MANAGED BY:
SABTU
04 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Senin, 19 Juli 2021 11:00
Racun Media Sosial

Oleh: Imran Duse*

Teknologi digital kini hadir menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia. Dari bangun pagi hingga jelang terlelap di malam hari, gawai senantiasa membersamai manusia beraktivitas. Bahkan, sebagian "bekerja" justeru di dalam mesin baru itu.

Terlebih di tengah pandemi Covid-19 dan pemberlakuan sejumlah pembatasan kegiatan masyarakat. Melalui layar cerdas itu, anak-anak bersekolah; emak-emak berbelanja; mahasiswa merancang demo; dan politisi berjanji. Pendek kata, nyaris tak ada dimensi kehidupan manusia yang tak tersentuh dengannya.

Tidak saja menjadi konsumen, setiap orang kini bisa menjadi produsen informasi –bahkan dalam waktu bersamaan. Seringkali tanpa referensi dan verifikasi, dengan bebas sebuah informasi ditautkan ke dunia maya. Dan hoaks pun mengintip, bersiap menebar kecurigaan dan purbasangka.

Begitulah. Media sosial telah menjadi fenomena baru yang dijinjing internet. Semenjak kemunculan Friendster (2002), disusul Facebook (2005), lalu datang BlackBerry sebagai ponsel cerdas pertama dengan fasilitas push mention media sosial yang menyahajakan pengguna berselancar di lapak maya.

Namun, dalam waktu singkat, BalckBerry pun telah menjadi masa lalu. Digantikan ponsel pintar berbasis android, yang tak lelah memperbarui fitur dan menstimulasi kemampuannya, namun dengan harga yang semakin terjangkau. Ini menaruh andil dalam mendongkrak laju pertumbuhan media sosial.

Dengan kata lain, sebuah peradaban berbasis mesin baru yang disesaki artifisial intelligent (Ai) telah lahir. Melaluinya, manusia terhubung secara realtime, kendati terpisah jarak-terjauh. Hingga beberapa waktu, perkembangan itu cukup mengimpikan. Sampai kemudian banyak yang menyadari, bahwa sebuah potensi ekploitasi sedang disemai –dan akan tumbuh menjadi ekses ekosistem komunikasi ini.


Setel Ulang

Ronald J. Deibert adalah salah satu dari sedikit yang menyadari potensi itu. Pakar keamanan digital ini secara intens mencermatinya dan kemudian memaparkan pengaruh internet terhadap politik, ekonomi, lingkungan, dan kemanusiaan, dalam bukunya yang terbit akhir tahun lalu: “Reset: Reclaiming the Internet for Civil Society”.

Melalui Citizen Lab --sebuah lembaga penelitian keamanan digital terkenal--, ia melakukan riset tentang hal ini dalam rentang waktu dua dekade. Hasilnya disajikan dalam buku setebal 419 halaman tersebut. Lembaga yang didirikan dan dipimpin langsung Deibert itu memaparkan dampak ekosistem komunikasi terhadap civil society.

Deibert juga menggali bagaimana ketergantungan pada media sosial menciptakan tekanan besar pada alam dan lingkungan. Untuk memerangi praktik otoriter, degradasi lingkungan, dan konsumerisme elektronik yang merajalela, ia mendesak pembatasan pada platform teknologi dan pemerintah guna merebut kembali internet untuk kepentingan masyarakat sipil.

Peneliti kelahiran Kanada ini dengan gamblang membongkar lintasan kehidupan digital yang kian mengkhawatirkan. Menurutnya, manusia saat ini berisiko kehilangan privasi akibat penerapan kontrol teknologi digital. Setidaknya ada empat hal yang disorot Deilbert.

Pertama, jika pendapatan media cetak dan penyiaran bertumpu kepada pelanggan dan advertorial, maka media sosial tidaklah demikian. Kendati dalam sejumlah kasus kita juga menyaksikan media sosial melakukan hal tersebut.

Sumber pendapatan media sosial amat bergantung pada akumulasi, analisis, dan komersialisasi data pribadi dari pengguna. Tidak mengherankan jika media sosial berkembang menjadi “mesin” yang tanpa henti menggali lebih dalam dan secara terus menerus memasuki kehidupan pribadi. Dengan kemampuan algoritma komputer dan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence -Ai), media sosial tanpa henti mengetuk akun kita dan mengaitkan sejumlah sensor yang mampu melacak pergerakan, percakapan, lokasi, dan juga emosi kita --bahkan saat sedang tidak digunakan.

Deibert juga mengkritisi perjanjian term-of-service yang menurutnya seringkali disepelekan pengguna akibat ilusi pilihan dan kontrol yang begitu padat. Aplikasi dan platform tersebut memang didesain sedemikian rupa, sehingga –seperti dikatakan tadi-- kerap disepelekan oleh pengguna.

Kedua, adalah kemampuan aplikasi dan platform media sosial untuk mengekstrak sebanyak mungkin data pengguna. Sehingga dengan mengolah data itu membuat pengguna ketagihan ke aplikasi dan platform tersebut. Semakin lama kita aktif menggunakan layanan itu, maka semakin banyak data yang mereka kumpulkan. Dengan bantuan Ai, perusahaan media sosial terus memoles lingkaran kecanduan itu sehingga relevan dengan preferensi dan kecemasan setiap individu.

Media sosial juga telah menjadi "mesin kecanduan beracun" yang secara beruntun memuntahkan gosip, disinformasi, dan rasisme. Media sosial dengan mudah mengobarkan perpecahan identitas dan memungkinkan massa yang marah dimobilisasi lewat viralitas baru.

Ketiga, kendati ada yang memandang media sosial sebagai “teknologi pembebasan” (dalam implikasinya terhadap kebebasan dan demokrasi), namun di sisi lain, media sosial juga memberi ruang bagi despotisme dan penyalahgunaan kekuasaan. Melaluinya, Autokrat mengontrol informasi hingga “menggagalkan oposisi politik dan perbedaan pendapat” dan untuk melacak dan menangkap para pengkritik rezim.

Menurut Deibert, di seluruh dunia, tak terhitung jumlah oposisi, jurnalis, dan pembela HAM telah dipantau secara digital oleh rezim otoriter dengan bantuan “kontraktor intelijen dan pengawasan swasta”.

Dan yang keempat, ekosistem komunikasi digital telah menyebabkan kerusakan lingkungan besar-besaran. Karena perangkat keras digital memerlukan berbagai macam mineral serta logam berbeda. Manufaktur elektronik juga menghasilkan produk sampingan yang beracun. Yang lebih dahsyat adalah dampaknya terhadap perubahan iklim. Komunikasi global mengkonsumsi tujuh persen dari listrik dunia, dan proporsi itu dapat bertambah tiga kali lipat dalam sepuluh tahun mendatang.

Apa yang Harus Dilakukan?

Kita mungkin sependapat, bahwa sesuatu harus dilakukan untuk mengendalikan perkembangan tersebut. Tapi, apa?

Melakukan “isolasi mandiri” terhadap media sosial, tentu bukanlah pilihan. Karena, selain “empat kenyataan menyakitan” di atas, internet dan media sosial juga telah memberi kontribusi yang sangat penting dalam perkembangan peradaban umat manusia.

Hemat kita, setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, mendorong pemerintah dan DPR untuk mendugas pengesahaan Undang-Undang tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Dengan regulasi tersebut, masyarakat sipil akan terlindungi dari komersialisasi data pribadi. Selain itu, juga diharapkan adanya sebuah lembaga independen yang menjalankan undang-undang ini. Dengan otoritas (dan tentu saja anggaran yang memadai) untuk dapat membatasi tentang hal apa saja yang dapat dilakukan perusahaan (media sosial) terkait usaha mengumpulkan, menyimpan dan menggunakan data pribadi (pengguna).

Yang kedua, adalah pentingnya menumbuhkan literasi digital di kalangan masyarakat pengguna (termasuk Anda dan saya). Sehingga terbit kecakapan kognitif (dan teknikal) di dalam mencari, menggunakan, membuat dan membagi konten atau informasi melalui berbagai platform media sosial. Barangkali itu!

*( Imran Duse, Wakil Ketua Komisi Informasi Kalimantan Timur)


BACA JUGA

Kamis, 02 Desember 2021 09:48

Faktor Penyebab Perilaku Koruptif Kepala Desa

 Adi Setyawan ASN pada KPPN Samarinda     Berbagai upaya…

Rabu, 01 Desember 2021 15:46

Standar (Baru) Layanan Informasi Publik

Oleh: Imran Duse (Wakil Ketua Komisi Informasi Kaltim)   Dalam…

Selasa, 30 November 2021 10:50

Tambang Ilegal, Pemda Jangan Lepas Tangan

Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan    TAMBANG ilegal saat…

Minggu, 28 November 2021 10:09

Rekrutmen Jabatan Publik (2-Habis)

Adam Setiawan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia…

Minggu, 28 November 2021 10:07

Peran Digital Marketing terhadap Pertumbuhan UMKM di Tengah Pandemi

Lulu Afidah UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG Sejak kemunculan Covid- 19 pada…

Rabu, 24 November 2021 10:01

Rekrutmen Jabatan Publik (1)

Adam Setiawan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia…

Rabu, 24 November 2021 10:00

Kedudukan dan Peran Guru Dalam Pendidikan Islam

Uswandi, Mahasiswa Pascasarjana PAI UMM   Setidaknya ada tiga ayat dalam…

Rabu, 24 November 2021 09:39

Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021, Pelegalan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi?

Suwardi Sagama Dosen, Peneliti, dan Konsultan Hukum   PERGURUAN tinggi…

Rabu, 24 November 2021 09:38

Kaltim dan Kutukan Sumber Daya Alam (2-Habis)

Oleh: Bernaulus Saragih PhD Environmental Economist     Empat dekade…

Rabu, 24 November 2021 09:29

Kaltim dan Kutukan Sumber Daya Alam (1)

Oleh: Bernaulus Saragih  PhD Environmental Economist      Dalam Sidang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers