MANAGED BY:
SENIN
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Jumat, 09 Juli 2021 10:47
Merehabilitasi Lahan Mangrove Kaltim yang Semakin Kritis, Tanpa Menggusur Tambak, Tekan Penggunaan Pestisida

Pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan, serta peruntukan lain, mengakibatkan lahan mangrove berkurang. Padahal, eksistensi mangrove bisa membuat petani sekitar lahan sejahtera.

 

NOFIYATUL CHALIMAH, Samarinda

 

DARI catatan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), terdapat 17,8 ribu hektare lahan mangrove di Kaltim dalam kondisi kritis. Mangrove merupakan komoditas seksi. Sebab, menghasilkan karbon yang sekarang bisa jadi acuan untuk mendapat insentif Bank Dunia. Untuk itu, pemerintah mengatur strategi melakukan restorasi mangrove.

Pemerintah turut melibatkan masyarakat dalam program rehabilitasi. Degradasi mangrove kebanyakan disebabkan oleh tambak yang dibuka pengusaha. Oleh karena itu, ekowisata atau silvofishery bisa menjadi jalan tengah agar mangrove masih bisa direhabilitasi dan beriringan dengan perkembangan ekonomi masyarakat. Salah satu kawasan mangrove yang perlu perhatian adalah kawasan Delta Mahakam. Kawasan ini memiliki luas 113 ribu hektare dengan 64 pulau dan 54 persen kawasannya merupakan tambak rakyat lokal.

Sekretaris BRGM Ayu Dewi Utari menuturkan, tahun ini ada sembilan provinsi yang menjadi target prioritas rehabilitasi mangrove. Kaltim salah satunya. Luas area target rehabilitasi mangrove mencapai 6 ribu hektare. Arah kegiatan rehabilitasi mangrove, selain memerhatikan fungsi ekologi, juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. “Ekosistem mangrove dapat juga dikembangkan untuk ekowisata,” ujarnya kemarin (7/7).

Pelestarian ekosistem mangrove penting dilakukan. Mengingat salah satu fungsi mangrove sebagai rumah bagi biota laut. Di antaranya, ikan, udang dan kepiting. Selain itu, mangrove dikenal sebagai sumber protein hewani dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Lanjut dia, pemulihan ini dilakukan secara bertahap hingga 2024. Kepala Kelompok Kerja Program dan Anggaran BRGM Teguh Prio menambahkan, pada dasarnya Indonesia adalah negara yang memiliki lahan mangrove terluas dengan keanekaragaman jenis tertinggi di dunia.

"Total hutan mangrove di dunia ada 16,5 juta hektare sedangkan Indonesia memiliki 3,31 juta hektare," jelasnya. Namun, banyak dari lahan mangrove tersebut saat ini kondisi kritis. Disebabkan pembukaan lahan atau pengalihan lahan untuk pertanian dan perkebunan, serta peruntukan lain yang membuat lahan mangrove berkurang. Padahal, eksistensi mangrove bisa membuat petani di sekitar lahan mangrove makin sejahtera. Mangrove menjadi tempat untuk menahan abrasi, juga menjadi rumah dan tempat aneka hewan berkembang biak.

Saat ini ada 19 kelompok tani yang akan menanam mangrove kembali di area 2,2 ribu hektare dari target 5 ribu hektare pada 2021. Ada lima wilayah yang menjadi sasaran kerja rehabilitasi mangrove tahun ini. Yakni Kabupaten Kutai Kartanegara, Berau, Paser, Penajam Paser Utara, dan Kota Bontang. Berau menjadi wilayah yang paling banyak mendapatkan area rehabilitasi. Jumlahnya 2.153 hektare. Kemudian Kutai Kartanegara sebanyak 2.025 hektare. Selanjutnya Paser (710 hektare), Bontang (51 hektare), dan Penajam Paser Utara (61 hektare).

Masifnya pembukaan lahan mangrove di Delta Mahakam diakui Ahmad Nuryawan dari Yayasan Mangrove Lestari (YML). Di Delta Mahakam, degradasi hampir menyeluruh di segala sisi. Saat ini beberapa pihak berupaya untuk pemulihan. Urusan tambak ini harus dicari jalan tengahnya. Tidak bisa serta-merta menyuruh petambak menutup tambaknya, karena itu sumber nafkah. Tetapi harus dicari cara agar tambak bisa lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

"Win-win solution itu ya silvofishery (menanam mangrove di areal tambak).

Saat ini sudah ada beberapa demplot. Ada tiga kecamatan yang dimonitoring," kata Angga.

Dia melanjutkan, tambak yang ada mangrove-nya, produksi ikan lebih stabil.

Maka dari itu, kebiasaan tidak ramah lingkungan harus diubah. Tidak sekadar menanam mangrove, tapi menghindari bahan kimia. Dikatakan Angga, pelaku usaha perikanan di Delta Mahakam kebanyakan berasal dari kultur masyarakat pertanian, bukan perikanan.

"Kalau masyarakat asli perikanan tidak pakai pestisida," ucap dia belum lama ini.

Pestisida biasanya buat membunuh hama. Di Delta Mahakam sebenarnya tambak tradisional tidak perlu teknologi rumit. Kalau hama mengganggu berupa kompetitor seperti kerang, bisa dibersihkan manual. Tetapi yang berat kalau ada predator ikan dan ular.  "Namun, penggunaan pestisida sangat destruktif dia membunuh hewan berdarah merah dan berdarah putih. Efek bahaya pestisida adalah daya bunuh dia hingga ke bakteri pengurai unsur hara. Sehingga, ikan dan udang juga susah hidup. Kalau ada itu, efek buruknya bisa sudah enggak ada lahan lagi untuk tambak," sebutnya.

Sekarang, lanjut dia, terkadang panen sering gagal. Soalnya kualitas perairan makin buruk. Sebab, pertambahan populasi manusia akan menjadi beban lingkungan. Untuk itu, perlu mangrove untuk meningkatkan kualitas air. "Lalu daya dukung lahan. Kalau daya dukung lahan berkurang, penyakit udang makin besar. Baik bakteri, parasit, dan virus. Kalau lingkungan bagus, kondisi udang juga bagus," pungkasnya. (nyc/riz/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 12:33

Pengabdian Nakes Berakhir Pilu di Pedalaman Papua, Sembunyi Kamar Mandi Hingga Memilih Lompat ke Jurang

Penyerangan yang dilakukan KKB pimpinan Lamek Taplo di Distrik Kiwirok,…

Sabtu, 18 September 2021 12:31

Sempat Ditembaki, Jenazah Tenaga Kesehatan Gabriella Berhasil Dievakuasi

JAYAPURA-Jenazah tenaga kesehatan (nakes) Gabriella Meilani (22) yang gugur saat…

Rabu, 15 September 2021 14:45
Kelompok Belajar Disesuaikan dengan Jumlah HT yang Ada

Cek... Cek... Cek... Melalui Handy-Talkie, Mereka Belajar Jarak Jauh

Pengalaman sebagai relawan bencana menggerakkan Yayat Hasatul Hasani memanfaatkan handy-talkie…

Rabu, 15 September 2021 13:39

Dosen UWKS Ciptakan Gula yang Ramah untuk Penderita Diabetes

Di tangan tiga srikandi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), nira…

Jumat, 10 September 2021 10:40

Ingin Ubah Monyet Ekor Panjang Jadi Potensi Wisata

Primata berekor panjang atau makaka masih dipandang sebagai hama. Lantaran…

Jumat, 10 September 2021 10:35

Kekurangan Fisik Tak Halangi Berprestasi

Keterbatasan fisik bukan hambatan. Nanda Mei tetap bisa mendulang prestasi.…

Rabu, 08 September 2021 10:28

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (2-Habis)

Penerima kompensasi terbanyak tak tertarik mobil baru dan memilih berinvestasi.…

Selasa, 07 September 2021 09:31

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (1)

Ada yang memborong tiga mobil dalam hitungan hari setelah kompensasi…

Jumat, 03 September 2021 12:54

Tiga Polwan Polda Kaltim Bawa Misi Perdamaian ke Afrika Tengah

1 September merupakan hari lahirnya polisi wanita (polwan). Menginjak usia…

Kamis, 02 September 2021 13:35

”Laboratorium” Teh Nusantara di Kedai Lokalti, Kalau Bingung, Coba Pesan Lik Yadi atau Mbak Winarsih

Teh adalah kekasih indera pengecap. Kedai Lokalti menyediakan berbagai jenis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers