MANAGED BY:
MINGGU
25 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Rabu, 28 April 2021 11:14
Labirin Terorisme

Indonesia wajib bersyukur. Sebab ASEAN Convention on Counter Terrorisme (ACCT) yang ditandatangi 13 Januari 2007, telah diratifikasi dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2012. Di dalam ACCT tersebut, terdapat suatu semangat, siapa pun yang mendanai, merencanakan, memfasilitasi, dan melalukan tindakan teroris harus dicegah dan ditindak secara tegas. Dan upaya pencegahan tersebut, harus senantiasa dibumikan, supaya korban jiwa tidak ada lagi yang berjatuhan.

Bukan Pendidikan

Memang benar, tindakan seseorang bergantung pada pelajaran yang diserap serta pengalaman yang pernah dialaminya. Begitu juga tindakan para teroris, tindakan radikal (dalam arti negatif) yang dilakukannya, disumbang oleh kadar pengetahuan. Kendati demikian, pendidikan bukan menjadi penentu utama sesorang bertindak teror. Ada yang berpendidikan tinggi, dianggap mempunyai daya intelegensi luar biasa, menyebabkan perilaku yang menimbulkan ketakutan bagi orang banyak. Ada juga pendidikan biasa saja, melahirkan perilaku yang mengancam keberdaan orang banyak. Pernyataan ini senada dengan Harja Saputra, Tenaga Ahli Pansus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (detik, 15/5/2018), dan Al Chaidar pengamat terorisme Universitas Malikussaleh (Republika, 29/4/2019).  Artinya, derajat pendidikan seseorang, tidak memberi pengaruh signifikan para perilaku kekerasan.

Dalam Journal of Terrorism Studies, dijelaskan paling tidak ada tiga sebab seseorang melakukan tindakan terorisme. Pertama, soal kepercayaan dan keyakinan. Kepercayaan dan keyakinan ini, tentu saja diasosiasikan dengan agama. Ada gerakan sekulerisme di Barat yang, berusaha memisahkan urusan agama dengan negara. Kelompok teroris ingin menggoyahkan gerakan sekuler tersebut, yaitu dengan berpegang pada perintah-perintah teks suci. Celakanya, dalam memahami teks suci itu, sering kali tidak diiringi pembacaan komprehensif. Biasanya hanya membaca secara tekstual, tanpa mau mengkaitkan dengan aspek lain dalam kitab suci itu. Contoh, janji tentang bidadari di surga.

Kemudian alasan yang paling terkenal, yakni upaya kekerasan tersebut adalah bentuk jihad. Mereka mempercayai dan memiliki keyakinan teguh terhadap jihad yang, harus selalu diasosiasikan dengan makna perang, membunuh orang yang berlain paham, selalu melakukan kekerasan pada orang yang bermaksiat. Makanya, ketika diperhatikan lagi, biasanya tindakan teror dilakukan di tempat antara lain; rumah ibadah, markas aparat penegak hukum, hotel, dan seterusnya.

Sebagai tambahan, kelompok ini biasanya meyakini bahwa agama, khususnya Islam, harus dikembalikan lagi di masa kejayaannya dulu, utamanya di masa ketika Islam menguasai dunia dengan segala kemajuannya. Itu sebabnya, segala hal-hal bertentangan dengan Islam, mesti disingkirkan dengan cara tidak bermoral. Padahal, dalam pandangan Hamid Fahmy Zarkasyi, kemajuan Islam dahulu disebabkan perdababan ilmu pengetahuan yang kemudian, Eropa (yang waktu itu tertinggal) belajar dan terinspirasi akibat khazanah ilmu dalam Islam yang luas. Dan, perdababan ilmu pengetahuan itu, dapat kita saksikan sampai sekarang. Jadi sebetulnya, tidak ada hubungannya antara kekerasan, dengan ingin menghidupkan kembali masa kejayaan Islam.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 23 Juli 2021 12:45

Potensi Maritim IKN yang Luar Biasa

Oleh: Dr Isradi zainal Rektor Uniba, Ketua PII Kaltim, Sekjen…

Senin, 19 Juli 2021 11:00

Racun Media Sosial

Oleh: Imran Duse* Teknologi digital kini hadir menjadi bagian tak…

Sabtu, 17 Juli 2021 12:58

Dampak Ekonomi Pemindahan IKN ke “Sepakunegara”

Oleh: Dr Isradi Zainal (Rektor Universitas Balikpapan, Sekjen FDTI, Ketua…

Sabtu, 17 Juli 2021 12:39

Kurban Ritual dan Sosial

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Sabtu, 10 Juli 2021 12:10

Bola Itu Bulat

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 09 Juli 2021 12:40

Literasi Budaya Tingkilan dalam Membangun Keberaksaraan

Oleh: Tri Widayati  Widyaprada BP PAUD Dikmas Kaltim   Literasi…

Senin, 05 Juli 2021 15:09

Media Sosial dan Gerakan Mahasiswa

Oleh : Imran Duse Postingan BEM UI soal “The King…

Senin, 05 Juli 2021 12:14

Anak Berhadapan dengan Hukum, Salah Siapa?

Oleh: Dewi Zuhroyda Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas II Balikpapan…

Minggu, 04 Juli 2021 20:59

EDS OPTA, Langkah Mempercepat Peningkatan Kualitas Pendidikan yang Mandiri dan Berkelanjutan

Oleh : Dr.H.Tulus Sutopo, S.Pd.,MM.Pd (SDGs Academy Indonesia, Disdikbud Kab.Kutai…

Sabtu, 03 Juli 2021 10:29

Keluarga Samara Nabi Ibrahim

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers