MANAGED BY:
SABTU
25 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Sabtu, 24 Juli 2021 10:56
Singapura Terpaksa Kembali Terapkan Lockdown

Ingin Berdamai dengan Covid-19, Kasus Melonjak

Ilustrasi: Suasana sepi di salah sudut Singapura setelah diberlakukan semi lockdown (Reuters)

SINGAPURA- Keinginan Singapura untuk berdamai dengan pandemi ternyata sulit terjadi. Mereka kembali memberlakukan lockdown parsial karena penularan terus melonjak. Kuntari dimulai Kamis (22/7) hingga 18 Agustus nanti. Varian Delta disinyalir sebagai biang dari lonjakan tersebut.

Kebijakan ini diambil hanya 3 pekan setelah pemerintah mengumumkan rencana untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Saat itu, otoritas ingin menganggap korona sebagai flu biasa. Negeri Merlion cukup percaya diri karena 48,2 persen penduduknya sudah divaksin lengkap. Sekitar 73 persen lainnya baru satu dosis. Persentase vaksinasi lansia 60-69 tahun bahkan di angka 85 persen. Tapi sepertinya itu tidak cukup untuk menekan penularan.

Hingga Kamis siang ada 162 penularan lokal. Termasuk di antaranya 87 kasus yang terkait dengan klaster Pelabuhan Ikan Jurong dan 5 kasus klaster KTV lounge. Ada 541 kasus yang terkait dengan klaster Jurong dan Hong Lim Market & Food Centre, serta 220 kasus terkait KTV lounge. Marina Bay Sands Casino juga ditutup karena menjadi klaster penularan.

Berlakunya lockdown parsial membuat larangan makan di tempat kembali diterapkan. Restoran, pujasera dan tempat-tempat makan lainnya tetap boleh buka. Tapi mereka hanya melayani takeaway dan pesan antar. Bioskop masih boleh buka, tapi dilarang menyajikan makanan dan minuman. Satu-satunya pengecualian makan di tempat adalah resepsi pernikahan.

’’Kami memahami bahwa pasangan pengantin menghadapi banyak ketidakpastian beberapa bulan belakangan ini. Karena itu, khusus resepsi pernikahan boleh dilanjutkan,’’ bunyi pernyataan Kementerian Kesehatan seperti dikutip The Straits Times.

Tapi tetap saja ada pembatasan yang harus diterapkan. Yaitu tamu undangan maksimal 100 orang dan mereka wajib dites Covid-19 dulu. Tamu per meja maksimal hanya 5 orang. Para tamu diminta untuk menghindari berkeliling meja satu ke meja yang lain. Mereka yang belum divaksin juga disarankan tidak menghadiri acara resepsi dan kumpul-kumpul lainnya.

Semua kegiatan dalam ruangan yang sebelumnya boleh melepas masker, kini harus dihentikan. Dengan kata lain, salon dan tempat-tempat olah raga dilarang buka. Aktivitas di luar ruangan dengan membuka masker diijinkan tapi maksimal hanya 2 orang saja.

Pengusaha salon, tempat olah raga dan sauna serta pengusaha makanan dan minuman (F&B) langsung protes meminta keringanan. Presiden Restaurant Association of Singapore (RAS) Andrew Kwan meminta agar pemerintah menginstruksikan pada pemilik lahan untuk mengurangi biaya sewa. Selama ini mayoritas pemilik lahan tidak menawarkan keringanan itu untuk pengusaha F&B.

Terpisah, Badan Kesehatan Dunia (WHO) berencana kembali ke Wuhan, Tiongkok untuk menyelidiki sekali asal muasal Covid-19. Hal itu terkait dugaan adanya kebocoran laboratorium yang membuat virus tersebut lolos keluar.

Namun, itikad tersebut ditolak oleh Tiongkok. Beijing ingin agar WHO lebih fokus pada binatang yang jadi penyebab penularan karena itu adalah kemungkinan terbesar. Selain itu fokus pencarian seharusnya diperluas ke negara lain, bukan hanya Tiongkok. WHO sudah ke Wuhan awal tahun ini.

’’Kami berharap WHO akan serius meninjau pertimbangan dan saran yang dibuat oleh para pakar di Tiongkok dan benar-benar memperlakukan penelusuran asal virus Covid-19 sebagai masalah ilmiah serta menyingkirkan campur tangan politik,’’ ujar Wakil Meteri Komisi Kesehatan Tiongkok Zeng Yixin seperti dikutip Al Jazeera.

Dari Brasil, YouTube terpaksa menghapus unggahan beberapa video Presiden Jair Bolsonaro. Pasalnya, dia dianggap menyebarkan informasi yang salah terkait Covid-19. YouTube menegaskan keputusan mereka tidak ada hubungannya dengan ideologi atau politik, tapi murni kebijakan terkait konten.

Dalam salah satu video, ada Mantan Menteri Kesehatan Brasil Eduardo Pazuello yang membandingkan virus korona dengan AIDS. Dia menyatakan bahwa setelah pandemi HIV, virusnya dan penyakit itu tetap ada. Sebagian orang tertular, tapi mayoritas diobati dan hidup terus berlanjut. Di video yang lain, ada saran penggunaan hydroxychloroquine dan ivermectin untuk obat Covid-19. Padahal, hasil penelitian membantah klaim kedua obat itu bisa mengatasi Covid-19. (sha/bay)


BACA JUGA

Rabu, 24 Oktober 2012 08:56

Bimtek bagi Pendata NJOP

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA </strong>&ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers