MANAGED BY:
SENIN
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Sabtu, 31 Juli 2021 11:09
Terobos Zona Hitam, Gratiskan untuk Warga Membutuhkan
Hendra Setiawan, Praktisi Tata Udara yang Ciptakan Oxymaker Gen II
MEMBANTU SESAMA: Hendra Setiawan menunjukkan fungsi dan cara penggunaan Oxymaker di tokonya, Cimahi, Jawa Barat. Imam Husein/Jawa Pos

Kelangkaan oksigen tiga pekan terakhir membuat Hendra Setiawan tergerak. Berbekal keahlian sebagai praktisi tata udara, dia menciptakan alat penghasil oksigen sederhana. Yang berhasil menolong puluhan nyawa.

 

ZALZILATUL HIKMIA, Cimahi

Hendra Setiawan terkaget. Ada puluhan manusia mengular di sepanjang Jalan Amir Machmud, Cimahi, Jawa Barat. Keesokan harinya, antrean tersebut masih sama. Bahkan ketika pulang dari kantor, antrean tak berubah.

Nyaris dua pekan di awal Juli, pemandangan tersebut tersuguhkan di depan matanya. Rasa penasaran pun menghinggapi. Dia tergelitik untuk mencari tahu sumber antrean panjang tersebut.

”Ternyata dari toko alat medis. Mereka mengantre untuk bisa mendapatkan oksigen,” ujarnya ditemui di Kantor PT Sinverho Energi Indonesia, Cimahi, Kamis (22/7).

Hatinya teriris. Pasalnya, sebagai praktisi tata udara di bidang air conditioning, oksigen justru dipergunakannya untuk las pipa dan lainnya. Belum lagi mereka yang antre sejak pagi baru bisa mendapatkan oksigen sore hari.

”Saya pikir, kok miris sekali. Bisa dibayangkan berapa nyawa yang tidak tertolong akibat tak dapat asupan oksigen,” ungkap Ketua Asosiasi Pendingin dan Tata Udara (Apitu) Jawa Barat itu. 

Persoalan lainnya, di Cimahi belum terdengar adanya pergerakan oksigen ke grassroot dari pemerintah saat itu. Sementara di bawah, kebutuhan oksigen untuk orang sakit sudah begitu tinggi.

Alumni Universitas Jenderal Achmad Yani ini segera putar otak untuk bisa memecah kebuntuan tersebut. Ia teringat alat Oxymaker Gen I yang ada di mobilnya. Dia meyakini alat tersebut bisa dimodifikasi untuk menghasilkan oksigen yang tengah dibutuhkan masyarakat.

”Oxymaker Gen I saya sudah produksi enam bulan lalu, tapi saya ambil hidrogennya. Oksigennya dibuang,” jelas head director di PT Sinverho Energi Indonesia tersebut.

Berbekal ilmu yang dimiliki, Hendra pun berhasil memodifikasi alat tersebut. Kerja alat itu diubah, sehingga oksigen tak lagi dibuang, namun disaring dan dihasilkan.

Alat tersebut pun sudah pernah digunakan oleh anggota keluarga yang mengalami sesak napas. Syukur, bukan karena Covid-19.

Kendati begitu, dia belum berani meminjamkan alat tersebut pada pihak lain. Karena dihasilkan dari proses kimia. Secara sederhana, oksigen tersebut dihasilkan dari pemecahan molekul udara. Ia menggunakan lempengan stainless, katup anoda-katoda diberi arus DC untuk memecah molekul. Hingga akhirnya, di katup positif dapat menghasilkan oksigen. Sementara, di katup negatif menghasilkan hidrogen. “Ada proses elektrolis,” paparnya.

Sadar ada risiko tersebut, dia pun berupaya segera melakukan improvement. Selain itu, dengan Oxymaker Gen I, pemecahan molekul butuh banyak tahapan dan waktu. Sementara di lapangan perlu cepat dalam penggunaan.

Menggunakan bahan yang sudah tersedia, seperti pipa AC, katup pneumatic, filter zeolit, hingga hepa filter, Hendra berhasil menciptakan Oxymaker Gen II. Alat ini dinilainya lebih aman karena cara kerjanya dilakukan secara filtrasi. Selain itu, alat bisa digunakan oleh beberapa orang. Beda dengan tabung oksigen yang hanya bisa dipakai satu orang.

”Jadi oksigen di udara yang 21 persen itu, saya saring untuk dikumpulkan dalam jumlah banyak. Lalu, hidrogennya saya buang,” tuturnya. 

Diakuinya, dalam proses penyempurnaan ini dirinya benar-benar harus berkejaran dengan waktu. Belum lagi ketika purity oksigen dan zeolit tak tersedia di beberapa toko. Hingga ia memutuskan harus beli dari luar negeri. Adapun harganya sudah melambung tinggi. Membuatnya kalang kabut. ”Kemarin kurang lebih habisnya Rp 7,5 juta,” ujarnya.

Semua uang itu dari kantong pribadinya. Meski begitu, tak ada niatan sedikit pun untuk menarik biaya peminjaman alat tersebut. Masyarakat cukup meninggalkan kartu tanda penduduk (KTP) untuk dapat menggunakannya. Bahkan, untuk biaya antar alat pun, bapak dua anak itu pula yang menanggungnya. ”Gak papa. Masyarakat juga sedang survive. Lagian oksigen ini kan dari Allah, masa saya dagangkan,” tuturnya.

Bagi warga sekitar yang membutuhkan oksigen, alat ciptaan Hendra dinilai cukup membantu. Alat ini mampu menghasilkan oksigen dengan kadar lebih dari 25 persen dan dapat dijadikan sebagai pertolongan pertama.

Kabar tersebut pun akhirnya menyebar. Nyaris setiap hari, puluhan chat masuk di handphone-nya. Awalnya ia kaget karena tak mengira respons masyarakat sebesar itu. Namun, ia coba jawab satu per satu dengan telaten sesuai kondisi sebenarnya.

Namun diakuinya, agak susah memilih mana yang harus didahulukan. Sebab, semua pesan yang masuk mengatakan kondisi mereka gawat. Hingga, ia putuskan bila ada yang posisi lebih dekat maka itu yang akan dipinjami terlebih dahulu.

”Rata-rata isoman. Pernah ada yang datang, pasien saturasi 34. Dan itu bibirnya udah item,” kenangnya.

Hendra sempat kaget saat tahu. Tak ingin berpikir macam-macam, dia langsung meminjamkan alat miliknya. ”Alhamdulillah, saturasi naik 54,” sambungnya. Meski setelah beberapa hari ia mendapat kabar bahwa yang bersangkutan meninggal dunia karena memang ada komplikasi.

Bukan hanya itu, Hendra pernah nekat menembus zona hitam. Tempat satu keluarga terinfeksi Covid-19. Sementara kondisi sang kepala keluarga sudah terbaring tak berdaya dengan saturasi oksigen dalam darah 60. Karena tak ada yang bisa datang mengambil alat, ia terpaksa nekat mengantarkan alat itu sendiri. ”Gak tega. Itu pasti sudah sesak,” katanya.

Menggunakan hazmat dan APD lengkap, ia berangkat ke daerah Cimahi Tengah. Sampai di sana, ia hanya jadi bahan tontonan warga sekitar. Tak ada yang berani mendekat untuk membantu. Bahkan ketika ada yang berjalan menghampiri, langsung diteriaki agar membiarkan sang petugas saja yang bekerja. Padahal, Hendra bukan petugas kesehatan.

”Saya bilang. Saya bukan petugas. Minta tolong dibantuin ngangkat saja sampai depan rumah karena sangat berat. Nanti saya masuk sendiri,” ungkapnya.

Setelahnya, dia benar-benar masuk ke rumah. Menjelaskan cara kerja Oxymaker Gen II hingga memakaikan alat ke sang kepala keluarga. ”waktu itu bener-bener bismillah aja,” kenang pengurus HIPMI BPC Cimahi ini.

Ketika pulang, dia pun membuat pengakuan pada sang istri Priska Amalia Sandi. Dia mengatakan, mereka tak bisa seruangan terlebih dahulu karena dirinya baru saja mengantarkan alat untuk keluarga isoman.

Priska langsung kaget. Dia mengiyakan, meski semalaman dia menangis karena takut sang suami kenapa-kenapa. Belum lagi risiko carrier yang memungkinkan menularkan pada orang lain. Terutama pada kedua anaknya. Dari situ, Hendra lebih berhati-hati dan membatasi diri. Semua peminjaman alat akan diantar menggunakan jasa kurir.

”Tapi dia mendukung penuh apa yang saya lakukan,” tegasnya. Rencananya, Hendra kembali memproduksi satu alat Oxymaker lagi. Mengingat, pandemi Covid-19 masih terjadi dan banyak masyarakat yang membutuhkan alat ini. (***/jpg/dwi/k8)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 20 September 2021 11:04

Kebun Sawit Rambah Tahura Bukit Soeharto, Program Kemitraan Konservasi Jadi Celah Alasan

TENGGARONG-Selain tambang ilegal, kebun sawit liar juga dituding ikut merusak…

Senin, 20 September 2021 11:01

PI 10 Persen untuk PPU Tunggu Gubernur

PENAJAM-Participating interest (PI) 10 persen pengelolaan blok migas jatah Pemerintah…

Senin, 20 September 2021 11:00

Rosatom Bangun Industri Nuklir, Kerja Sama Batan-Pemprov Kaltim di Buluminung

Perusahaan energi atom Rosatom Rusia bersama Pusat Kajian Sistem Energi…

Minggu, 19 September 2021 14:17

Indeks Keterbukaan Informasi di Kaltim Kategori Sedang

Komisi Informasi Pusat merilis hasil penilaian Indeks Keterbukaan Informasi Publik…

Minggu, 19 September 2021 11:18
TNI-Polri Kejar KKTB Pembunuh Nakes Papua

Satu Korban Masih Hilang, Komandan OPM Tewas

Kekejaman kelompok kriminal teroris bersenjata (KKTB) pimpinan Lamek Taplo harus…

Minggu, 19 September 2021 10:19

Kondisi Jalan Mantap Masih Rendah, Kemantapan Jalan di Kaltim Hanya 75 Persen

PERBAIKAN ruas jalan trans Kalimantan di Kabupaten Berau, segera dilakukan.…

Minggu, 19 September 2021 10:18

Normalisasi Sungai Solusi Banjir di Kariangau

BALIKPAPAN-Persoalan banjir di Jalan Projakal, Km 5,5, Kelurahan Kariangau, Kecamatan…

Minggu, 19 September 2021 10:17

Realisasi APBD Kaltim Rendah, Dari Rp 11 Triliun, Baru Terserap 36 Persen

Pembahasan APBD Perubahan Kaltim dipastikan molor. Seharusnya, rancangan sudah diserahkan…

Sabtu, 18 September 2021 12:32

300 Nakes Ditarik dari 34 Distrik di Papua

JAYAPURA-Sebanyak 300 Tenaga Kesehatan (Nakes) ditarik dari 34 distrik di…

Sabtu, 18 September 2021 10:18

Balikpapan Siap Jadi Ibu Kota Provinsi

Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Provinsi Kaltim, membuka peluang wacana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers