MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Selasa, 16 Maret 2021 11:21
Menengok KWPLH Setelah Kembali Dibuka – (2)
Tiap Tahun Perlu Anggaran Operasional Rp 19 M
Selama pandemi kunjungan di KWPLH turun hingga 71 persen. Donasi yang dikumpulkan pun berkurang 50 persen. Defisit? Begini kata pihak Pro Natura selaku pengelola.

Selama pandemi kunjungan di KWPLH turun hingga 71 persen. Donasi yang dikumpulkan pun berkurang 50 persen. Defisit? Begini kata pihak Pro Natura selaku pengelola.

 

Kebutuhan anggaran operasional KWPLH dalam setahun tidaklah sedikit. Setidaknya butuh Rp 1,9 miliar. Tanpa menerapkan tiket masuk, KWPLH begitu bergantung pada pemasukan dana tidak terikat/donasi sukarela. Kebanyakan donasi berasal dari luar negeri, seperti Swiss maupun Belanda. Dari dalam negeri, sejumlah perusahaan pun memberikan donasi bagi KWPLH meski tidak berkelanjutan.

Ketika pandemi belum terjadi, KWPLH dibuka untuk umum dari pukul 08.00-17.00 Wita. Pihak pengelola kini menyesuaikan aturan pemerintah. Selama pandemi jam kunjungan dibagi dua sesi, pagi hari pukul 09.00-11.00 Wita, lalu dibuka lagi pukul 14.00-16.00 Wita. Banyak orang belum mengetahui KWPLH telah kembali dibuka, sebab pengelola belum mengumumkan guna menghindari kerumunan.

Catatan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung menurun hingga 71 persen. Biasanya pada akhir pekan/weekend kunjungan mencapai 300-500 orang. Mengikuti peraturan pemerintah, kapasitas pengunjung sementara waktu hanya diperbolehkan 50 persen. Atau hanya sekitar 150 orang datang berkunjung setiap minggunya sekarang. Adapun di weekday, hanya 5-10 orang. Tidak tentu. Semenjak dibuka, warga negara asing yang datang berkunjung tercatat baru satu orang.

Berkaca dari tahun 2020, pengelola mengalami kekurangan hingga Rp 500 juta.

“Melihat tahun 2022, memprediksinya agak sulit jika tidak ada komitmen dana yang pasti. Kecuali Dinas Kehutanan atau KPHL bisa mengambil alih. Kalau semisalnya Pro Natura tidak lanjut (mengelola). Kebutuhan KWPLH tidak sedikit, kalau dari donasi saja tidak cukup, harus ada keterlibatan dari perusahaan dan pemerintah,” ujar Uvang Permana, sekretaris eksekutif Yayasan Pro Natura.

Biaya operasional berupa listrik, air dan maintenance cukup besar. Dan lagi kebutuhan pakan bagi enam ekor beruang madu di KWPH dalam setahun menghabiskan Rp 300 juta lebih. Selain buah-buahan, beruang madu diberikan enrichment seperti madu, obat, vitamin dan vaksin. Setiap bulan pengelola harus pula mengeluarkan Rp 77 juta untuk menggaji 22 karyawan. Belum termasuk biaya BPJS. Wacana restruktur dan mengurangi jam kerja sempat ada. Tetapi, pihak pengelola masih tidak tega dan tetap mempertahankan jumlah pekerja.

“Kalau dipangkas lagi jumlah pekerja kami akan kewalahan. Mengingat luas KWPLH mencapai 9,5 hektare, termasuk 1,3 hektare enklosur beruang madu,” sebutnya.

Hingga Maret ini, Uvang mengatakan baru satu perusahaan saja yang memberikan bantuan. Itu menjadi warning, pada 2022, KWPLH kemungkinan menghadapi kesulitan jika di pertengahan tahun belum mendapatkan donatur. Guna menekan cost, KWPLH juga mulai mencoba membudidayakan madu kelut sendiri.

Sebagai mitra Dinas Kehutanan dan KPHL, Pro Natura menyediakan bantuan keberlangsungan beruang madu serta berbagi program pendidikan lingkungan hidup. Yayasan Pro Natura berdiri pada Maret 2013 lalu, didirikan oleh Gabriella Fredriksson. Selaku pihak ketiga, Pro Natura menjadi penanggungjawab KWPLH. Perjanjian kerjasama antara pemerintah dengan Pro Natura berlangsung selama 5 tahun, sejak 2017 dan akan berakhir di Desember 2021 nanti.

“Jelas kami akan diskusi kembali dengan pihak provinsi, bagaimana mencari solusi dan bisa berbagi peran, mana yang bisa dibiayai dinas dan mana yang bisa kami (Pro Natura) support,” tutupnya. (lil/ms/k15)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 12:33

Pengabdian Nakes Berakhir Pilu di Pedalaman Papua, Sembunyi Kamar Mandi Hingga Memilih Lompat ke Jurang

Penyerangan yang dilakukan KKB pimpinan Lamek Taplo di Distrik Kiwirok,…

Sabtu, 18 September 2021 12:31

Sempat Ditembaki, Jenazah Tenaga Kesehatan Gabriella Berhasil Dievakuasi

JAYAPURA-Jenazah tenaga kesehatan (nakes) Gabriella Meilani (22) yang gugur saat…

Rabu, 15 September 2021 14:45
Kelompok Belajar Disesuaikan dengan Jumlah HT yang Ada

Cek... Cek... Cek... Melalui Handy-Talkie, Mereka Belajar Jarak Jauh

Pengalaman sebagai relawan bencana menggerakkan Yayat Hasatul Hasani memanfaatkan handy-talkie…

Rabu, 15 September 2021 13:39

Dosen UWKS Ciptakan Gula yang Ramah untuk Penderita Diabetes

Di tangan tiga srikandi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), nira…

Jumat, 10 September 2021 10:40

Ingin Ubah Monyet Ekor Panjang Jadi Potensi Wisata

Primata berekor panjang atau makaka masih dipandang sebagai hama. Lantaran…

Jumat, 10 September 2021 10:35

Kekurangan Fisik Tak Halangi Berprestasi

Keterbatasan fisik bukan hambatan. Nanda Mei tetap bisa mendulang prestasi.…

Rabu, 08 September 2021 10:28

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (2-Habis)

Penerima kompensasi terbanyak tak tertarik mobil baru dan memilih berinvestasi.…

Selasa, 07 September 2021 09:31

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (1)

Ada yang memborong tiga mobil dalam hitungan hari setelah kompensasi…

Jumat, 03 September 2021 12:54

Tiga Polwan Polda Kaltim Bawa Misi Perdamaian ke Afrika Tengah

1 September merupakan hari lahirnya polisi wanita (polwan). Menginjak usia…

Kamis, 02 September 2021 13:35

”Laboratorium” Teh Nusantara di Kedai Lokalti, Kalau Bingung, Coba Pesan Lik Yadi atau Mbak Winarsih

Teh adalah kekasih indera pengecap. Kedai Lokalti menyediakan berbagai jenis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers