MANAGED BY:
MINGGU
09 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Rabu, 24 Februari 2021 14:16
Abu

Tongkang-tongkang batu bara juga belum ada yang hilir mudik. Tacik terlihat tegas, walaupun aku tahu kesedihan menyelimuti hatinya. Tangannya membawa guci yang didekapnya selalu. Guci abu jenazah adik kesayangannya. Imlek yang akan datang sebentar lagi, harus dilalui dengan duka. Kehilangan adik yang dicintainya.

Meski berteman lama. Aku tak pernah tahu apa agama Mas Wieg–begitu aku biasa memanggil Wiguno–kami bersahabat begitu saja. Aku tak pernah menanyakan. Sampai kemarin, Tacik mengabari Mas Wieg sudah meninggal dan bermohon pesan agar aku ikut melarung abunya di Mahakam. Jenazah dibakar di krematorium di utara Samarinda.

Dalam hidupnya yang sepi Mas Wieg tak punya banyak teman. Sering kuejek ia karena belum menikah dan tak laku. Katanya, perjodohan itu rumit. Dia punya toko kecil di pinggiran Karang Mumus. Menjual sembako dan aneka barang kelontong. Makanan ringan, rokok dalam rak kaca kecil, sampo sachet, dan rentengan pisau cukur terpajang di depan toko itu. Sebatang pohon kersen tumbuh subur di depan rumah. Burung pipit sering bertengkar merebutkan buahnya.

Mas Wieg suka lari pagi. Biasanya pagi-pagi sebelum membuka toko ia selalu jogging dulu, di sepanjang tepian Mahakam. Kata Tacik, Jembatan Mahakam adalah salah satu tempat favoritnya. Sering ia menemani Mas Wieg naik sepeda motor ke depan Islamic Center, lalu lari sampai ke tengah jembatan Mahakam. Berada di tengah-tengah jembatan itu, diterpa deru angin, mengeringkan keringat, dia membentangkan tangannya. Seperti burung yang melebarkan sayapnya. Bujang, yang mencintai kebebasannya.

Dulu dia pernah berkelakar. ”Kami orang-orang keturunan itu beruntung, bisa berumur panjang. Beda sama kamu, gaya hidupmu itu gak sehat. Makanmu sembarangan, gak pernah olahraga. Aku yakin nanti aku ikut ngubur kamu,” ucapnya sambil tertawa terkekeh-kekeh, seolah meramal masa depan kami.

Kakek buyutnya dulu adalah orang Tiongkok yang didatangkan ke Kalimantan dari Surabaya lewat Makassar sebagai buruh tambang batu bara Oost Borneo Maatschapij (OBM) di Batu Panggal. Sampai bisa punya tanah sendiri di sekitar Pecinan. Yang sekarang jadi Jalan Imam Bonjol. Rumah itu sudah dijual dan kehilangan jejak di deretan ruko-ruko.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 30 April 2021 10:52

Benda-Benda Sriwijaya Air SJ-182 Disebut Milik Kru Nanggala-402

KABAR palsu yang mengikuti musibah tenggelamnya KRI Nanggala-402 masih terus bermunculan.…

Rabu, 28 April 2021 12:45

Hoax KRI Nanggala-402 Ditembak Kapal Selam Prancis

BERITA palsu tentang penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan Bali banyak…

Selasa, 27 April 2021 11:05

Salah Peruntukan Alat Tes Rapid Antigen

FAKTA Menggunakan alat tes rapid antigen untuk mengetes air keran…

Selasa, 27 April 2021 11:05

Hanya Pingsan, Bukan Meninggal

FAKTA Perempuan bernama Tanja Erichsen, kepala Badan Obat-obatan Denmark, itu…

Jumat, 23 April 2021 12:06

Hoax Siswa SMA di Papua Ditembak Mati TNI/Polri

KEMATIAN seorang siswa di Papua beberapa waktu silam malah dijadikan bahan…

Rabu, 21 April 2021 17:10

Salah Gambar Antrean Kapal di Terusan Suez

FAKTA Video deretan kapal tongkang tak bergerak di lautan itu…

Rabu, 21 April 2021 17:09

Hoaks Rizieq Berteriak Disiksa Densus 88

FAKTA Teriakan Rizieq Syihab itu direkam saat dia dibawa masuk…

Selasa, 13 April 2021 10:22

Bikin Presiden Terkesan Sangar

FAKTA Judul berita unggahan akun Facebook Mulyadi Herlambang itu hasil…

Selasa, 13 April 2021 09:56

Hoaks Pelaku Penyerangan di Mabes Polri Tak Bawa Senjata

AKUN Facebook Ali Assegaf menyebar kabar mengejutkan. Dia menyebut perempuan…

Selasa, 06 April 2021 10:18

Hoax Petugas yang Membawa Rizieq Langsung Sakit

FAKTA: Pria dalam video yang mengaku pusing dan lemas itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers