MANAGED BY:
SABTU
04 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Rabu, 23 Juni 2021 09:36
Masuk Sekolah Favorit
Ismet Rifani

CATATAN

Ismet Rifani

Redaktur Kaltim Post

 

 

DULU jalan pintas masuk sekolah favorit harus kenal dekat pejabat, kepsek, atau guru. Kini tinggallah dekat dengan sekolah. Kalau perlu bangun rumah di sampingnya.

Emak-emak demo ke Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Balikpapan. Anak mereka gagal masuk sekolah favorit. Bukan kalah nilai. Gara-gara rumah mereka kurang dekat dengan sekolah. Sistem zonasi murni pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini memberi angin surga bagi pendaftar yang berdomisili lebih dekat dengan sekolah favorit. Meski seandainya nilai matematika 4, IPA 4, dan bahasa Indonesia 5,5.

Gara-gara demo para emak itu, memori lebih 30 tahun lalu muncul kembali. Saat lulus SD, saya mendaftar di SMP 1 Balikpapan. Saat itu ada kebijakan, tiga besar lulusan SD bisa masuk ke SMP negeri mana saja, tanpa tes. Saya, boleh nyombong dikit, masuk kategori ini. Saya bahkan masih ingat, nomor pendaftaran saat itu 0565.

Hari pertama tes, dimulai pukul 07.15 Wita. Saya datang sedikit terlambat. Pukul 08.45 Wita! Saya ketiduran. Masuk gerbang sekolah yang bentuknya tak berubah sampai sekarang, guru piket kala itu memandangi saya dengan pandangan menakar-nakar. Saya belum sempat bicara ia langsung nyerocos, peserta tes yang terlambat tak bakal lulus.

Saya sempat ciut. Tapi saya membawa bekal kartu sakti dari SD asal. “Oh siswa berprestasi, langsung kumpul di aula”. Nada suaranya ikut berubah.

Aula kala itu seingat saya tak ada kursi. Ada lebih 100 anak berpakaian putih merah seperti saya. Setelah mengisi daftar hadir saya berjalan ke dekat lonceng. Ada siswa perempuan dekat situ. Aha, saya kenal dia. Sebab dia sempat mempermalukan saya.

Ya, anak itu bersama dua temannya dari SD di Balikpapan Barat mengalahkan saya pada cerdas cermat tingkat SD yang diselenggarakan dan disiarkan TVRI Balikpapan. Belum ada RCTI, TVOne apalagi HBO, kala itu. TVRI adalah raja, tayang sejak sore hingga tengah malam. Hanya Minggu tayang sejak pagi dengan film andalan Unyil.

Sumpah, saya tak ingat namanya, tapi ingat betapa manis senyumnya. Ada lesung pipi yang dalam di kedua pipinya. Mirip Bulan Sutena. Itu tuh artis muda yang lagi naik daun.

Dua tahun lalu ada reuni angkatan. Saya jumpa lagi dengannya. Masih manis. Bahkan seperti anggur. Makin tua makin manis. Tapi yang saya heran, dia mengaku single. Dan bukan janda.

Padahal usianya sudah lebih 40 tahun. Saya membatin, kalau orientasi seksualnya normal, maka satu-satunya halangan dia belum menikah karena tak ketemu-ketemu mencari pria setampan Brad Pitt atau George Clooney. Seleranya pastilah tinggi, dan belum didapatnya.

Oke kembali ke laptop, singkat kata saya diterima. Kala itu kelas 1 ada 8 rombongan belajar. Kelas 1 A hingga H. Ada teman satu SD yang juga diterima. Juga lewat jalur prestasi. Di kelas 1 G, meski saya juara pertama di SD, persaingan menembus 5 besar tidak mudah.

Menyandang predikat siswa SMP 1 kala itu terasa membanggakan. Jika tak punya koneksi kuat, hanya dengan belajar yang tekun bisa masuk ke sekolah ini. Kondisi itu berjalan dan bertahan bertahun-tahun.

Lalu ada sistem zonasi pada beberapa tahun belakangan ini. Sistem itu dianggap memberi keadilan bagi calon siswa yang berdomisili dekat sekolah. Sebab pada prinsipnya sekolah memang didirikan untuk warga sekitar. 

Kasus di SMP 3 beberapa tahun lalu jadi contoh. Ada pendaftar tak diterima. Padahal, rumahnya hanya beberapa meter dari sekolah. Bahkan, mayoritas siswa harus lewat depan rumahnya sekaligus lahan orangtuanya kalau menuju gerbang sekolah. Orangtuanya protes.

Jalanan yang biasanya dilewati siswa akan ditutup. Padahal kala itu sudah ada program Bina Lingkungan (BL) yang memberi kesempatan bagi calon siswa sekitar sekolah untuk diprioritaskan. Masalahnya, dalam persaingan sesama calon siswa BL, nilai sang anak kalah bersaing. Orangtua bersikeras, sampai akhirnya dirapatkan di DPRD Balikpapan. Sang anak akhirnya diterima.

Saya sempat berbincang dengan salah satu guru. Dia berargumen, memaksakan anak sekolah dalam komunitas dengan kemampuan di atas sang anak, dalam sejumlah pengalaman, bisa membuat siswa stres. Sebab, mereka merasa terlalu dipaksa belajar untuk mengejar ketertinggalan. Tapi sistem itu juga ada baiknya. Masak anak di Gunung Sari harus sekolah ke Kampung Baru. Atau anak Kampung Baru harus sekolah ke Sepinggan. Karena alasan nilainya kalah bersaing.

Mungkin ada baiknya juga mendengar suara Nur, salah satu emak-emak yang ikut demo di Disdik, kemarin. Anaknya mendaftar di SMP 1 di Gunung Pasir. Juga, SMP 2 dan 12 sebagai pilihan kedua dan ketiga. Ia pede sekali bakal diterima.  Nilai putri keduanya sangat bagus. Berasal dari SD favorit, juga di Gunung Pasir. Ia ingin melanjutkan tradisi, sebab anak pertama juga lulusan SMP 1. Tapi dia harus menelan pil pahit. Di tiga sekolah itu anaknya terlempar dari batas akhir kuota.

Ia dapat info, jarak rumahnya di Prapatan lebih dari 1,3 kilometer. Ini jarak maksimal untuk zonasi murni. Ia makin kecewa karena teman sang anak yang nilainya jauh di bawah, tetap masuk daftar diterima.

“Saya pontang panting leskan anak agar nilainya bagus dan bisa masuk sekolah yang bagus. Tapi kok kalah gara-gara rumah saya kurang dekat dengan sekolah. Kebijakan apa ini,” keluhnya.

Nur tidak sendiri, ada ratusan orangtua punya keluhan senada. Malah yang lebih tragis siswa lulusan SD dan SMP di Manggar Baru, Balikpapan Timur. Tak ada SMP dan SMK/SMK negeri di kelurahan itu. Jarak terdekat berkilometer. Jadi mereka kalah sebelum berperang. Sebab dengan sistem zonasi murni yang berpihak pada jarak, calon siswa dipastikan kalah bersaing.

Hil yang mustahal mendaftar di SMP 1 atau SMA 1 lewat jalur zonasi. Keluhan itu sudah disuarakan kepada lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) setempat. Satu satunya solusi jangka panjangnya adalah bangun sekolah baru. Tapi itu juga tak mudah. Karena punya konsekuensi harus ada guru baru. Ujung-ujungnya harus ada anggaran dialokasikan ke sekolah baru.

Betapa ruwetnya. Tapi kita kan rakyat. Urusan ruwet itu biar dipikirkan para pemimpin di kota ini. Sebab untuk itulah mereka kita pilih. Soal PPDB ini juga menjadi ujian serius pertama bagi wali kota yang baru Rahmad Mas'ud.

Seberapa kuat ia mengakomodasi keluhan emak-emak milenium. Termasuk bagi Kepala Disdik Balikpapan Muhaimin, yang namanya–bersama Kepala Dinas Perhubungan Balikpapan Sudirman–kini harum disebut-sebut bakal menjadi sekkot menggantikan Sayid MN Fadli yang sudah demikian lama di posisi itu. Sejak… saya tak ingat sejak kapan, saking lamanya.

Yang saya ingat justru emak-emak membawa meteran saat berdemo. Juga karton bertuliskan: Ngenesnya, nasib anak saya ditentukan oleh meteran. Duh. (rom/k8)


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers