MANAGED BY:
MINGGU
25 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Rabu, 28 April 2021 11:14
Labirin Terorisme

Perihal pidana mati. Saya termasuk yang mengatakan, penjatuhan pidana mati bagi pelaku tindak pidana terorisme, tidak harus selalu diaminkan. Karena lazim diketahui, terorisme mempunyai sifat ideologis yang, semata-mata solusinya tidak melulu dijatuhi hukuman mati. Justru ketika dihukum mati, akan semakin meyakinkan mereka, bahkan muncul perasaan sangat senang, karena “sebentar lagi akan menemui bidadari di surga”.

Dalam undang-undang di atas, telah didesain tindakan preventif berupa (salah satunya) deradikalisasi, yakni tindakan yang berupaya mengembalikan seseorang yang terkena paham radikal (sekali lagi dalam arti negatif) ke arah yang lebih moderat. Barangkali, cara ini dapat dilakukan, ketika, katakanlah, seorang yang terlibat baik langsung tidak langsung dalam kegiatan terorisme telah dijatuhi pidana penjara. Artinya, di dalam penjara, sesorang itu tidak hanya “diamkan” begitu saja. Melainkan dicuci lagi otak dan fikirannya, tentu dengan melibatkan banyak pihak, dikembalikan ke hal-hal yang bersifat “bertobatan”.

Jika hanya dipenjara, dan katakanlah, dia sudah bebas, sementara zat-zat kimia dalam otaknya selalu menaruh perhatian pada tindakan teror, maka bukan tidak mungkin tindakan kekerasan yang sama akan dilakukan lagi. Pendeknya, pemahaman ideologis, harus dibantah lagi dengan hal-hal yang bersifat ideologis yang, tentu mengandung hal-hal moderat.

Makanya, kaloborasi antara aparat penegak, tokoh-tokoh agama, dan masyarakat harus menjadi suatu sistem yang saling berkaitan. Layaknya tindakan korupsi, tindakan terorisme juga membutuhkan peran serta tenaga ekstra untuk mengatasinya. Apalagi tindakan pelaku bertalian dengan jaringan-jaringan kuat dan melembaga. Barangkali kita hanya dipertontonkan tindakan yang bagi mereka kecil, padahal efeknya menimbulkan kekacauan yang luar bisa besar.

Untuk itu, mari sama-sama tidak bersikap permisif terhadap hal-hal apapun yang mempunyai kemiripan dengan tindakan terorisme. Terhadap yang di luar kelompok teroris, penting meningkat kehangatan antara sesama warga negara. Jangan sampai kata-kata Joichi Ito, Direktur Laboratorium Media di Massachusetts Institute of Technology, if we destroy human right and rule of law in the response to terrorism, they have won, benar-benar kenyataan. (**)

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 23 Juli 2021 12:45

Potensi Maritim IKN yang Luar Biasa

Oleh: Dr Isradi zainal Rektor Uniba, Ketua PII Kaltim, Sekjen…

Senin, 19 Juli 2021 11:00

Racun Media Sosial

Oleh: Imran Duse* Teknologi digital kini hadir menjadi bagian tak…

Sabtu, 17 Juli 2021 12:58

Dampak Ekonomi Pemindahan IKN ke “Sepakunegara”

Oleh: Dr Isradi Zainal (Rektor Universitas Balikpapan, Sekjen FDTI, Ketua…

Sabtu, 17 Juli 2021 12:39

Kurban Ritual dan Sosial

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Sabtu, 10 Juli 2021 12:10

Bola Itu Bulat

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 09 Juli 2021 12:40

Literasi Budaya Tingkilan dalam Membangun Keberaksaraan

Oleh: Tri Widayati  Widyaprada BP PAUD Dikmas Kaltim   Literasi…

Senin, 05 Juli 2021 15:09

Media Sosial dan Gerakan Mahasiswa

Oleh : Imran Duse Postingan BEM UI soal “The King…

Senin, 05 Juli 2021 12:14

Anak Berhadapan dengan Hukum, Salah Siapa?

Oleh: Dewi Zuhroyda Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas II Balikpapan…

Minggu, 04 Juli 2021 20:59

EDS OPTA, Langkah Mempercepat Peningkatan Kualitas Pendidikan yang Mandiri dan Berkelanjutan

Oleh : Dr.H.Tulus Sutopo, S.Pd.,MM.Pd (SDGs Academy Indonesia, Disdikbud Kab.Kutai…

Sabtu, 03 Juli 2021 10:29

Keluarga Samara Nabi Ibrahim

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers