MANAGED BY:
RABU
01 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Senin, 04 Januari 2021 11:22
Kasus Tambang 9 Tahun Tanpa Hasil, Pengamat Sebut Aparat Kurang Tegas dengan Aturan
BELUM JELAS: Salah satu kasus tambang yang belum selesai yakni temuan di belakang kantor Bawaslu Kaltim.

Sembilan tahun kasus tenggelamnya anak-anak tewas di lubang tambang tak kunjung selesai. Penyelidikan yang dilakukan hanya berjalan di tempat. Tak banyak yang membuahkan hasil.

 

SAMARINDA–Dari 16 kasus anak meninggal di kolam bekas kerukan “emas hitam”, satu kasus yang sampai ke meja hijau. Sisanya masih mengambang.

Kasus meninggalnya anak di lubang tambang terakhir terjadi di Jalan P Suryanata, Gang Saka, Kecamatan Samarinda Ulu. Sejatinya, di kejadian tersebut, jajaran Polsek Samarinda Ulu sudah pernah mengajukan surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) pada 2 Juli 2019. Terlapor dalam perkara tersebut merupakan warga sekitar, yakni Armain dan Abidin Yansyah. Mereka juga mengakui aktivitas terselubung tersebut. Anehnya, korps berseragam cokelat tak menentukan siapa yang harus bertanggung jawab. Lubang bekas galian tambang itu berstatus tidak resmi, alias ilegal. Lantaran lokasinya berada di konsesi milik PT Insani Bara Perkasa (IBP), yang disebut perusahaan sudah melakukan backfill (penutupan lubang).

Kasus meninggalnya para penerus bangsa di lubang tambang itu mencuri perhatian publik. Termasuk Herdiansyah Hamzah, pengamat hukum sekaligus dosen di Universitas Mulawarman (Unmul).

Pria yang akrab disapa Castro itu menuturkan, jika SPDP sudah dikeluarkan, seharusnya peristiwa pidanaya telah terkonfirmasi. Proses itu untuk menemukan tersangka tindak pidana dalam peristiwa hilangnya nyawa manusia di bekas lubang tambang tersebut.

"Artinya, memang benar ada tindak pidana dalam peristiwa yang diselidiki. Tinggal bagaimana penyidik mencari serta mengumpulkan bukti, sehingga membuat terang tindak pidana yang terjadi," katanya.

Namun, kasus meninggalnya anak di lubang tambang itu dibuat menggantung. Aparat penegak hukum juga tak pernah memberikan penjelasan secara detail sejauh mana proses hukum serta kendala yang dihadapi dalam penyelidikan. Bahkan cenderung tertutup dan belum transparan.

"Dalam beberapa kasus, malah yang mengemuka adalah alasan yang tidak rasional. Semisal kasus tidak dilanjutkan karena korban sudah diberikan tali asih oleh perusahaan, orangtua korban sudah membuat surat pernyataan tidak menggugat, hingga alasan korban adalah penyandang disabilitas. Jelas alasan itu konyol dan makin mengoyak rasa keadilan publik, terutama keluarga korban. Baik tali asih maupun surat pernyataan orangtua korban, tidak membuat pidananya terhapus. Proses hukum mestinya tetap lanjut," terangnya.

Melihat tak ada perubahan penanganan kasus tersebut, Castro menilai, tidak ada keseriusan pemecahan kasus yang ditangani. Ia juga mempertanyakan tingkat profesionalitas kepolisian. Bahkan dirinya menilai kasus yang berlarut-larut itu mengindikasikan kepolisian akan mengajukan surat pemberhentian penyidikan perkara (SP3).

"Itu bukan sekadar soal ketidakseriusan, tetapi kalau kasusnya terlunta-lunta alias tidak ditangani serius, mengindikasikan akan dikeluarkannya SP3. Sementara satu sisi, kepolisian belum terbuka dan transparan ke publik, apa sesungguhnya masalah sehingga kasus tidak ditangani. Enggak salah publik kalau akhirnya berkesimpulan pemerintah bersama aparat penegak hukum lebih tunduk kepada para pemodal dibanding rasa keadilan publik," ucapnya.

Sebelumnya, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman mengatakan, masih melanjutkan penyelidikan terkait kasus tenggelam anak di lubang tambang. Belum usainya pengungkapan kasus tersebut lantaran belum cukup alat bukti. "Untuk melanjutkan kasus (lubang tambang) itu harus ada alat bukti. Nanti saya cek lagi. Kalau 2020 tidak ada (kasus lubang tambang), tapi 2019 ke bawah yang banyak. Banyak juga di wilayah lain, tapi kalau di Samarinda akan saya cek lagi. Saya mohon waktu," katanya. (*/dad/dra/k16)


BACA JUGA

Selasa, 30 November 2021 17:51

Ketika Ibu-ibu Berlenggak-Lenggok Ramaikan Lomba Fashion Show

Dalam rangka perayaan HUT ke-22 Dharma Wanita Persatuan (DWP), para…

Selasa, 30 November 2021 17:46

Kaltim tak Masuk Destinasi Wisata Prioritas, Isran ke Sandiaga: Apa Sebabnya? Marah Apa Sentimen Ini

SAMARINDA - Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor menyebut Sandiaga Uno…

Selasa, 30 November 2021 17:32

Cerita Sandiaga Uno Dibawa ke Kampung Nasi Kuning Samarinda, Batal Makan Tapi Jadi Sasaran Emak-emak Berfoto

SAMARINDA - Menteri Pariwisata Sandiaga Uno melakukan kunjungan kerja ke…

Selasa, 30 November 2021 17:30

TP-PKK dan PMI Kaltim Laksanakan Vaksinasi di Bigmall, Siapkan 1.500 Dosis

SAMARINDA - Vaksinasi terus digalakkan di Kaltim. Kali ini Tim…

Selasa, 30 November 2021 10:49

Uji Kompetensi PTT Rampung, Beri Banyak Kelonggaran

SAMARINDA–Gelaran uji kompetensi bagi pegawai tidak tetap (PTT), baik berstatus…

Senin, 29 November 2021 21:39

Koperasi Binaan Pama Baya Sukses Gelar Gathering Tabungan Koin

TENGGARONG- Sebagai bentuk kekompakan seluruh anggota Koperasi yang tergabung kedalam…

Senin, 29 November 2021 20:47

Baristand Industri Samarinda Gelar BISa Priority Gathering 

SAMARINDA- Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Samarinda menggelar temu…

Senin, 29 November 2021 15:59

Ini Pengakuan Sarjana yang Menganggur Bagaimana Cara Membuat Uang Palsu

SAMARINDA - Tersangka MT 31 tahun yang lulusan sarjana komputer…

Senin, 29 November 2021 14:16

Membuat dan Edarkan Uang Palsu, Lulusan Sarjana tapi Pengangguran Ini Diringkus Polisi 

SAMARINDA - Jajaran Polsek Samarinda Kota meringkus pria 31 tahun…

Senin, 29 November 2021 13:29

BPJS Ketenagakerjaan Laksanakan Vaksinasi Tahap Kedua

BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) berkomitmen penuh mendukung percepatan cakupan program pemerintah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers