MANAGED BY:
SABTU
25 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Selasa, 13 Juli 2021 12:06
LINDU, Karya Anggraini Wike

Detak jam dinding beradu dengan suara jangkrik di bawah pohon jambu berselimut ranting markisa terdengar sayup dan begitu syahdu. Seolah melantunkan nyanyian melenakan dan membuai mimpi indah. Badan yang letih karena berkebun seharian begitu padu dengan selimut tebal di atas peraduan dari besi berkelambu.

Dedi meringkuk menahan dinginnya udara di malam itu. Tidak lebih 12 derajat Celsius. Udara di kaki pegunungan Merbabu memang sedingin itu. Menusuk hingga tulang. Selimut tebal bermotif bunga itu ia tarik terus-menerus. Jaketnya tak mampu memberikan kehangatan untuk badan kurusnya.

Dipan yang berisi ia, ibunya, dan keponakan kecilnya yang cantik, terus saja berderit saat ia bolak-balik menarik selimut. Sungguh Dedi tidak bisa tidur dengan tenang, hingga sang ibu terbangun dan langsung mendekapnya. Dia pun merasa nyaman, lalu lelap dan tak lagi bersuara.

Angin dini hari itu sempat kencang menyapu sesaat lalu hening. Suara binatang malam mulai terdengar lebih ramai dan panik, seolah memberi tanda bahwa ada sesuatu yang ganjil. Hujan datang sebentar lalu pergi. Alam betul-betul memberi isyarat. Tetapi manusia asyik dibuai mimpi masing-masing.

Dipan kembali berderit, semakin lama semakin kuat getarannya. Bu Nur, ibu Dedi, terbangun dan melihat sekitar. Dia mengira anak bungsunya itu kembali gelisah kedinginan. Tetapi, dia mendapati sang anak sedang pulas. Lalu apa gerangan getaran yang membuatnya terjaga?

Sejurus kemudian Bu Nur kembali merebahkan dirinya. Tak lama berselang getaran lain datang menyusul. Kini tidak hanya dipan. Lemari, lampu, serta semua perabotan dalam kamar bergerak. Semakin lama goncangan semakin hebat.

Mata Bu Nur membulat. Dia betul-betul sudah bangun. Segera ia duduk dan menarik kedua lengan anak yang tengah tidur nyenyak itu. Ia menyibak kelambu dari bahan linen bermotif bunga mawar yang pintunya mendadak susah ditemukan, lalu berusaha duduk di ujung dipan. Hingga tak lama datang lagi satu getaran kuat yang membuat mereka bertiga berdiri dan berlari mengarah ke pintu.

Dedi yang masih sangat mengantuk dan tengah asyik mengerjap-ngerjapkan matanya merasa kaget dan kebingungan. “Mak, kenapa Mak? Mau ke mana kita, Mak?” ucapnya bingung.

Kemudian ketakutannya bertambah saat matanya tidak lagi dapat melihat apapun yang ada di sekitarnya. Semuanya gelap. Listrik padam.

“Kita keluar, Nak, ini gempa!” jawab ibunya cemas. Jari-jarinya mencoba meraih kunci pintu yang entah kenapa tidak bisa dibuka. Panik dan takut jelas tidak dapat ia sembunyikan.

Getaran datang lagi, pintu dari kayu itu semakin bergerak turun dan kunci grendelnya tidak dapat dibuka. Bu Nur berusaha sebisanya. Lantunan doa dan zikir tak lepas dari bibirnya. Panik, suasana mencekam begitu terasa.

Dari luar suara anak ketiganya terdengar menyeru. “Mak, Dedi, Lia, ini gempaaaaaaa. Banguuunn, ayoooo cepat keluar.” Derap kaki dan bunyi isi lemari kaca yang terjun bebas semakin membuat hati cemas bukan kepalang.

“Ayaaahhh… ayaaaaaahhhh!” seru Dedi sambil menangis. “Bukain pintuuuuuuuuu! Ayaaaaaahhhh… tolooooong!”

Pak Ahad, ayah Dedi, sekuat tenaga segera mendobrak pintu. Dengan sigap ia mengeluarkan anak, cucu, dan istrinya. “Lari cepat ke halaman. Tunggu di sana. Jangan dekat-dekat dengan dinding rumah!”

Mendengar perintah suaminya, Bu Nur segera berlari. Masih ada dua pintu lagi yang harus mereka lewati. Dan semuanya terkunci. Syukur semua bisa dengan mudah dibuka. Hingga saat mereka tiba di teras, tiba-tiba kayu penopang di atas jendela jatuh. Syukur mereka sempat menghindar.

Demi melihat sandal kesayangannya tertimpa kayu. Lia menangis kencang. Dia berusaha menggapai sandal jepit bergambar buah anggur itu dengan tangan kecilnya. Bu Nur lalu menarik dan menggendong cucunya.

“Besok kita ambil ya sayang, besok kita buang kayunya,” Bisiknya membujuk cucunya yang terus menangis. Dia beringsut cepat menuju halaman.

Dedi melihat sekeliling, meskipun suasana redup hanya disinari bulan separuh, dia dapat menangkap begitu dahsyatnya kejadian saat itu. tampak di matanya kakak dan ayahnya berusaha sekuat tenaga menyelamatkan dan mengevakuasi semua anggota keluarganya dari dalam rumah.

Setelah berhasil keluar, kini mereka duduk di atas tanah beralaskan tikar. Doa dan zikir meminta perlindungan Allah mengalir tak berhenti.

Jeritan, teriakan, dan tangisan tetangganya begitu menambah kengerian malam. Suara permintaan tolong juga tak henti terdengar. Betul-betul mencekam.

“Mak, ke mana ayah, nang endi? Kenapa ndak duduk di sini?” tanya Dedi penasaran. Dia khawatir ayahnya masih terjebak dalam rumah. Dua bola mata kecil itu terus saja menyelidik.

Jari telunjuk Bu Nur kemudian mengarah ke samping, dan terlihat suaminya sedang menggendong ibunya yang sudah sepuh keluar dari pintu belakang rumah. Menetes air mata Dedi melihat neneknya yang renta dengan napas terengah bercerita bila sang ayah datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan hidupnya.

“Untung kaki ayahmu ndak kenapa-napa, Di. Dia datang bersamaan lemari piring di dapur jatuh. Kakinya menginjak beling waktu berjalan ke pintu kamar nenek.”

Disekanya air mata dari wajah keriputnya. “Saat membuka pintu, ayahmu lagi-lagi harus menahan sakit. Dia tertimpa lemari baju nenek. Setelah di dorongnya lemari, dia datang dan menggendong nenek.”

Tak lama terdengar, “kraaakkkk… raaakkk… gguuuuummmmmmmm.” Bangunan SMP yang tepat di seberang rumah Dedi runtuh. Getaran gempa ini begitu kuat. Terasa seperti diayun berputar, lalu diangkat, dan diempaskan.

Teriakan minta tolong semakin massif setelah gempa reda. Pak Ahad segera mendatangi tetangganya. Bu Yeni begitu histeris, dia berteriak dan menyebut kata kiamat. Karena selain gempa ia pun kebanjiran. Setelah diperiksa, rupanya bak besar penyimpanan air hujan di rumah Dedi pecah, sehingga airnya menyapu beberapa rumah tetangga.

Setelah menenangkan Bu Yeni, ayah Dedi menuju depan rumahnya. Tangis pilu terdengar di sana, dua anak kembar keponakannya itu meninggal tertimpa tembok runtuh. Pak Ahad sekuat tenaga membantu evakuasi. Dan menuntun beberapa yang terluka.

Saat ayahnya kembali, Dedi mendekapnya erat. Ia merayu agar ayahnya duduk diam di sampingnya. Ia takut hal buruk akan menimpa ayahnya. Tetapi sang ayah menolak, dia harus membantu tetangga yang kesulitan. Tidak sedikit dari mereka yang terluka karena musibah itu.

***

Suara orang mengaji dari surau lamat-lamat terdengar, tak ada pengeras suara yang bisa dipakai, semua tertimbun. Riuh rendah suara warga yang terluka juga terdengar memanggil nama anggota keluarganya makin ramai. Mereka yang memiliki rumah dari bahan batu bata yang paling banyak terluka dibandingkan dengan berbahan kayu.

Pun mereka yang berdiam di rumah panggung lebih merasakan dampak gempa. Rumah mereka runtuh dan hanya menyisakan bagian atas saja. Banyak korban meninggal dan luka serius karena tertimpa bangunan.

Setelah salat Subuh, ayah Dedi teringat putrinya di desa sebelah. Sekitar 12 km jaraknya. Dia meminta izin istrinya untuk memeriksa keadaan putrinya. Apa mau dikata sambungan telepon terputus. Tiang kabel Telkom semua roboh bersisian dengan tiang listrik. Semua alat komunikasi tidak bisa digunakan.

“Ayah pergi ke Karang Endah sebentar ya, Nak. Untuk lihat keadaan Mbak Ervina mu. Duduk diam di sini. Dengar perkataan ibu mu. Jangan ke mana-mana sampai hari terang, Karena kita tidak tahu seberapa rusaknya desa kita. Ayah takut kakimu terinjak paku, beling atau seng.”

“Hati-hati nggeh, Mas. Bisa jadi jalanan longsor dan jembatan putus. Kalau di jalan ada gempa susulan, sebaiknya Mas cari tempat berlindung,” Suara parau Bu Nur menggambarkan kekhawatiran besar akan keselamatan suaminya.

Dengan langkah mantap Pak Ahad menyiapkan mentalnya untuk mendatangi putri keduanya itu. Dia hanya mengenakan sarung dan bertelanjang kaki. Mengandalkan senter aluminium dengan tiga baterai sebagai penerangan menembus kabut tebal.

Saat melewati gapura batas desa, benar saja terlihat longsor di mana-mana. Jembatan penghubung antar-desa pun putus. Aspal retak menganga. Dengan perlahan ia melewati semua itu. Meskipun harus melintasi sungai berbatu yang sangat dingin airnya.

Sepanjang jalan hati Pak Ahad bergemuruh. Pemandangan semua rumah panggung yang roboh menambah kalut hatinya. Akankah keadaan rumah anaknya sama dengan yang lain?

Sesampainya di depan rumah anak keduanya, Pak Ahad terkejut karena disambut dengan keramaian juga isak tangis. Emosinya mulai menyeruak, pikiran buruknya kini semakin menghantui. Tanpa sadar dia mendorong orang-orang yang dilewatinya. Betapa terkejutnya ia melihat di depannya ada jasad seseorang yang telah ditutupi kain batik panjang.

Dengan tangan gemetar ia menyibak kain batik itu, air matanya menetes dan bibirnya terbungkam. Dia menangis tetapi di dalam hati ia bersyukur. Sejurus kemudian, terlihat menyembul dari keramaian, dua cucu laki-lakinya yang tampak baik-baik saja berada dalam dekapan erat ibunya. Pak Ahad segera memeluk anaknya dengan kuat. Bibirnya terus-menerus mengucap hamdalah.

“Mbak Wati ndak sempat keluar, Yah. Kunci pintunya macet. Jadi dia ditemukan di bawah lemari baju.” Ervina tersedu menceritakan perihal kematian kakak iparnya.

“Kami beruntung bisa sempat lari. Bahkan Masna–adik ipar Ervina, melompat dari pintu atas. Syukurlah ia hanya terkilir.” Dengan sesenggukan ia melanjutkan ceritanya, seraya memeluk erat kedua putranya.

“Alhamdulillah a’la kulli hal. Ucap terima kasih kepada Allah karena telah menjaga kalian selamat dari bencana ini. Jaga anak dan keluarga mu, waspada dengan gempa susulan. Tidak usah mengkhawatirkan kami di Banjar Negara, insyaallah kita bisa melewati semua musibah ini dengan tabah dan ikhlas,” ujarnya menenangkan sambil mengelus bahu putrinya.

Setelah pengebumian anak besannya selesai, Pak Ahad undur diri, ia ingin segera kembali ke rumah. Letih dan perih kaki yang tersayat tak ia hiraukan.

Sekembalinya ia melewati jalan yang telah ia tembus dalam keadaan panik dan khawatir pagi tadi, ia hanya bisa termangu. Dilihatnya sekeliling, retakan aspal yang menganga dalam, longsoran tebing yang hampir memakan seluruh jalan, hingga arus sungai yang dalam dan deras yang ia mustahil seberangi.

“Sungguh Allah Maha Melindungi dan Maha Memudahkan,” ucapnya seraya menadahkan tangan. Tetesan bening di sudut matanya tanpa sadar terjun bebas.

Dengan dibantu beberapa relawan ia akhirnya bisa sampai ke rumah dengan selamat pada sore harinya. Dedi yang sejak pagi tak sabar menanti ayahnya kembali, langsung menghambur kepelukan ayahnya. Dia lega karena ayahnya bisa kembali dengan selamat.

Ditatapnya ayahnya lekat-lekat. Netranya menangkap raut letih dan cemas. Tetapi ada sedikit kelegaan di mata sayu itu. Dedi bersyukur telah diberikan seorang pahlawan super kepada keluarganya. Dan dengan tangan yang menggenggam hangat sang ayah, serta mata berbinar ia berkata, “Lelaki hebat itu adalah, Ayahku!” (***/dwi/k8)

IG: @Anggraini Wike

 


BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 10:40

Hoax Aplikasi PeduliLindungi Buatan Singapura

KABAR palsu kali ini menyasar aplikasi pelacakan kontak digital untuk Covid-19…

Sabtu, 18 September 2021 10:37

Klaim Keliru Penyebab Kematian Burung Pipit di Bali

ISU chemtrails atau jejak kimiawi di angkasa kembali mencuat beberapa hari…

Sabtu, 18 September 2021 10:36

Kabar Menyesatkan tentang Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air

SIAPA pun yang membaca unggahan akun Facebook Tri Handayani pada 12…

Sabtu, 18 September 2021 10:33

Hoax Warga Dayak Gagalkan Pemindahan Ibu Kota Negara

KABAR tentang suku Dayak yang mengusir dan menggagalkan pembangunan ibu kota…

Kamis, 16 September 2021 11:59

Salah Foto Perempuan Afganistan Tempo Dulu

NASIB perempuan Afganistan setelah Taliban kembali berkuasa banyak menjadi pembicaraan…

Selasa, 14 September 2021 11:22

Hoax Suku Baduy Tak Pernah Divaksin

 ENTAH dari mana sumbernya, akun Twitter mujahidin_banten5th atau @Lordzombie12 tiba-tiba…

Selasa, 14 September 2021 10:14

Hoaks Jokowi Tak Pernah Ucapkan Belasungkawa

Netizen yang satu ini sepertinya tidak pernah membaca berita. Dia…

Selasa, 14 September 2021 10:13

Awas Situs Palsu Pengecekan Bantuan Sosial

KABAR yang dibagikan ulang akun Facebook Hendra Asstawinatta kemarin memang…

Jumat, 10 September 2021 12:34

Hoax Foto Pemimpin Taliban Minum Miras di Jet Pribadi

AKUN Twitter @Haru0neday2813 membagikan foto plus narasi yang berusaha menyudutkan Taliban.…

Kamis, 09 September 2021 10:35

Hoaks Pilot Wanita Afganistan Dirajam

INFORMASI palsu yang menumpang isu pergolakan di Afganistan masih banyak ditemui…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers