MANAGED BY:
SABTU
18 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Kamis, 29 April 2021 13:34
Menjadi Pebisnis Profesional Dalam Islam
Norvadewi

Norvadewi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Samarinda

 

Islam merupakan ajaran sempurna yang diturunkan Allah di muka bumi. Kesempurnaannya terlihat dalam ajarannya yang meliputi berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah perintah bekerja kepada para pemeluknya. Seorang muslim (laki-laki) dibebani kewajiban untuk bekerja dalam rangka memenuhi nafkah dirinya atau pun keluarganya, menjaga dirinya dari kehinaan meminta-minta, dan agar dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang diharamkan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

 Bekerja didefinisikan sebagai upaya mengerahkan segala kemampuan dan kesanggupan yang dimilikinya baik jasmani, ruhani, maupun akal pikiran untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan kelurga, baik berupa usaha sendiri (berbisnis) maupun bekerja kepada orang lain dengan mendapatkan gaji. Islam mendorong para pemeluknya untuk bekerja dan menekuni kegiatan ekonomi dalam segala bentuknya seperti pertanian, industri, perdagangan, dan berbagai bidang keahlian atau profesi lainnya.

Ada banyak nash baik Al-Qur’an maupun Hadis yang memuat perintah untuk bekerja dalam rangka mencari rezeki dan mengembangkan harta. Perintah bekerja ini sejajar dengan perintah shalat, sadaqah, dan jihad di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW, para nabi dan para sahabat adalah pekerja keras dengan berbagai keahlian. Nabi Daud adalah seorang ahli pertenunan (kain dan baju besi), Nabi Adam seorang petani, Nabi Idris adalah tukang jahit dan nabi Musa adalah seorang pengembala sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang ulung.

Islam sangat mendorong agar seorang muslim bersikap profesional dalam segala aspek kehidupan baik yang berorientasi duniawi maupun ukhrawi.  Bekerja profesional adalah bekerja dengan maksimal serta penuh komitmen dan kesungguhan. Dalam terminologi Islam, kata profesional disamakan dengan itqân. Itqân berarti doing at the best possible quality. Bekerja secara itqân artinya mencurahkan pikiran terbaik, fokus terbaik, koordinasi terbaik, semangat terbaik dan dengan bahan baku terbaik.   Itqân juga memiliki makna profesionalisme dan spesialisasi. Seorang dikatakan profesional jika ia mahir dalam bidang pekerjaannya.

  Profesional dalam Islam juga merupakan ciri seseorang yang mencapai tingkatan ihsân, yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada iman dan Islam. Seorang yang mencapai tingkatan ihsan tidak merasa cukup hanya dengan melakukan pekerjaan sekedarnya saja, tetapi ia akan melakukannya secara profesional dan sungguh-sungguh, mengerahkan segala kemampuannya untuk kebaikan dan akurasi pekerjaannya.

Inti profesionalisme dalam Islam setidaknya dicirikan oleh tiga hal, yaitu: Kafa’ah, yaitu cakap atau ahli dalam bidang pekerjaan yang dilakukan; Himmatul-‘amal, yaitu memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi;   dan Amanah, yaitu bertanggung jawab dan terpercaya dalam menjalankan setiap tugas atau kewajibannya. Amanah adalah sikap terpercaya yang muncul dari pribadi seorang muslim yang tidak suka melakukan penyimpangan dan penghianatan. Hal ini didorong oleh pengertian di dalam dirinya bahwa ketaatan adalah ciri pribadi muslim. 

 Seorang muslim yang profesional, harus merujuk pada apa yang dicontohkan Rasulullah SAW dengan karakter yang ada pada diri beliau. Karakter ini mencakup sifat-sifat Nabi yang mulia, yaitu siddîq, amânah ,fathânah dan tablîgh serta istiqamah sebagai karakter seorang pebisnis muslim.  Profesionalisme dan akhlak adalah dua hal yang bersinggungan. Penghayatan terhadap nilai/makna hidup, agama, pengalaman dan pendidikan harus diarahkan untuk menciptakan sikap kerja profesional, sedangkan apresiasi nilai yang bersifat aplikatif akan membuahkan akhlakul karimah.  Profesionalisme dan akhlak akan menghasilkan kinerja aktual atau performance.

Profesionalisme Rasulullah SAW dalam berbisnis dapat dilihat dari praktek bisnis yang beliau lakukan. Dalam Islam, bisnis adalah pelaksanaan amanah sebagai khalifah di muka bumi yang harus dilaksanakan dengan kualitas terbaik, agar tercapai tujuan manusia sebagai “insan kamil”. Bisnis adalah proses menjual karya, produk dan jasa. Kualitas karya sangat menentukan maju mundurnya bisnis. Untuk itu membangun sikap yang profesional dalam berbisnis adalah keniscayaan.

 Profesional dalam bisnis berarti para pelaku bisnis dituntut untuk kreatif yang  berorientasi kepada kepuasan konsumen karena merekalah yang menilai dan melakukan keputusan pembelian. Keputusan pembelian sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan dan kualitas produk yang ditawarkan.

Nabi Muhammad SAW senantiasa berupaya memberikan pelayanan terbaik dalam berbisnis yang tercermin dari interaksi beliau dengan pelanggan dan mitra bisnisnya. Dengan dilandasi kemuliaan karakter (siddîq, amânah, fathânah dan tablîgh serta ditambah istiqamah), yang merupakan sifat utama pribadi Rasulullah SAW, dan merupakan kunci penting untuk memenangkan persaingan. Rasulullah telah membuktikan diri sebagai pebisnis terbaik dalam melayani pelanggan dan mitra bisnisnya. Kualitas pelayanan pada pelanggan merupakan dasar dari sebuah bisnis. Untuk itu pebisnis harus memberikan perhatian dan pelayanan sepenuh hati kepada pelanggan sehingga hasilnya bisa optimal. Kualitas pelayanan sepenuh hati ini menjadi sesuatu yang khas di dalam bisnis Islam karena pelayanan yang diterapkan Nabi bukanlah strategi marketing yang sebatas mengharap tujuan duniawi-materi (business oriented), melainkan mengandung makna yang lebih luas dan mendalam (ibadah oriented). Nabi senantiasa bersemangat dalam melayani konsumen dan mitra bisnisnya serta menjalin hubungan baik dengan mereka dengan meningkatkan kualitas pelayanannya,   membangun kepercayaan  dengan bersikap komunikatif dan senang memberikan pertolongan. Selain itu yang terpenting adalah   beliau tegas dalam menerapkan etika bisnis yang Islami.

Selain kualitas pelayanan, yang juga harus diperhatikan dalam bisnis adalah kualitas produk. Ada yang beranggapan bahwa kualitas barang adalah jiwa dari suatu barang. Jika barang tidak berkualitas maka harganya akan rendah bahkan menjadi tidak laku. Seorang pedagang harus memperhatikan kualitas barang yang dijual karena akan mempengaruhi berhasil tidaknya sebuah usaha. Rasulullah SAW sangat memperhatikan terhadap kualitas barang dan produk yang dijual, beliau sengaja memisahkan produk tertentu agar tidak bercampur dengan produk yang kualitasnya lebih rendah. Demi menjaga kepercayaan konsumen, beliau berterus terang jika ada cacat pada barang yang ditawarkan dan menjelaskan apa adanya.  Keharusan memperhatikan kualitas barang dan produk dapat dicermati dari hadis berikut: Sa’d bin Abi Waqqas mengatakan, ia mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang pembelian (barter) kurma kering dengan kurma segar. Rasulullah lalu menanyakan apakah kurma segar akan menyusut bila menjadi kering. Setelah dijawab bahwa kurma itu akan menyusut, Nabi pun melarang transaksi tersebut. Nabi juga tidak suka melihat pedagang yang melipatgandakan keuntungan dengan menutupi kualitas produk. Ketidaksukaan beliau tampak berdasarkan suatu riwayat yang menceritakan seorang pedagang menyembunyikan jagung basah di antara jagung kering. Padahal kualitas jagung basah dan jagung kering berbeda. Begitu pula kadar berat dan harganya.

Pada akhirnya kualitas pelayanan dan kualitas produk   merupakan hasil dari kualitas kerja yang sangat berkaitan dengan pengetahuan dan skill. Islam mewajibkan umatnya supaya membekali diri dengan ilmu dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya, serta memperkaya keterampilan agar kualitas hidup meningkat baik, baik secara material maupun spiritual. Lebih jauh lagi, meningkatkan kualitas bekerja memiliki relevansi dengan optimalisasi waktu. Sebagaimana yang dipesankan oleh Khalifah ‘Umar bin Khattab kepada Gubernur Abu Musa Al-Asy’ari dalam kitab Al-Amwal Abu Ubaid: Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok karena pekerjaanmu akan menumpuk sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai. 

Profesionalisme dalam bisnis adalah sesuatu yang sangat penting dan merupakan manifestasi dari ibadah untuk mendapatkan keberkahan dan sekaligus keberlangsungan dalam bisnis dan kehidupan. Profesionalisme bisnis yang dilakukan oleh Nabi dengan menerapkan etika bisnis Islami adalah kunci kesuksesan beliau dalam bisnis. Hal ini sangat relevan untuk diterapkan dalam membangun dan mengembangkan bisnis, lebih-lebih di era digital saat ini. (**)


BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 10:15

Banjir Memang Bukan Preman

Pernyataan menarik diungkapkan Wali Kota Samarinda Andi Harun ketika menjadi…

Rabu, 15 September 2021 12:54

Ketika Bupati Menerima Honor Makam Covid-19

Dewi MurniPraktisi Pendidikan di Balikpapan Jagat maya pemberitaan nasional gaduh…

Selasa, 14 September 2021 11:22

Banjir Melanda Benua Etam

HAkhmad Sirodz     Ketua Takmir Masjid Nuruz Zaman Loa Bakung  …

Senin, 13 September 2021 13:43

Kunci Sukses Pembangunan IKN

Oleh: Dr Isradi zainal Rektor Uniba, Ketua PII Kaltim, Sekjen…

Jumat, 10 September 2021 13:13

Sehat, Kuat, dan Olahraga

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 10 September 2021 12:32

Eksistensi Radio di Pusaran Kompetisi

Andi Muhammad Abdi Komisioner KPID Kaltim     Genap 76…

Kamis, 09 September 2021 10:36

Asa Pariwisata Kaltim

Oleh : Siswandi, Statistisi Ahli Muda di BPS Kutai Timur  …

Selasa, 07 September 2021 10:57

Efektivitas Daring yang Dipertanyakan

Mohammad Salehudin Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda   …

Selasa, 07 September 2021 10:29

Hapus Dikotomi Kominfo dan Humas

Oleh: Abd Kadir Sambolangi SS MA, Plt Kabag Protokol dan…

Selasa, 07 September 2021 10:15

Membaca Dominasi Koalisi Pemerintah

Oleh: Miftah Faried Hadinatha Mahasiswa Magister Hukum Kenegaraan UGM asal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers