MANAGED BY:
SELASA
03 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 24 April 2021 16:02
Industri Halal: Mengapa Harus Sertifikasi Halal?
Maisyarah Rahmi

Fenomena berawal dari transformasi kebiasaan hidup masyarakat. Kini ramai ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki banyak waktu untuk memasak sendiri di rumah. Sehingga membeli makanan dan minuman sudah jadi solusinya. Berbeda dengan kebiasaan ibu-ibu zaman dulu yang lebih suka memasak sendiri dan memilah bahan-bahan makanan yang alami dan halal.

Misal, seorang ibu yang ingin membuat kue mangkok maka bahan yang diperlukan adalah tepung beras, gula merah/gula pasir, ragi, garam, air kelapa, serbuk cokelat, atau air perasan air suji atau daun pandan untuk memberi warna, serta perasa vanila dari buah vanili. Semua bahan-bahan tersebut adalah halal.

Kebiasaan membeli makanan ini dipengaruhi banyak hal, antara lain kemudahan mendapatkan produk makanan tersebut. Selain mudah untuk mendapatkannya di pasar tradisional, pasar modern bahkan pasar online, produk yang dijajakan pun sangat beraneka ragam pilihannya. Bahkan dijual dengan harga yang bersaing.

Hal itu yang kemudian mengharuskan para pedagang berpikir cerdas untuk mempromosikan produknya dengan penampilan, tekstur, rasa dan warna yang menggugah selera konsumennya, serta menawarkan harga yang relatif murah.

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan membeli makanan jadi. Tetapi, bagaimana memastikan makanan yang dibeli tersebut halal yang menjadi kemestian. Perkembangan teknologi pembuatan pangan dan bahan olahan makanan ternyata berdampak pada status kehalalan produk pangan tersebut. Pada beberapa kasus ditemukan terdapat bahan-bahan yang semula halal menjadi diragukan atau syubhat karena proses olahannya.

Contohnya, pedagang yang ingin membuat kue mangkok, menggunakan gula pasir yang putih bersih bahkan tak jarang ada yang menggantikannya dengan pemanis buatan yang tidak thayyib atau yang perlu dikritisi kehalalannya. Perlunya mengkritisi kehalalan gula pasir yang putih bersih dan pemanis buatan tersebut adalah karena proses pemutihan atau permurniannya yang sering menggunakan tulang hewan yang perlu dikaji kehalalannya.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 02 Agustus 2021 21:03

Kolaborasi Guru-Orang Tua di Masa Pandemi

Oleh: Imran Duse   Pagi tadi, sebuah pertanyaan tak terduga…

Jumat, 23 Juli 2021 12:45

Potensi Maritim IKN yang Luar Biasa

Oleh: Dr Isradi zainal Rektor Uniba, Ketua PII Kaltim, Sekjen…

Senin, 19 Juli 2021 11:00

Racun Media Sosial

Oleh: Imran Duse* Teknologi digital kini hadir menjadi bagian tak…

Sabtu, 17 Juli 2021 12:58

Dampak Ekonomi Pemindahan IKN ke “Sepakunegara”

Oleh: Dr Isradi Zainal (Rektor Universitas Balikpapan, Sekjen FDTI, Ketua…

Sabtu, 17 Juli 2021 12:39

Kurban Ritual dan Sosial

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Sabtu, 10 Juli 2021 12:10

Bola Itu Bulat

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Jumat, 09 Juli 2021 12:40

Literasi Budaya Tingkilan dalam Membangun Keberaksaraan

Oleh: Tri Widayati  Widyaprada BP PAUD Dikmas Kaltim   Literasi…

Senin, 05 Juli 2021 15:09

Media Sosial dan Gerakan Mahasiswa

Oleh : Imran Duse Postingan BEM UI soal “The King…

Senin, 05 Juli 2021 12:14

Anak Berhadapan dengan Hukum, Salah Siapa?

Oleh: Dewi Zuhroyda Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas II Balikpapan…

Minggu, 04 Juli 2021 20:59

EDS OPTA, Langkah Mempercepat Peningkatan Kualitas Pendidikan yang Mandiri dan Berkelanjutan

Oleh : Dr.H.Tulus Sutopo, S.Pd.,MM.Pd (SDGs Academy Indonesia, Disdikbud Kab.Kutai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers