MANAGED BY:
SABTU
16 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 06 Januari 2021 09:28
Fokus Urus Nilai Tambah Sumber Daya Alam
ilustrasi

PROKAL.CO,

JAUH sebelum pandemi Covid-19, ketergantungan Kaltim terhadap industri pertambangan batu bara telah menimbulkan turbulensi ekonomi. Menurut Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang, pada 2008 saat resesi ekonomi dunia, masalah penurunan pendapatan daerah sudah terjadi. Ketika pasar properti Amerika Serikat mengalami guncangan. Bahkan Eropa pada 2014 dan di wilayah Asia juga mengalami hal serupa. Terjadi resesi. “Sepertinya tidak hanya Kaltim, pemerintah pusat juga tidak pernah belajar dari persoalan resesi yang terjadi pada pasar internasional,” ucapnya. 

Menurut dia, itu disebabkan ketergantungan terhadap industri ekstraktif. Ketika negara tujuan menerapkan sistem ketat dan menerapkan lockdown pada seluruh industrinya, permintaan batu bara selama masa pandemi Covid-19 menurun drastis. “Akibatnya penerimaan daerah yang ditopang dari ekspor batu bara mengalami penurunan. Yang akhirnya memengaruhi terhadap pendapatan daerah,” kata Rupang dalam diskusi daring yang digelar Kaltim Post, Kamis (17/12) lalu, yang mengusung tema “Outlook Ekonomi Kaltim 2021: Ekonomi Kaltim Melejit Pasca-Pandemi”. Diskusi yang disiarkan langsung melalui kanal media sosial Kaltim Post, seperti YouTube, Facebook, dan Instagram, merupakan bagian dari persembahan media ini ke pembaca setia di HUT ke-33 Kaltim Post (5/1).

Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum bisa diprediksi kapan tuntas, diharap Rupang, disikapi pemerintah agar mulai melakukan transisi ekonomi di luar industri batu bara. Ekonomi yang lebih stabil dan kuat tanpa ditentukan pasar global, antara lain pertanian serta perikanan demi memperkuat ketahanan pangan Kaltim.  “Namun, berbeda dengan industri yang tidak pernah mendapat sorotan di Kaltim. Seperti UMKM, pangan, dan pertanian. Tidak mendapat proteksi yang kuat. Berbeda dengan yang diberikan kepada industri ekstraktif, seperti batu bara, sawit, dan perkayuan,” ucapnya. Selain itu, kata Rupang, hampir semua masyarakat yang berada di lingkaran kawasan pertambangan mengalami krisis air dan tidak memiliki tabungan air. Seperti yang terjadi di Desa Mulawarman, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang secara adiministratif akan hilang akibat pertambangan batu bara.

Jatam mencatat, berdasar data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim pada 2018, masyarakat termiskin justru berada di daerah yang dominan “mengobral” izin tambang batu bara. Seperti di Kukar yang meloloskan 625 izin usaha pertambangan (IUP) memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Kaltim. Dengan angka 56,56 persen. Disusul Samarinda (39,23 persen), Kemudian Kutai Timur (33,2 persen). “Ini gambaran, kalau sudah menghadirkan kesejahteraan, pemerataan, dan menaikkan kemakmuran hanya mitos,” sindirnya.

Pun demikian dengan kondisi pangan di Kaltim. Surplus batu bara tapi defisit pangan. Di 2018, ada 247.263 ton gabah kering beras yang dihasilkan Kaltim. Sementara jumlah penduduk Kaltim 3,5 juta jiwa. Dengan proyeksi itu, harus ditopang dengan kebutuhan 407.922 ton. Ada defisit 160.658 ton. “Kebutuhan itu dimobilisasi dari Pulau Sulawesi (Sulawesi Selatan), Pulau Jawa (Jawa Timur), dan sebagian dari Kalimantan Selatan. Jadi, Kaltim mengalami krisis. Bahkan di dua kabupaten yang menjadi lumbung pangan juga mengalami krisis dan tantangan,” ucapnya.

Sementara itu, ekonom Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Aji Sofyan Effendi mengatakan, urusan pertambangan batu bara yang diambil alih pemerintah pusat seharusnya menjadi ajang daerah untuk becermin. Hingga mengapa pemerintah pusat mengambil alih perizinan. Sejak 2017 sampai sekarang terdapat 107 eks lubang tambang yang membuat 33 orang meninggal dunia. “Jangan-jangan daerah gagal,” ujarnya. Kenyataannya ada 33 orang meninggal dunia akibat lubang tambang dan 322 hektare luasan kehancuran efek semua itu.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 15 Januari 2021 15:00

Pembatasan Kegiatan Sudah Tepat, Cuma Dua Pekan, Asosiasi Perhotelan: Ini Bukan Pelarangan

PPKM tidak langsung melumpuhkan roda usaha. Melainkan membatasi interaksi. Pemerintah…

Jumat, 15 Januari 2021 13:12

Bentuk Kekebalan, Kaltim Butuh 4,5 Juta Dosis Vaksin

SAMARINDA-Kaltim memerlukan jutaan dosis vaksin lagi agar terbentuk kekebalan kelompok…

Jumat, 15 Januari 2021 13:10

Usai Belajar Daring, Bocah Diterkam Buaya

SANGATTA–“Monster” Sangatta kembali beraksi Kamis (14/1) sekitar pukul 12.00 Wita.…

Jumat, 15 Januari 2021 12:07

Bantu Gempa di Mamuju, Basarnas dari Balikpapan Kirim 27 Personil

SAMARINDA - Basarnas di Balikpapan mengirimkan 27 personil untuk membantu…

Jumat, 15 Januari 2021 12:06

Berpulangnya Ulama Teduh Syekh Ali Jaber, Bercita-cita Mencetak 1 Juta Penghafal Al-Qur’an

Dakwah-dakwahnya yang sejuk juga mewujud dalam laku keseharian Syekh Ali…

Jumat, 15 Januari 2021 12:02

Gempa di Sulbar Terasa di Kaltim, Banjir Besar di Kalsel

BALIKPAPAN-Gempa bumi mengguncang Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) kemarin (14/1).…

Jumat, 15 Januari 2021 11:03

Pemerintah Janji Laksanakan Seluruh Rekomendasi Komnas HAM

JAKARTA- Pemerintah menerima laporan penyelidikan peristiwa penembakan enam anggota Laskar…

Jumat, 15 Januari 2021 10:54

Kasus HAM Tugas Penting Kapolri Baru

JAKARTA- Komisi III DPR RI akan melakukan fit and proper…

Kamis, 14 Januari 2021 16:31

Duh Ngeri..Bocah di Sangatta Kembali Diterkam Buaya

Buaya di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, dikabarkan kembali memakan…

Kamis, 14 Januari 2021 13:37

Sengketa Pilkada Balikpapan, Kukar dan Kutim di MK, Jadwal Sidang Diumumkan 18 Januari

TAHAPAN Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 segera berakhir. Bagi pasangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers