MANAGED BY:
SELASA
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Minggu, 30 Mei 2021 12:35
Di Luar Indonesia ketika Gelombang Kedua Covid-19 Menghantam (3-Habis)
Saat Pintu Masuk Semua Negara Diperketat, Dapat Kabar Ayah Sakit
Dewi Murni

Ada yang memilih karantina 10 hari sebelum menemui ayah meski wajibnya cuma seminggu. Ada yang sampai butuh waktu nyaris satu bulan sebelum sampai ke kampung halaman.

 

SITI AISYAH, Surabaya-ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta, Jawa Pos

 

BRASIL, seperti juga Indonesia, punya kultur komunal yang kuat. Keluarga atau puak memegang peran penting dalam sendi keseharian mereka. Berkumpul, biasanya ditemani churrasco (daging bakar) dan bir, pun sudah demikian mentradisi. Dan, itulah yang membuat tuntutan menjauhi kerumunan selama pandemi ini sulit dipenuhi.

”Untuk urusan memakai masker di tempat umum, biasanya ada petugas yang akan menegur jika ada yang tidak patuh. Tapi, social distancing susah sekali diterapkan,” kata Dewi Murni, perempuan asal Jogjakarta yang sejak 2009 tinggal dan bekerja di Sao Paulo, Brasil, megapolitan terbesar di Amerika Selatan.

Yang juga sulit dihindari, lanjut Dewi yang menikah dengan pria Brasil dan dikaruniai satu anak, berdesakan di transportasi umum. Tiap jam berangkat dan pulang kerja, jaringan subway di Sao Paulo sangatlah padat.

Brasil termasuk negara yang paling parah terhantam pandemi. Sampai tak ada yang tahu persis jumlah kasus dan korban tewas akibat Covid-19 di negeri yang beribu kota di Brasilia tersebut. Worldometers mengungkapkan bahwa ada 16,3 juta kasus dan lebih dari 456 ribu kematian akibat virus SARS-CoV-2. Negeri Samba saat ini duduk di posisi ketiga untuk angka penularan secara global dan posisi kedua untuk angka kematian. Banyak pihak yang menilai bahwa angka sebenarnya jauh di atas itu. Beberapa media lokal bahkan meyakini bahwa jumlah kematian sudah tembus 500 ribu orang.

Dewi sedang berada di kampung halaman pada Februari 2020, sekitar sebulan sebelum Indonesia resmi memasuki masa pandemi. Ketika itu pun, saat dia balik ke Brasil, semua penumpang pesawat diminta memakai masker. ”Yang paling berubah selama pandemi ini ya persediaan alcohol gel di rumah semakin banyak dan harus rutin minum vitamin,” ujar Dewi.

Berjarak sekitar empat bulan dari saat Dewi berada di Indonesia, Fernando Doren, seorang pastor dan dosen asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bertugas di Sao Paulo, mendapat kabar sang ayah sakit. Pandemi sudah merebak. Semua negara sedang ketat-ketatnya menjaga pintu masuk mereka.

Fernando memberanikan diri untuk mem-booking tiket Qatar Airways, satu-satunya penerbangan yang masih melayani rute Sao Paulo–Jakarta ketika itu. Tapi, dia kemudian mendapat kabar bahwa kondisi sang ayah membaik setelah dirawat di Kupang, ibu kota NTT. Fernando pun menunda kepulangan.

Nah, di tengah kesibukannya melayani umat, terutama kalangan tunawisma, pria penggemar klub sepak bola Santos itu terdeteksi positif Covid-19. ”Tapi, saya OTG (orang tanpa gejala). Jadi, cukup karantina mandiri,” katanya dalam wawancara tertulis dengan Jawa Pos.

Setelah pulih, Fernando berusaha mewujudkan rencana pulang kampung. Dengan berbagai persyaratan ketat, dia akhirnya terbang pada November tahun lalu. Setiba di Jakarta, dia sengaja tak mampir atau menemui kawan atau keluarga di sana. Langsung mengambil penerbangan lokal ke Kupang.

Di Bandara El Tari, Kupang, semua pemeriksaan kesehatan dilaksanakan dengan ketat sebagaimana di Jakarta. Setiap penumpang dianjurkan menjalani isolasi mandiri selama seminggu. ”Saya memutuskan untuk menjalani isolasi selama 10 hari. Pada hari kesebelas, saya menjalani RT-PCR/swab test,” ujar Fernando.

Hasil tes diperoleh dalam tiga hari. ”Hanya, setelah itu aman bahwa tidak ada virus dalam tubuh. Saya pun bisa menemui ayah dan keluarga,” katanya.

Bambang Irawan, WNI (warga negara Indonesia) yang tinggal dan bekerja di Malaysia, juga dibuat cemas atas kenaikan kasus di jiran Indonesia tersebut sejak Ramadan lalu. ”Takut juga kan (tertular, Red). Lagi pula, akibat pandemi, pekerjaan jadi sepi,” tuturnya saat ditemui dalam perjalanan pulangnya di Pelabuhan Merak pada awal Mei lalu.

Dalam tiga hari terakhir, Malaysia selalu ”juara” di Asia Tenggara untuk kasus positif Covid-19. Jumlahnya selalu di atas 7.000 kasus.

Perjalanan pulang Bambang ketika itu sangat tidak mudah. Demi bisa berlebaran di kampung halaman, dia harus menempuh waktu nyaris sebulan dari negeri jiran tersebut. Perjalanan warga Kotabumi, Lampung, itu dimulai 6 April lalu. Dia bertolak dari Kuala Lumpur menuju Pelabuhan Johor Pasir Gudang, Johor. Dia terpaksa menempuh jalur tersebut lantaran Malaysia sudah mulai menerapkan pembatasan perjalanan. Akses transportasi pun sulit. Selain itu, langkah tersebut dilakukan untuk lebih menghemat biaya.

Nahasnya, bukannya hemat, dia justru lebih banyak mengeluarkan uang. Dia tak menyangka perjalanannya bakal memakan waktu nyaris sebulan. Sebab, setiba di pelabuhan, Bambang tak bisa langsung mendapat tiket menuju Batam. Tak ada tiket yang dijual di tempat. Semua harus dibeli secara daring. Bambang yang baru pertama lewat jalur darat sempat kebingungan. Karena itulah, dia memutuskan untuk menyewa penginapan di sekitar pelabuhan sambil mencari info lebih lanjut soal tiket dan syarat menyeberang ke Indonesia.

Sayangnya, hingga beberapa hari dia belum bisa memperoleh tiket. Bambang mencoba peruntungan dengan meminta bantuan polisi untuk memesankan tiket. Saat itu harga tiket sudah melambung tinggi. Bagi dia, itu tak jadi soal. ”Yang penting bisa pulang,” ungkapnya terbata.

Lagi-lagi, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Setelah mendapat tiket, dia tak bisa langsung berangkat. Bambang harus mengantre setiap hari dengan harapan bisa naik kapal pada hari tersebut. Sebab, antrean di pelabuhan ternyata sangat menumpuk. Ratusan orang sudah mengantre menuju Batam. Sementara, penyeberangan dibatasi per hari. Hanya satu feri per hari. Belum lagi, ada kapasitas maksimal yang diterapkan akibat pandemi Covid-19.

Karena rencana keberangkatannya terus mundur, Bambang harus mengeluarkan uang ekstra hingga Rp 4 juta untuk empat kali PCR sebagai syarat bisa berangkat. Semua tak jadi soal. Tekadnya sudah bulat untuk berlebaran bersama keluarga. ”Dapatnya tanggal 28 April. Harganya (tiket) sudah lumayan, lebih dari 100 ringgit,” kenangnya.

Sampai di Batam, Bambang pun tak bisa langsung ke Lampung. Dia harus menjalani masa karantina selama lima hari sebagai syarat wajib bagi WNI yang baru pulang dari luar negeri. Baru setelah hasil PCR negatif, dia boleh melanjutkan perjalanan. Berbekal tiket pesawat, dia terbang ke Jakarta. ”Dari Jakarta langsung naik bus ke Merak. Sekarang mau nyebrang ke Lampung,” paparnya ketika itu. (*/c14/ttg)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 12:33

Pengabdian Nakes Berakhir Pilu di Pedalaman Papua, Sembunyi Kamar Mandi Hingga Memilih Lompat ke Jurang

Penyerangan yang dilakukan KKB pimpinan Lamek Taplo di Distrik Kiwirok,…

Sabtu, 18 September 2021 12:31

Sempat Ditembaki, Jenazah Tenaga Kesehatan Gabriella Berhasil Dievakuasi

JAYAPURA-Jenazah tenaga kesehatan (nakes) Gabriella Meilani (22) yang gugur saat…

Rabu, 15 September 2021 14:45
Kelompok Belajar Disesuaikan dengan Jumlah HT yang Ada

Cek... Cek... Cek... Melalui Handy-Talkie, Mereka Belajar Jarak Jauh

Pengalaman sebagai relawan bencana menggerakkan Yayat Hasatul Hasani memanfaatkan handy-talkie…

Rabu, 15 September 2021 13:39

Dosen UWKS Ciptakan Gula yang Ramah untuk Penderita Diabetes

Di tangan tiga srikandi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), nira…

Jumat, 10 September 2021 10:40

Ingin Ubah Monyet Ekor Panjang Jadi Potensi Wisata

Primata berekor panjang atau makaka masih dipandang sebagai hama. Lantaran…

Jumat, 10 September 2021 10:35

Kekurangan Fisik Tak Halangi Berprestasi

Keterbatasan fisik bukan hambatan. Nanda Mei tetap bisa mendulang prestasi.…

Rabu, 08 September 2021 10:28

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (2-Habis)

Penerima kompensasi terbanyak tak tertarik mobil baru dan memilih berinvestasi.…

Selasa, 07 September 2021 09:31

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (1)

Ada yang memborong tiga mobil dalam hitungan hari setelah kompensasi…

Jumat, 03 September 2021 12:54

Tiga Polwan Polda Kaltim Bawa Misi Perdamaian ke Afrika Tengah

1 September merupakan hari lahirnya polisi wanita (polwan). Menginjak usia…

Kamis, 02 September 2021 13:35

”Laboratorium” Teh Nusantara di Kedai Lokalti, Kalau Bingung, Coba Pesan Lik Yadi atau Mbak Winarsih

Teh adalah kekasih indera pengecap. Kedai Lokalti menyediakan berbagai jenis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers