MANAGED BY:
SABTU
18 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Kamis, 25 Maret 2021 11:39
TB Scan, Teknologi Baru Diagnosis Penyakit Tuberkulosis Berbasis Nuklir

Dari Butuh Waktu sampai Dua Pekan, Kini Cukup Empat Jam

INOVASI: Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan (kiri) bersama Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan Rohadi Awaludin menunjukkan TB Scan di Serpong kemarin (24/3). Foto: Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Nilai penting TB Scan tak hanya terletak pada ringkasnya durasi diagnosis, dengan biaya sudah ditanggung BPJS Kesehatan pula. Tapi juga pada pesan yang terkandung: iptek nuklir itu bisa bermanfaat untuk masyarakat luas.

 

M. Hilmi Setiawan, Tangerang Selatan, Jawa Pos

 

INILAH kado dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada peringatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia kemarin: diagnosis yang berlipat-lipat singkatnya. Masuk sistem BPJS Kesehatan pula. Jadi, pasien tidak perlu menanggung biaya.

Namanya TB Scan. Teknologi diagnosis penyakit tuberkulosis (TB) berbasis nuklir yang sudah mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Batan memperkenalkan inovasi tersebut kemarin (24/3), bertepatan dengan peringatan Hari TB Sedunia.

”Ini yang pertama di Indonesia. Belum ada produk serupa, uniorisinal,” kata Direktur Registrasi Obat BPOM Lucia Rizka Andalusia.

Indonesia, sebagaimana semua negara di dunia, memang tengah dihembalang pandemi Covid-19. Tapi, jangan pernah memandang sebelah mata TB. Apalagi menganggapnya hanya ”penyakit masa lalu”.

TB masih eksis dan terus mengancam. Sampai sekarang Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus TB. Cuma kalah oleh Tiongkok dan India, dua negara dengan jumlah penduduk terbanyak sejagat.

Riset TB Scan yang dimulai sejak 2003 pun, kata Plt Kepala Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) Batan Muhayatun Santoso, berangkat dari keprihatinan tersebut. ”Riset terkait TB pasti menjadi kebutuhan di Indonesia,” ujarnya dalam telekonferensi langsung dari Bandung kemarin.

Ada dua material utama TB Scan: etambutol yang sejatinya obat TB dan bahan radioaktif TC-99m. Pada tahap awal dilakukan formulasi larutan etambutol dengan zat-zat tambahan berformula khusus.

Hasil larutannya ditempatkan dalam vial atau botol kecil, lalu dilakukan pengeringan beku atau liofilisasi. Hasilnya menjadi serbuk berkelir putih bersih. Botol kemudian ditutup rapat serta dipastikan bebas dari kuman. Sebab, serbuk etambutol tersebut akan diinjeksikan ke pasien TB.

Nah, sebelum diinjeksikan, serbuk etambutol itu dicampur dengan bahan radioaktif TC-99m yang berupa cairan. Setelah tercampur, baru disuntikkan ke pasien.

Dokter kemudian membaca hasilnya dengan bantuan kamera gama. Akan kelihatan konsentrasi etambutol di dalam tubuh pasien. Itu diketahui karena etambutol yang sudah diikat dengan bahan radioaktif TC-99m tersebut memancarkan sinar gama.

Ketika konsentrasi etambutol itu berada di paru-paru, berarti pasien tersebut mengalami TB paru-paru. Sebab, etambutol menempel pada bakteri TB di paru-paru.

Nilai positif lainnya, inovasi itu juga bisa membaca kasus TB di luar paru-paru. ”Seperti di usus, kelenjar limfa, ginjal, kulit, organ saluran urine, saluran saraf, serta tulang belakang,” kata Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Batan Rohadi Awaludin dalam telekonferensi yang sama.

Lewat TB Scan, hasil diagnosis bisa diketahui dalam hitungan jam. Adapun dengan kultur darah, diagnosis yang kerap dipakai sekarang, dibutuhkan hitungan pekan.

Cara lainnya adalah meminta pasien batuk serta mengeluarkan dahak. Tapi, cara itu kadang tidak bisa menemukan sampel bakteri TB di dalam cairan dahak. Padahal, di dalam tubuh pasien tersebut masih bersemayam bakteri TB yang aktif.

Lewat TB Scan, setelah disuntik, pasien menunggu terlebih dahulu sekitar satu jam. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan dengan kamera gama. Tiga jam kemudian, dilakukan kembali pemeriksaan dengan kamera gama.

”Jadi, total durasi yang diperlukan hanya sekitar empat jam,” tutur penasihat Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia Prof Hussein S. Kartamihardja.

Menurut Hussein, itulah yang membuat sejumlah koleganya di luar negeri sudah menyampaikan ketertarikan. TB Scan dianggap memudahkan diagnosis pasien TB. Apalagi, tingkat akurasinya lebih dari 90 persen.

”Saya juga aktif mengenalkannya di berbagai forum internasional,” katanya.

TB Scan juga membantu memastikan pasien TB sudah waktunya berhenti dari konsumsi obat-obatan atau tidak. Protokol penggunaan obat TB adalah enam bulan. Ketika masuk fase tiga bulan, bisa dilakukan pemeriksaan. ”Begitu pun ketika di akhir tahap konsumsi obat-obatan, juga bisa dilakukan pengecekan melalui TB Scan,” terang Hussein.

Riset TB Scan dimulai PSTNT Batan pada 2003 sebelum kemudian diserahkan ke PTRR Batan di Serpong pada 2015. ”Diserahkan ke kami untuk dikembangkan lebih lanjut. Supaya bisa diproduksi dalam skala besar,” kata Rohadi.

Harga satuan TB Scan diperkirakan Rp 1 juta. Kimia Farma menjadi mitra komersialisasinya. Kabar baiknya, produk itu sudah masuk sistem BPJS Kesehatan sehingga pasien tidak perlu menanggung biaya.

Bagi Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan, produk inovasi Batan bersama berbagai pihak seperti Kimia Farma, RS Hasan Sadikin, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan BPOM tersebut membuktikan bahwa produk iptek nuklir bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Itu penting karena selama ini iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) nuklir selalu diidentikkan dengan bom atom, dampak radiasi, dan hal negatif lainnya.

Indonesia, kata dia, memiliki potensi besar untuk pengembangan produk kesehatan berbasis nuklir atau radioisotop dan radiofarmaka. Dengan begitu, ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi. Bahkan, nilai ekspor bisa meningkat.

”Peluang itu terbuka lebar karena Indonesia memiliki fasilitas reaktor riset nuklir dan fasilitas pendukungnya yang masuk kategori terbesar,” ujarnya. (*/c19/ttg)


BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 12:32

300 Nakes Ditarik dari 34 Distrik di Papua

JAYAPURA-Sebanyak 300 Tenaga Kesehatan (Nakes) ditarik dari 34 distrik di…

Sabtu, 18 September 2021 10:18

Balikpapan Siap Jadi Ibu Kota Provinsi

Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Provinsi Kaltim, membuka peluang wacana…

Sabtu, 18 September 2021 10:17
RUU tentang Provinsi Segera Diputuskan DPR

Samboja-Sepaku Bisa Lepas dari Kaltim

Dalam naskah akademik RUU IKN yang sebelumnya beredar, pemerintahan IKN…

Jumat, 17 September 2021 12:09

Trans Kalimantan di Kubar Tergenang, Waspada! Lubang-Lubang di Jalan Makin Besar

SENDAWAR–Banjir melanda sejumlah kecamatan di Kutai Barat (Kubar). Terparah banjir…

Kamis, 16 September 2021 14:35
Kepala Sekolah Rp 1,6 Triliun Itu Cuma Ingin Momong Cucu

Itu kan Hanya Catatan di Atas Kertas, tapi Di-Ranking KPK

Menurut undang-undang, kepala sekolah seperti Nurhali sejatinya tak masuk kategori…

Kamis, 16 September 2021 14:33

Undang-Undang Direvisi, Keistimewaan Kaltim Diatur

BALIKPAPAN-Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Provinsi Kaltim disepakati masuk Program Legislasi…

Kamis, 16 September 2021 14:31

Pemerintah Targetkan Tol Baru ke IKN Rampung 2025, Panjangnya 47 Km

Nantinya, jalan tol sepanjang 47 kilometer itu akan dimulai dari…

Kamis, 16 September 2021 14:29

Situasi Pandemi Mulai Terkendali, Pakar Ingatkan Gelombang Ketiga Masih Bisa Terjadi

JAKARTA- Indikator pandemi nasional semakin membaik. Per tanggal 14 September…

Kamis, 16 September 2021 13:22

56 Pegawai KPK Diberhentikan Dengan Hormat

JAKARTA – Polemik pengalihan pegawai KPK menjadi aparatur sipil negara…

Rabu, 15 September 2021 14:43
KPK: Tinggi Bukan Berarti Korupsi, Rendah Bukan Berarti Bersih

Kekayaan Lima Kepala Daerah di Kaltim Naik

Pandemi Covid-19 yang setahun terakhir melanda, tampaknya tidak terlalu berpengaruh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers