MANAGED BY:
KAMIS
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Rabu, 27 Januari 2021 10:33
Air Mata Jannah

Yusuf akhirnya hanya bisa pasrah. Menenangkan istrinya yang menangis sampai subuh, di beranda Masjid Al Falah, di puncak bukit tanjakan Gunung Tangga, jalan poros Samarinda-Bontang itu.

 

Gigitan nyamuk, jalanan macet tak bergerak di sepanjang jalan di hadapan masjid itu tak mengusiknya lagi. Hujan turun pelan, air mata Jannah terus mengalir. Seperti ada sesuatu yang menghunjam jantung Yusuf, rasa sakit karena tak berdaya.

Bersama hujan deras yang turun sore itu, sebuah kabar mengejutkan tiba. Tak ada kabar sakit sebelumnya, tiba-tiba ibu mertuanya dikabarkan meninggal, di kampungnya di Loa Kulu. Yusuf dan Jannah yang membuka usaha warung sudah tiga setengah tahun ini di Gas Alam, Muara Badak. Mereka bergegas, menutup warung kecil itu, kemas-kemas dan berangkat. Jannah sempat menangis histeris. Pingsan sebentar. Yusuf sebisa-bisanya menenangkan.

Hujan masih turun. Sepasang suami-istri itu tetap berangkat. Macet panjang di sepanjang Tanah Datar; paduan jalan rusak parah, parit yang rata dengan jalanan, dan air yang meluap sebab limpahan dari lahan tambang terang-terangan di kiri-kanan jalan itu.

Megapro tua Yusuf harus menyempil di sela-sela kendaraan besar di jalan rusak itu. Di balik jas hujan, Jannah terus menangis. Yusuf mengusap-ngusap wajahnya yang basah kuyup, agar tetap bisa melihat jelas, sembari mengendalikan motornya. Menerabas banjir yang menutupi lubang jalan yang dalam. Beberapa kali mereka hampir terjatuh.

Magrib itu baru mereka bisa menerobos macet panjang tersebut. Kendaraan masih mengular dari Tanah Datar sampai Bandara APT Pranoto. Namun, apalah daya sebisa-bisa ia mencari jalan, hujan deras yang mengguyur menyebabkan banjir parah di Samarinda. Begitu akan turun menuju simpang Lempake, seluruh permukaan jalan sudah berubah jadi sungai. Air di mana-mana.

Beberapa motor mogok, terendam sampai ke jok, didorong pemiliknya. Kendaraan-kendaraan yang lain berbaris terkunci di tengah jalan, tak bisa bergerak. Suara aneka klakson, serapah bersahutan, dan suara sirene ambulans yang meminta prioritas jalan tak bisa berkutik. Turut terjebak dalam barisan panjang kemacetan.

“Kayak apa ini bang? Mamakku bang, mamakku bang?” Jannah merengek di punggung Yusuf. Yusuf menahan-nahan diri untuk tidak menangis.

“Kita salat dulu, doakan aja Dik. Mau gimana lagi. Kita berdoa saja. Kita doa buat mamak. Juga supaya banjir cepat surut.”

Yusuf memutar balik motornya, menuju masjid hijau di atas tanjakan jalan itu. Di teras dan halaman masjid sudah ramai orang-orang senasib terjebak dan menunggu banjir reda.

Tak khusyuk Yusuf sembahyang, gelisah memikirkan keadaan mereka. Begitu usai salat, bergegas ia mencari-cari truk atau pikap yang siapa tahu mau ditumpangi mengangkut mereka.

“Wah masih gak berani Mas, banjirnya dalam betul di depan sana. Lagian ini macet panjang mana bisa lewat,” kata seorang sopir menolak tawaran Yusuf yang meski sudah memelas, serta mau membayar sekalipun. Kota Tepian sudah berubah jadi tengah lautan. Sopir-sopir bergeming.

Dia kembali ke masjid. Menemui istrinya yang masih menangis. Di sebelahnya seorang ibu yang juga menangis. Baju ibu itu basah sehabis kehujanan, sebab sama seperti Yusuf, ia sempat mencari-cari tumpangan. Ibu itu dari Sangatta, akan naik pesawat dari Balikpapan ke Jogjakarta. Menemui anaknya yang sudah dua tahun ditinggalkan di kampungnya di Jawa. Tiket sudah terbeli dari uang yang susah payah dikumpulkan. Ibu itu menangis sebab tiket itu terancam hangus. Travel yang membawanya tak bisa mengantar sampai ke Balikpapan, hanya bisa paling jauh di masjid itu, akibat banjir yang melanda Samarinda. Kota yang tak hanya sebuah kota, tapi ibu kota sebuah provinsi yang jadi jalur perlintasan antarkabupaten/kota lain.

Yusuf mengambil sarung dari buntalan pakaian yang ia bawa, untuk dijadikan handuk wajah oleh ibu itu. Sembari menceritakan nestapa yang juga mereka alami.

“Selama ini kenak tipu kita. Milih wali kota, milih gubernur cumak untuk punya-punyaan saja. Sekadar ada, tapi gak bisa kerja. Masalah nyata depan mata gini bertahun-tahun kok ga bisa ngatasi. Makin parah,” terdengar suara sopir truk marah-marah di jalanan.

Di teras masjid, Yusuf merangkul pundak Jannah. Disabar-sabarkannya hati istri yang sangat disayanginya itu. Tapi ia sendiri tak kuasa menahan tangis. Hujan turun pelan, mereka berjaga sepanjang malam. Laron-laron mengitari lampu-lampu.

Tak ada tanda-tanda banjir surut sampai subuh. Mobil-mobil masih tak bergerak. Ambulans tadi juga, sirenenya saja tak lagi berbunyi. Entah pasien di mobil itu sakaratul maut, mau melahirkan atau apa saja yang darurat, pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah.

Tangis Jannah tak lagi bersuara, hanya air matanya masih mengalir. Dengan suara bergetar, ia menelepon dan memberi kabar kakak dan adik-adiknya di Loa Kulu.

“Kakak minta ampun Dek. Segerakan saja, kuburkan mamak pagi ini. Tak usah lagi menunggu kakak,” katanya sembari menangis putus asa.

Yusuf memeluk istrinya itu erat-erat. Tangis itu terbenam di tubuhnya.  Air mata mengalir. Menghunjam jantungnya. Tak berdaya.

Hujan kembali deras. Banjir dan duka makin dalam. (***/dwi/k8)

CHAI SISWANDI. Petani. Tinggal di Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

 

 

 


BACA JUGA

Senin, 18 Oktober 2021 15:06

Seolah Jokowi Hendak Reshuffle Risma

KANAL YouTube masih dijadikan sebagai media untuk menyebarkan informasi menyimpang. Misalnya…

Jumat, 15 Oktober 2021 13:36

Sebar Hoax Patung Moai Pulau Paskah sebagai Berhala Makkah

WARGANET yang satu ini rupanya buru-buru mem-posting gambar tanpa menelusuri…

Rabu, 13 Oktober 2021 12:07

Video Tarian 2019 Dikait-kaitkan PON XX Papua

REKAMAN Presiden Joko Widodo tengah berjoget dengan masyarakat Papua mendadak…

Selasa, 12 Oktober 2021 10:24

Vaksinasi Covid-19 Tidak Memengaruhi Warna Darah

INFORMASI palsu seputar vaksinasi masih mudah dijumpai di media sosial.…

Rabu, 06 Oktober 2021 13:37

Priyo Budi Santoso Dikira Warga Negara Tiongkok

KOLASE dua foto yang dibagikan akun Facebook Saefulxrekul Movie On…

Senin, 04 Oktober 2021 12:12

Dua Warga Malaysia Menculik Ambil Organ Tubuhnya

Dalam dua hari terakhir, kembali muncul isu penculik anak bergentayangan…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:49

Hoaks Video Hiu Bikin Jaringan Telkomsel dan IndiHome Ngedrop

 GANGGUAN jaringan internet Telkomsel dan IndiHome beberapa hari lalu langsung…

Jumat, 01 Oktober 2021 10:48

Kabar Palsu tentang Surat Pencopotan Anies Baswedan

BEBERAPA pembuat hoaks menggunakan kanal YouTube untuk menyebar kegaduhan. Mereka membuat…

Rabu, 29 September 2021 10:26

Bukan Banjir Darah Sungguhan

HOAKS tentang Afganistan masih banyak ditemui di media sosial. Salah satunya…

Sabtu, 18 September 2021 10:40

Hoax Aplikasi PeduliLindungi Buatan Singapura

KABAR palsu kali ini menyasar aplikasi pelacakan kontak digital untuk Covid-19…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers