari sebelumnya, ia sudah menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan. 

Apa yang dialami putri kami, boleh jadi merupakan pengalaman (juga kegelisahan) jutaan siswa lainnya. Tak ada upacara penaikan bendera, Pramuka, baris-berbaris atau pun rapat OSIS. Tak ada kesempatan maju ke depan kelas untuk menjawab soal di papan tulis. Atau sekedar bermain petak umpet.

Di daerah yang jauh dari sapaan “signal”, permasalahannya bisa menjadi lebih besar. Kesulitan mengakses jaringan internet akan membuat anak-anak sekolah di daerah semakin kesulitan belajar. Dan tentu ini akan berdampak secara psikologis.

Dengan kata lain, anak-anak sekolah kini tak punya kesempatan bersosialisasi dan bergaul dengan sesama mereka. Larangan berkerumun sebagai upaya pencegahan transmisi virus Covid-19, apa bersama.

Peran Orang Tua

Yang sehari-hari mereka hadapi adalah layar digital yang menampakkan gambar guru dan teman-teman mereka. Itu pun dalam ukuran kecil dan resolusi yang terbatas. Melalui layar cerdas itu, mereka menerima pelajaran dan (kebanyakan) tugas ini-itu yang harus diselesaikan sembari melewati masa “isolasi”. 

Banyak pakar dan pemerhati pendidikan yang sudah memberikan pandangan soal tidak efektifnya model demikian. Karena kurang menyentuh aspek pengembangan karakter anak didik. Toh kita tak boleh mengutuk malam. Sebab beginilah realitas dan route yang memang harus dijalani oleh generasi Aurora.

Setidaknya, di sana juga ada faedah. Bahwa anak-anak kini sangat familiar dengan dunia digital. Bahkan banyak yang “mengalahkan” orang tuanya dalam hal kelihaian berselancar di jagat maya itu.

Sekiranya orang tua di rumah memberikan intensi untuk berkomunikasi dan “bermain” dengan anak-anak mereka, boleh jadi akan lahir generasi yang jauh lebih hebat dari yang dibayangkan banyak orang. Bukankah dalam masa normal saja, peran orang tua di rumah begitu sangat penting? 

Dalam sejarah, kita tahu, pernah ada seorang Ibu yang secara mandiri “mendidik” anaknya sendiri. Rumahnya ia sulap menjadi sekolah. Gurunya adalah dia seorang; dan muridnya adalah putranya seorang juga.

Sang Ibu melakukan itu setelah suatu hari anaknya pulang dari sekolah dengan membawa sepucuk surat yang mengabarkan pihak sekolah sudah tak sanggup lagi mengajari anaknya. Karena bodoh, selalu tertinggal dan kurang fokus terhadap materi pelajaran. Kira-kira begitulah isi surat itu.

Hati Nancy Matthews, ibu itu, remuk. Tapi ia masih menguatkan diri dan mengumpulkan energi untuk tersenyum ketika anaknya menanyakan apa isi surat itu. Ia memilih jalan lain untuk menjawab pertanyaan itu. Katanya, pihak sekolah memuji anaknya sebagai murid cerdas dan memiliki bakat. Dan karena itulah, ia sendiri yang akan mengajarinya di rumah.

Sejarah pun mencatat, dua dekade setelah sang Ibu “membacakan” surat dari sekolah, Thomas Alva Edison --anak yang sering ketinggalan pelajaran itu— telah mencatatkan patennya sebagai penemu bohlam lampu pijar. Ia pun dikenal dunia sebagai pemilik hak paten terbanyak. Mencapai lebih dari seribu paten. Berkat penemuannya itu, kita kini bisa menikmati indahnya malam. Dan kontribusi itu memberi dampak besar bagi perubahan wajah kebudayaan dan peradaban manusia. 

 

Komitmen Kolaboratif 

Kisah Thomas Edison di atas barangkali bisa menginspirasi kita, --orang tua, Guru, dan masyarakat-- untuk memaksimalkan situasi penuh keterbatasan akibat pandemi belakangan ini. Dengan masih tingginya angka yang terpapar Covid-19, membuat proses pembelajaran tahun ini masih menggunakan metode daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Diketahui, metode seperti ini banyak menyertakan kendala yang dihadapi peserta didik. Baik yang bersifat teknis maupun non-teknis. Bahkan kendala juga dialami oleh para guru. Sinyal yang sering bermasalah, kuota terbatas, gawai yang trouble, hingga masalah psikologis yang dialami siswa akibat kebosanan atau tugas yang menumpuk.

Selain itu, proses belajar mengajar secara online menyebabkan proses pembelajaran berlangsung secara tidak interaktif. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan banyaknya siswa kesulitan memahami materi pelajaran. Celakanya, pada saat bersamaan, siswa juga kesulitan untuk bertanya kepada guru.

Mengikuti pelajaran secara daring dari rumah juga menghadirkan berbagai distraksi bagi siswa. Ini membuat siswa tidak bisa fokus belajar. Berbagai gangguan itu mestinya dapat dihindari melalui keterlibatan para orang tua di rumah.

Dalam kaitan itulah kita berpendapat perlunya dibangun suatu kerjasama kolaboratif antara orang tua dan guru. Tugas dan beban guru di sekolah dapat dibagi dengan orang tua yang setiap waktu bersama anak di rumah. 

Bagaimana caranya? 

Mungkin bisa dibuat pertemuan virtual secara berkala (misalnya sekali sebulan) antara para orang dengan guru. Melalui itu, guru bisa mengkomunikasikan target capaian pembelajaran. Materi dan tugas apa saja yang akan diajarkan secara daring dalam kurun waktu tertentu itu. 

Secara demikian, guru dan orang tua akan memiliki pemahaman yang sama atas rencana capaian yang akan dituju dalam pembelajaran di tengah pandemi ini. Dalam pertemuan berikutnya, akan dilakukan evaluasi serta penyampaian target untuk bulan berikutnya. Masing-masing pihak pun akan terikat dalam komitmen yang dibangun secara berkala itu. 

Maka, selain siswa belajar daring, para orang tua dan guru juga harus meluangkan waktu berkomunikasi secara daring dan berkala. Barangkali model ini akan terlihat sebagai hal sepele dan biasa saja. Karena itu, kita 

kembali mendengar apa yang pernah dikatakan Thomas Alva Edison: “Kesempatan emas seringkali dilewatkan banyak orang karena selintas terlihat seperti hal yang biasa-biasa dan sepele saja”. Barangkali itu!

 

(*Imran Duse, Penulis, tinggal di Samarinda)

 

loading...

BACA JUGA

Kamis, 23 September 2021 13:23

Portal Satu Data Hindari Polemik

Oleh : Maulana Malik Herdianto SSi, MEc Dev (Staf di…

Sabtu, 18 September 2021 10:15

Banjir Memang Bukan Preman

Pernyataan menarik diungkapkan Wali Kota Samarinda Andi Harun ketika menjadi…

Rabu, 15 September 2021 12:54

Ketika Bupati Menerima Honor Makam Covid-19

Dewi MurniPraktisi Pendidikan di Balikpapan Jagat maya pemberitaan nasional gaduh…

Selasa, 14 September 2021 11:22

Banjir Melanda Benua Etam

HAkhmad Sirodz     Ketua Takmir Masjid Nuruz Zaman Loa Bakung  …

Senin, 13 September 2021 13:43

Kunci Sukses Pembangunan IKN

Oleh: Dr Isradi zainal Rektor Uniba, Ketua PII Kaltim, Sekjen…

Jumat, 10 September 2021 13:13

Sehat, Kuat, dan Olahraga

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 10 September 2021 12:32

Eksistensi Radio di Pusaran Kompetisi

Andi Muhammad Abdi Komisioner KPID Kaltim     Genap 76…

Kamis, 09 September 2021 10:36

Asa Pariwisata Kaltim

Oleh : Siswandi, Statistisi Ahli Muda di BPS Kutai Timur  …

Selasa, 07 September 2021 10:57

Efektivitas Daring yang Dipertanyakan

Mohammad Salehudin Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda   …

Selasa, 07 September 2021 10:29

Hapus Dikotomi Kominfo dan Humas

Oleh: Abd Kadir Sambolangi SS MA, Plt Kabag Protokol dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers